Dakon

January 3, 2010 at 2:48 am (Uncategorized)

Nduk, belikan ibu dakon, ya?

Tolong belikan ibu dakon yang terbuat dari kayu, jangan yang terbuat dari plastik.  Dakon plastik mudah pecah.  Pilihkan juga yang menakai penyangga supaya bisa berdiri dan tidak mudah tergelincir.  Jangan lupa lengkapi dengan biji keong, jangan biji sawo.  Biji sawo suaranya lirih.  Biji keong suaranya jelas dan keras.

Maka hari itu aku membelikan ibu sebuah dakon dari kayu dengan kaki penyangga dan biji keong.  Harganya lebih mahal daripada dakon plastik dengan biji sawo.  Lubang-lubangnya sebesar bola tenis.  Warnanya merah dengan ukiran bercat emas, terang dan cerah, sama cerah dengan wajah ibu ketika menerimanya.

Ibu meletakkan dakon itu di teras.  Ibu duduk disampingnya sambil membagi-bagi biji keong, tujuh-tujuh pada setiap lubang.  Semuanya ada empat belas lubang, tujuh di sisi kanan dan tujuh di sisi kiri.  Ibu mulai memilih satu lubang.  Mengambil keong segenggam dan menjatuhkan biji-biji keong itu satu persatu pada lubang-lubang lainnya dengan teliti.

Kenapa ibu main dakon sendirian?

Diam, nduk.  Ibu sedang berbicara dengan dakon.

Dakon tidak bisa diajak bicara, Bu.

Tapi dakon bisa mendengarkan.

Aku tidak tahu harus berkata apa sementara ibu mulai bercerita.

****

Ibuku, Nduk, seperti Raden Ajeng orangnya.  Bapakku, Nduk, bukan bangsawan tapi mandor kebun milik orang Belanda.  Waktu itu, kalau kerja dengan Belanda berarti dianggap priyayi.  Rumahnya besar, ada pendoponya, ada bendinya, ada kacungnya, ada si mboknya dan ada prajurit jaganya.  Itu sebabnya ibuku hidup seperti Raden Ajeng.  Punya anak sembilan berarti si mboknya juga ada sembilan.  Setiap hari ibuku suka jalan-jalan ke pasar menggunakan bendi ditemani kacung yang memegang payung.  Ibuku selalu membawa kipas dan memakai kebaya-kebaya yang bagus.  Emasnya melingkar dan menggantung di sana sini.  Ibuku benar-benar berlagak menjadi Raden Ajeng. sehingga kamipun mulai memanggilnya Raden Ajeng.  Sayangnya, dia suka berjudi dan merokok, tertawa dan berpegangan dengan lelaki.  Tingkahnya lebih mirip lonte daripada raden ajeng.Aku, Nduk, sering kesepian.  Raden ajeng tidak suka mengurus anak.  Urusan anak selalu diserahkan kepada si Mbok masing-masing anak.  Setelah melahirkan dia segera menguruskan badan dan kembali bersiap jalan-jalan.  Setiap pagi aku selalu melihat dia berdandan dengan perlengkapan yang dia beli dari kenalan pedagang Arab atau Tionghoa.  Setiap hari aku akan mendengar suaranya yang nyaring berseru memanggil kacung agar menyiapkan bendi.  Kemudian aku akan melihat punggung rampingnya berlalu pergi.

Suatu hari aku ingin ibuku.  Aku ingin bermain bersamanya.  Maka pagi itu aku mendekati Raden ajeng yang sedang berdandan.  Raden ajeng diam saja, tidak berkata bahkan menoleh padaku.  Tangannya bahkan masih sibuk memasang tusuk konde ketika dia memanggil si Mbok.  Aku termangu.  Raden ajeng tidak mau memandangku.  Justru si Mbok yang kemudian mendekatiku.

”Den Rara main sama Mbok, ya?”

”Tidak mau.  Aku ingin main dengan ibu.”

”Bawa dia keluar, mbok!”

Suara raden Ajeng terdengar melengking tidak sabar.

Ibu Den rara sedang sibuk.  Mari main di pendopo saja,”

Si Mbok mencoba membujukku.  Aku tergoda.  Entah kenapa sulit bagiku berkata tidak pada si Mbok.

”Mau main apa, mbok?”

”Mari saya ajarkan main dakon.”

Jadi, Nduk, si Mbok lalu mengajarkan dakon padaku.  Aku langsung menyukai permainan itu.  Aku tidak peduli lagi dengan ibuku.  Dakon sangat mengasyikan.  Suaranya ramai hingga mampu menutupi kesepianku.  Saudaraku juga suka main dakon.  Tapi aku tidak terlalu suka bermain bersama mereka.  Mereka selalu berisik.  Kadang mereka tidak suka kalah dariku. Kadang mereka suka curang padaku. Bermain bersama juga membuat keong cepat habis.    Aku suka main dakon sendirian.  Mbok selalu duduk disampingku sambil melantunkan kidung merdu, kadang Gambuh, kadang Megatruh, kadang yang lainnya.

Bapakku, Nduk, seorang mandor tebu.  Priyayi yang terpandang tapi tertekan.  Raden Ajeng selalu mendominasi rumah tangga.  Suaranya paling sering terdengar dan paling keras.  Perintahnya paling sering keluar.  Omelannya paling sering mengalir.  Raden ajeng mengatur segalanya.  Bapakku hanya diam mengelus dada.  Orang-orang bilang ibuku berjudi dan menggoda lelaki.  Bapakku diam.  Tapi diam ada batasnya.  Bapakku jatuh sakit dan meninggal.  Raden ajeng berkabung.  Tapi hanya dua hari.  Besoknya dia kembali panggil kacung untuk menyiapkan bendi.

Tapi aku sedih, Nduk.  Sedihku sampai tujuh hari tujuh malam.  Saudaraku juga sedih.  Ada yang lama, ada yang sebentar.  Tapi tidak mau ditunjukkan.  Mereka tidak menunjukkan, maka aku juga tidak mau menunjukkan.  Tapi aku sedih.  Sungguh.  Aku teringat pada dakon.  Dia tidak mungkin menganggap aku lemah atau cengeng.  Aku ingin dengar dentingan keongnya.  Aku mengambil dakon.  Aku ingin mengenang bapak.  Tapi aku tidak ingin terus bersedih.   Akupun main dakon.

Raden ajeng kalah taruhan judi.  Beritanya terdengar sampai para tetangga.  Mereka bilang kehormatan dan harta benda adalah taruhannya.  Raden ajeng pulang dengan kusut.  Kusutnya sekusut jarik si mbok yang menemaniku.  Rambutnya semasai ekor Ki Ageng,  kuda tua peninggalan bapak.  Aku mendapatkan rumah besar kami kosong dengan cepat.  Perabotnya dijual untuk bayar taruhan.  Para kacung dan para mbok mulai berhenti karena Raden ajeng tidak bisa bayar gaji.  Rumah dan pendopo tiba-tiba jadi sepi.  Raden ajeng terus merokok di kamar.  Saudara-saudaraku juga mulai pergi.   Mereka diambil oleh para bude dari Solo dan Wonogiri.  Mereka bilang Raden ajeng sedang kena karma.  Tapi aku tidak ingin meninggalkan perempuan yang sedang terkena karma.  Maka akupun menemaninya bersama satu-satunya si mbok yang masih tersisa.  Kadang saat sepi menyerang, aku merasa nelangsa.  Aku ingat bapak dan mbakyu.  Aku ingat para kacung dan para mbok.

Akupun main dakon.

Air mataku bergulir bahagia karena aku bisa melihat mereka di antara dentingan suara biji keong.  Halaman dan pendopo tiba-tiba menjadi ramai seperti dulu.  Aku terkejut dan berhenti.  Secepat angin, semuanya tiba-tiba menghilang.  Aku menangis sesengukan.  Si mbok tergopoh-gopoh datang.

”Den rara kenapa?”

”Aku kangen orang-orang, mbok.”

”Den rara main lagi, ya?”

Aku mengangguk.

Aku lantas main dakon dan kembali bahagia.

Walaupun saat itu hanya aku seorang, putri Raden ajeng yang tinggal, Raden ajeng tetap tidak suka padaku.  Dia sering membentak, bahkan memukulku.  Kami jatuh miskin.  Raden ajeng tidak bisa berdandan dan jalan-jalan, maka dia membentakku.  Raden ajeng tidak bisa taruhan di judi dan dijauhi teman-temannya, maka dia memukulku.  Raden ajeng mulai jual diri.  Setiap malam dia berganti lelaki.  Perhiasannya mulai kembali.   Dia mulai bisa jalan-jalan pakai bendi para bendoro itu.   Tapi aku tetap miskin bersama si mbok dan dakonku.  Di pasar anak-anak melempariku sambil berteriak-teriak,

”Anak pelacur!  Anak pelacur!  Kalau besar nanti jadi pelacur juga!”

Aku menangis.  Si mbok mengusir mereka.  Sampai di rumah aku mencari dakonku dan mulai bermain.  Aku melihat bapak datang dan para mbok dan kacung memenuhi halaman dan pendopo.  Aku tersenyum senang.  Aku tahu aku bukan anak pelacur.  Aku anak bapakku, seorang mandor di perkebunan Belanda, yang jabatannya setingkat demang.  Aku bukan anak pelacur karena pelacur tidak mungkin punya banyak abdi.

Aku terus main dakon.

Raden ajeng marah besar.  Dia dengar bendoro tumenggungnya punya kekasih baru.  Kata orang, gadis itu bekas penari keraton, bekas teman tidur sinuhun.  Bendoro tumenggung lebih menyukai mantan penari keraton itu daripada mantan istri mandor.  Raden ajeng ingin mengguna-gunai gadis itu, tapi dia tidak punya uang untuk membayar dukun.  Maka dia marah-marah sepanjang hari.  Aku ingin menghiburnya.  Tapi ketika aku mendekat, dia malah mengamuk dan menyebutku anak sialan.  Aku gemetar, tidak mengerti apa maksud ucapannya.  Aku menjerit ketika Raden ajeng menjambak rambutku dan mendorongku.  Aku menangis.  Si mbok datang tergopoh-gopoh dan langsung memelukku.

Ingat, den Ajeng,” seru si Mbok.  ”Den rara putri anda.  Apa salah dia?”

Raden ajeng berteriak marah,  Katanya kesalahanku adalah karena aku muncul dalam hidupnya.  Aku membuatnya merasa begitu tua.  Dibanding gadis penari itu, dia hanyalah seorang janda dengan anak perempuan yang mulai beranjak remaja.  Dia mengusir kami seperti orang gila.  Si mbok menarikku menyingkir ke dapur.  Aku berlari mengikuti si mbok sambil terisak-isak.  Tapi raden ajeng terus mengejar kami.

”Minggat kalian!  Minggat!!”  Katanya.

Tiba-tiba aku  mendengar bunyi bergemeratak disusul jeritan Raden ajeng.  Aku menoleh kaget.  Rupanya raden ajeng menabrak pawon dan menumpahkan kuali berisi air panas.  Air itu tumpah mengenai kaki kanannya.  Raden ajeng terduduk, tampak kesakitan luar biasa.  Matanya membelalak melihat kakinya yang melepuh.  Aku tidak tahan.

”Ibu!”  jeritku.  Tapi si Mbok menahan tanganku dan tetap membawaku ke luar dari rumah pendopo kami.

”Kita ke tempat salah satu bude di Solo,” kata si Mbok.

”Tapi aku tidak bisa meninggalkan ibu.”

”Sudah saatnya anda juga pergi, Den.”

Aku menangis.  Aku tidak sempat menengok bagaimana keadaan ibuku.  Aku mengikuti si mbok ke Solo.  Budeku penjual kain di pasar dekat keraton Mangkunegaran.  Ketika melihatku, budeku senang bukan main.  Budeku tidak punya anak.  Jadi dia menerimaku dengan gembira.  Budeku dan suaminya memperlakukan aku dengan baik.  Setiap hari aku membantu bude berjualan batik dan beras di pasar.  Seharusnya aku bahagia.  Tapi aku malah teringat dengan raden ajeng.  Bagaimana keadaannya sekarang?  Bagaimana luka bakar di kakinya?  Saat aku teringat dengan Bapak dan rumah pendopo,  aku mulai mencari dakon.  Tapi aku tidak membawa dakonku yang lama.  Maka aku meminta si mbok untuk membelikan aku dakon yang baru.

Aku kembali berman dakon dan melihat mereka.  Aku melihat rumah pendopo.  Aku melihat bapak, saudara-saudaraku, para kacung dan para si Mbok.  Aku kembali tinggal di sana.

Suami budeku seorang seniman.  Dia pelatih tari dan seorang tukang gambar.  Suatu hari dia memintaku untuk mencoba menari.  Aku menggeleng tidak bisa.  Maka dia mengajariku berlatih mendhak dan sembah.  Aku langsung bisa.  Katanya aku punya postur tubuh yang bagus.  Dia mengajariku buang sampur dan trisik.  Kata Pakde aku bisa jadi penari keraton.  Mendengar itu aku teringat dengan penari keraton musuh raden ajeng.  Aku tidak mau.  Tapi pakde membujukku untuk mempelajari satu tarian dulu sebelum memutuskan untuk menolak.   Aku tidak bisa menolak.   Ternyata setelah kucoba menari, aku justru merasa bahagia.  Aku menyukai tari.  Maka  akupun mulai belajar menari.

Bedhaya Anglir mendhung tarian sakral yang sangat sulit.  Tapi aku bisa menguasainya dengan baik.  Pakde membawa aku ke keraton karena aku akan menari di depan sinuhun.  Umurku 15 waktu itu, NdukBude berseloroh siapa tahu ada pangeran yang tertarik padaku dan membawaku.  Jadi gundik bendoropun tak apa.  Tapi aku tidak mau jadi simpanan para bendoro pangeran.  Aku tidak mau ada orang yang membenciku begitu rupa seperti Raden ajeng membenci bekas penari keraton itu.  Jadi aku sama sekali tidak  mempedulikan pandangan-pandangan terpesona para pangeran itu.  Aku hanya ingin menari hingga aku merasa sesuatu menyengat punggungku.  Aku mencuri lihat dan mendapatkan sepasang mata seorang ibu menatapku, tajam sekaligus lembut penuh perhatian.  Aneh, Nduk, karena saat itu aku merasa sangat berdebar.  Seperti ada yang berbisik perempuan itu akan berpengaruh besar dalam merubah takdir hidupku.  Aku ingin tahu siapa dia, tapi aku harus konsentrasi.

Namanya Nyi Lasem, pemipis dan peramu jamu para putri keraton.  Suaminya seorang prajurit dalem.  Dia punya tiga orang anak laki-laki.  Yang paling tua adalah seorang prajurit muda. Dia mendekatiku selesai pertunjukkan dan bertanya apakah aku bersedia dijodohkan dengan anak laki-lakinya.  Dia ingin aku menjadi menantunya.  Aku memerah malu.  Aku bilang, itu terserah Pakde dan Bude.

Pakde ternyata mengenal Nyi Lasem.  Dia bilang anak laki-laki Nyi Lasem juga penari.  Dia bagus dan gagah seperti Djanoko dan masih bujangan.  Bude bilang aku harus menerima lamaran itu.  Aku semakin malu mendengarnya.  Beberapa hari kemudian Nyi Lasem datang bersama putranya membawa buah tangan.  Aku malu luar biasa sampai tidak berani keluar.  Pakde dan bude tertawa dan mengobrol dengan para tamu membuatku penasaran.  Aku mencoba mengintip dari balik pintu dan terkejut ketika mendapatkan sepasang mata elang menatapku.  Mereka benar, Nduk.  Anak laki-laki Nyi Lasem memang seperti Djanoko.

Aku menikah dengan anak Nyi Lasem, bapakmu, beberapa bulan kemudian.  Bapakmu orang yang sangat baik dan pengertian.  Tutur katanya halus dan lembut.  Dia memperlakukan aku seperti putri.  Aku merasa aku bisa mati tanpanya saat itu.  Aku tidak peduli walaupun aku harus berusaha keras menuruti kehendak ibu mertuaku yang ternyata tidak pernah rela berbagi anak laki-lakinya padaku.  Kadang aku tertawa dalam hati.  Nyi Lasem yang memintaku menikah dengan putranya, tapi sebenarnnya dia tidak pernah merelakan putranya menikah.  Si mbok sudah pulang kampung sejak aku menikah.  Mertuaku tidak suka dia. Tapi di luar itu semua, hidupku bahagia.  Keluarga abdi dalem punya pamor yang tidak kalah dengan bangsawan keraton.  Maka pamorku ikut naik.  Bude bilang aku beruntung.

Jaman kemerdekaan menuntut Negara Republik Indonesia membentuk tentara.  Maka para prajurit dan pemuda ditarik menjadi bakal TNI, termasuk bapakmu.  Kami mulai hidup berpindah-pindah.  Di satu pihak aku bisa terbebas dari tekanan mertuaku, di lain pihak aku mulai sering berpisah dengan bapakmu.  Sedih dan sepi rasanya.  Akupun teringat dengan dakon.  Dakonku tertinggal di rumah bude.  Maka aku memutuskan untuk membeli dakon kayu lainnya.

Aku mulai main dakon.  Aku kembali melihat bapak dan rumah pendopo.  Aku melihat para kacung dan si mbok.  Tapi kini gambaranku bertambah.  Sekarang ada gambaran bapakmu yang selalu tersenyum dan membelaiku.  Aku terus memainkan dakon saat kesepian itu melanda.  Kemudin aku teringat dengan Raden ajeng.  Bagaimana kabar dia?

Saat perang usai, pemerintah memberi kami rumah untuk menetap.  Bapakmu sudah resmi menjadi pegawai TNI.  Aku sudah melahirkan mas dan mbakyumu yang pertama.  Saat itulah aku memutuskan untuk kembali menengok rumah pendopo dan mencari kabar Raden ajeng.  Seorang teman lama mengenaliku di gerbang pendopo.

Mus?”

”Par, aku kembali,” kataku.

Kamu tambah cantik.”

”Aku sudah menikah.  Suamiku tentara republik.  Aku mencari ibuku.”

”Raden ajeng sudah tidak di rumah pendopo.  Rumah pendopo sudah dijual.  Ibumu sekarang ada di pasar, jualan kain.”

”Ibu masih hidup??”

Raden ajeng sudah sangat berubah.  Waktu aku menemuinya, dia tampak jauh lebih tua dari umurnya.  Dia sangat pendiam.  Tapi matanya berkaca-kaca ketika melihatku tiba-tiba muncul.  Kakinya yang tersiram air panas itu sekarang pincang dan menghitam.

”Mus!”

Aku gemetar.  Seumur hidupku baru sekali itu aku mendengarnya memanggil namaku.  Tiba-tiba aku sadar orang yang terduduk di hadapanku kini bukan lagi seorang raden ajeng yang menyilaukan, melainkan ibu kandungku yang sudah lama kutunggu kehadirannya.

”Ibu!”

Kami bertangisan.  Aku lantas mengajaknya tinggal bersama.  Mertuaku juga tinggal bersama kami.  Perang membuat mertuaku kehilangan penglihatannya.  Tapi aku tidak pernah keberatan merawat mereka, merawat bapakmu dan merawat kalian semua.

Aku tidak pernah merasa kesepian karena aku selalu memiliki dakon yang bisa membawaku kembali ke semua kenangan-kenangan itu.  Termasuk ketika aku harus kehilangan ibuku dan ibu mertuaku, melihat kalian menikah satu-persatu, bahkan saat ini, setelah bapakmu mendahuluiku menghadap Gusti Allah.  Berikan aku dakon, maka aku tidak akan pernah bersedih dengan hidup ini.

****

Ibu, mau sampai kapan bermain dakon?  Dan tolong berhentilah mendongeng.  Aku sudah tahu cerita selanjutnya.

Nduk.  Kau bisa menyuruhku berhenti bercerita, tapi jangan suruh aku berhenti main dakon.

Kenapa?

Karena dengan begini aku bisa bertemu bapakmu.

Ibu, berhentilah ngelantur.

Aku tidak ngelantur.  Coba mainkan dakonnya, Nduk.  Kamu pasti akan rasakan sesuatu.

Tapi aku bukan anak kecil lagi, Bu.

Baiklah.  Tapi ingat, bila kelak kau teringat padaku, mainkanlah dakon.

Maka pada hari itu aku memandang dakon kayu milik ibu.  Dakon itu masih kokoh.  Perlahan aku meraihnya.  Aku mulai menata biji-biji keong itu, tujuh-tujuh pada setiap lubang.  Aku meraih segenggam keong dan mulai menjatuhkannya satu-persatu pada setiap lubang.  Suaranya menggema di tengah ruangan yang sunyi.  Gemanya masuk ke dalam telinga, berderak menembus pikiran.

Klak! Klak! Klak!

Tiba-tiba aku melihat bapak.  Lalu aku melihat ibu.  Mereka tersenyum lembut dan hangat padaku.

Tamat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.