Primadona
“Kalau anda ingin mengucapkan selamat atau sekedar memberi bunga pada primadona kami, anda bisa mendatangi kamar gantinya selesai pertunjukkan nanti. Itu yang biasanya mereka lakukan. Kalau Tara sedang senang, dia tidak keberatan melayani penggemarnya. Tapi kalau anda orang baru, jangan harap anda bisa langsung membuatnya menoleh. Kecuali anda benar-benar spesial,” jelas bartender dengan lancar, seolah sudah ratusan kali dia mengulang kalimat itu.
Saya memandangnya. Bartender itu tersenyum pengertian sambil terus membersihkan gelas-gelas kristal di tangannya. Begitulah kalimat yang saya dengar ketika saya bertanya mengenai primadona kelab malam ini.
“Tambahkan scotch saya,” kata saya kemudian.
“Anda akan menemui Tara?”
“Saya akan kembali pada pertunjukkan berikutnya.”
The Words
Aku tidak mungkin mengkhianatimu
Aku tidak akan mengecewakanmu
Aku tidak mau menyakitimu
Aku masih menyayangimu
………………………………….
Andini mencoba mengulang-ulang kalimat-kalimat itu dalam hati, memfokuskan hati dan pikirannya pada seseorang. Dia mengeluh dalam hati. Kenapa dia harus melakukan ini kalau dia memang mencintainya? Kalau memang begitu kenapa perasaan gundah ini tidak mau hilang dari hatinya?
Indra, apa yang harus kulakukan?
Jam di dinding menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Hari ini hari pertama di bulan Januari. Pagi ini tampak cerah dan kehidupan sudah berdenyut seperti biasa. Matahari tidak ragu memberikan segala keindahanya. Burung tidak sungkan memperdengarkan kicauannya. Dunia seolah bernyanyi, selamat datang tahun baru.
Andini memandang meja riasnya. Sebuah pigura kecil yang anggun berdiri di sudutnya, memuat fotonya bersama seseorang. Seseorang yang selama beberapa tahun ini telah memenuhi seluruh hati dan pikirannya. Seseorang yang telah membuatnya berpikir kepadanyalah dia akan mempersembahkan seluruh dirinya, membagi impiannya dan menghabiskan sisa hidupnya.
Dakon
Nduk, belikan ibu dakon, ya?
Tolong belikan ibu dakon yang terbuat dari kayu, jangan yang terbuat dari plastik. Dakon plastik mudah pecah. Pilihkan juga yang menakai penyangga supaya bisa berdiri dan tidak mudah tergelincir. Jangan lupa lengkapi dengan biji keong, jangan biji sawo. Biji sawo suaranya lirih. Biji keong suaranya jelas dan keras.
Maka hari itu aku membelikan ibu sebuah dakon dari kayu dengan kaki penyangga dan biji keong. Harganya lebih mahal daripada dakon plastik dengan biji sawo. Lubang-lubangnya sebesar bola tenis. Warnanya merah dengan ukiran bercat emas, terang dan cerah, sama cerah dengan wajah ibu ketika menerimanya.
Ibu meletakkan dakon itu di teras. Ibu duduk disampingnya sambil membagi-bagi biji keong, tujuh-tujuh pada setiap lubang. Semuanya ada empat belas lubang, tujuh di sisi kanan dan tujuh di sisi kiri. Ibu mulai memilih satu lubang. Mengambil keong segenggam dan menjatuhkan biji-biji keong itu satu persatu pada lubang-lubang lainnya dengan teliti.
Kenapa ibu main dakon sendirian?
Diam, nduk. Ibu sedang berbicara dengan dakon.
Dakon tidak bisa diajak bicara, Bu.
Tapi dakon bisa mendengarkan.
Aku tidak tahu harus berkata apa sementara ibu mulai bercerita.
****
Ibuku, Nduk, seperti Raden Ajeng orangnya. Bapakku, Nduk, bukan bangsawan tapi mandor kebun milik orang Belanda. Waktu itu, kalau kerja dengan Belanda berarti dianggap priyayi. Rumahnya besar, ada pendoponya, ada bendinya, ada kacungnya, ada si mboknya dan ada prajurit jaganya. Itu sebabnya ibuku hidup seperti Raden Ajeng. Punya anak sembilan berarti si mboknya juga ada sembilan. Setiap hari ibuku suka jalan-jalan ke pasar menggunakan bendi ditemani kacung yang memegang payung. Ibuku selalu membawa kipas dan memakai kebaya-kebaya yang bagus. Emasnya melingkar dan menggantung di sana sini. Ibuku benar-benar berlagak menjadi Raden Ajeng. sehingga kamipun mulai memanggilnya Raden Ajeng. Sayangnya, dia suka berjudi dan merokok, tertawa dan berpegangan dengan lelaki. Tingkahnya lebih mirip lonte daripada raden ajeng. Read the rest of this entry »
Secangkir kopi Untuk Suami
Jeni tahu benar secangkir kopi di pagi hari adalah kesukaan suaminya. Dia bahkan terlalu suka kopi hingga bisa terbangun saat menghirup aromanya. Tujuh tahun usia pernikahan mereka tidak pernah sekalipun dia melupakan kewajibannya. Sepanjang laki-laki itu bersamanya, secangkir kopi selalu dia hidangkan, kadang di meja makan, kadang di sisi ranjang sebagai pengganti jam beker yang berisik dan, katanya, ketinggalan jaman. Tapi pagi ini dia ragu.
Haruskah kuhidangkan secangkir kopi seperti biasanya?
Dia terduduk gelisah di ujung ranjang. Laki-laki itu masih suaminya. Dia masih istrinya. Mereka berada di bawah atap yang sama. Tapi laki-laki itu tidak bersamanya. Dia bersama perempuan lain, gadis ingusan yang katanya dikenalnya baru-baru ini, yang tiba-tiba saja dinikahinya kemarin, yang kali ini berada di sisi laki-laki itu. Maka sudah sewajarnya kewajiban itu beralih menjadi kewajiban gadis ingusan itu.
Hujan
Sudah bebera menit Irin berdiri di dekat jendela rumah kami. Mata kecilnya memandang langit yang perlahan mulai berubah warna menjadi kelabu cepat dengan cemas. Garis-garis kecemasan makin tergambar jelas di wajahnya. Bunyi guntur mulai terdengar disusul gemuruh aneh sayup di kejauhan. Mungkin hujan yang luar biasa lebat sudah turun di wilayah itu. Sekelompok burung kecil terbang rendah berputar-putar. Kata orang, mereka adalah burung-burung hujan. Mereka selalu muncul bergerombol saat mendung gelap menggantung dan menghilang saat hutan hujan lebat turun.
Aku pernah mencoba mengamati burung-burung itu dengan lebih teliti. Apa keistimewaannya sehingga mereka bisa memanggil hujan? Apakah mereka memiliki gelombang suara khusus yang bisa menarik air turun ke bumi atau bagaimana? Salah satu dari mereka pernah terjebak masuk ke teras kami. Suamiku menangkapnya dan aku memeriksanya. Ternyata mereka tidak lebih dari burung gereja biasa yang baru saja berpesta di sawah di dekat rumah kami dan hanya sekedar ingin pulang ke sarangnya sebelum terperangkap dalam hujan. Mitos itu tidak benar. Mereka tidak bisa memanggil hujan. Sayangnya, Irin masih menganggap itu benar. Dia tidak menyukai kehadiran mereka.
“Mau sampai kapan Irin berdiri di situ terus?”
Welcome to Death_room
“Millia! Aku melihatnya! Dia datang!”
Suara Julie terdengar ketakutan.
“Siapa?”
Millia memperkeras cengkeramannya pada ponselnya tanpa sadar.
“4li3n!”
Millia membeku sesaat.
“Kita mati, Millia!”
Jullie terdengar ingin menangis.
“Julie!”
“Millia..aku..-“
Terputus.
Millia tersentak.
“Julie!”
Julie, apa yang terjadi denganmu?
********************************
Awalnya Millia hanya merasa bosan dengan pekerjaannya ketika memutuskan bergabung dengan Lady_Room, chat room via ponsel yang beranggotakan para user perempuan yang membahas masalah-masalah seputar dunia perempuan itu. Dia berkenalan dengan Julie yang kemudian memperkenalkan dia dengan user tetap Lady_Room lainnya. Read the rest of this entry »
Anomali
“Anomali,” katamu suatu sore, saat kita kembali menghabiskan waktu di café favorit kita.
Aku menoleh.
“Menurutmu apa itu?”
Aku berpikir sesaat.
“Chaos, ketidakteraturan. Sesuatu yang menyimpang dari hukum atau aturan yang seharusnya,” jawabku terheran-heran dengan pertanyaan yang kau ajukan. Kau tersenyum seperti biasa.
Penantian (Prince of Tennis fanfic)
Ada sebuah legenda yang mengatakan jauh di ujung utara Jepang terdapat suatu daerah bernama Osorezan, dimana di sekitarnya mengalir sungai Sanzu yang dipercaya sebagai perbatasan antara dunia manusia dengan dunia arwah. Para arwah yang ingin mencapai akherat terlebih dahulu harus menyeberangi sungai itu melalui sebuah jembatan. Mereka yang tidak mampu menyeberang adalah para arwah yang terperangkap sebagai arwah penasaran di dunia manusia. Mereka yang mampu menyeberang dengan mudah adalah para arwah yang berbuat banyak kebajikan dalam hidupnya. Namun tidak semua arwah yang baik bersedia segera menyeberangi jembatan itu. Beberapa dari mereka memilih untuk berhenti di depan jembatan dan menunggu.
***********************
“Fuji-san.”
Fuji Syusuke memandang dua penjaga arwah yang kini mendekatinya itu dengan tertarik. Keduanya pendek dan identik. Wajah mereka rata dan mereka sama-sama mengenakan sesuatu yang tampak seperti pakaian tradisional Jepang dengan selendang-selendang panjang yang halus berkilauan. Walaupun dia nyaris tidak bisa menemukan bentuk mulut pada wajah kedua arwah penjaga itu, namun jelas sekali dia mendengar suara mereka bergaung dalam pikirannya. Fuji menganggapnya menarik.
“Kenapa anda tidak melanjutkan perjalanan?” tanya salah seorang dari mereka.
Malaikat Kecil
Tersebutlah seorang anak perempuan yang telah merebut hati banyak orang. Orang-orang menyebutnya “malaikat kecil”. Wajahnya cantik dan lucu, tingkahnya menggemaskan, suara jernihnya melenakan, tangisnya menyesakkan (siapapun mereka tidak akan tega lama-lama mendengarkan tangisa malaikat kecil ini) dan kecerdasannya mengagumkan. Umurnya belum genap tiga tahun tapi dia sudah mampu menghapal kalimat-kalimat dalam bahasa asing.
Dia hafal sejumlah lagu dalam bahasa asing. Dia bahkan mampu berceloteh untuk sekedar menegur kedua orang tuanya atau menggoda saudara-saudara dan orang-orang di sekitarnya. Semua orang tersenyum padanya, menyapanya, mencubit pipinya dan berkata lemah-lembut di hadapannya.
Orang tuanya menyayangi sang malaikat kecil. Mereka bangga padanya. Mereka merasa sangat diberkahi dengan kehadiran malaikat kecil yang berhasil membuat siapa saja jatuh cinta padanya. Read the rest of this entry »
Inspirasi
Setiap pagi saya selalu memperhatikannya dari sudut jendela kamar saya sambil menikmati secangkir kopi hangat bahkan sebelum saya melakukan aktivitas apapun. Tidak ada alasan khusus kenapa saya lakukan ini setiap hari belakangan ini. Bangun tidur, membuat secangkir kopi, memandang jam, melangkah menuju jendela kamar saya dan menunggunya datang.
Semuanya berasal dari hari itu. Saat saya terbangun terhuyung-huyung pagi itu karena jam tidur yang kurang semalam. Saya mendekati cermin dan menghela nafas mendapatkan lingkaran hitam itu menghiasi mata saya yang lembek kemerahan. Saya menyalahkan diri saya. Saya membutuhkan kejernihan pikiran saya. Apa yang terjadi dengan diri saya sehingga saya harus menderita seperti ini? Read the rest of this entry »






