Hujan

January 3, 2010 at 2:30 am (Uncategorized) (, )

Sudah bebera menit Irin berdiri di dekat jendela rumah kami.  Mata kecilnya memandang langit yang perlahan mulai berubah warna menjadi kelabu cepat dengan cemas.  Garis-garis kecemasan makin tergambar jelas di wajahnya.  Bunyi guntur mulai terdengar disusul gemuruh aneh sayup di kejauhan.  Mungkin hujan yang luar biasa lebat sudah turun di wilayah itu.  Sekelompok burung kecil terbang rendah berputar-putar.  Kata orang, mereka adalah burung-burung hujan.  Mereka selalu muncul bergerombol saat mendung gelap menggantung dan menghilang saat hutan hujan lebat turun.

Aku pernah mencoba mengamati burung-burung itu dengan lebih teliti.  Apa keistimewaannya sehingga mereka bisa memanggil hujan?  Apakah mereka memiliki gelombang suara khusus yang bisa menarik air turun ke bumi atau bagaimana?  Salah satu dari mereka pernah terjebak masuk ke teras kami.  Suamiku menangkapnya dan aku memeriksanya.  Ternyata mereka tidak lebih dari burung gereja biasa yang baru saja berpesta di sawah di dekat rumah kami dan hanya sekedar ingin pulang ke sarangnya sebelum terperangkap dalam hujan.  Mitos itu tidak benar.  Mereka tidak bisa memanggil hujan.  Sayangnya, Irin masih menganggap itu benar.  Dia tidak menyukai kehadiran mereka.

“Mau sampai kapan Irin berdiri di situ terus?”

Pertanyaanku membuat gadisku menoleh.  Aku bergerak menyalakan lampu.  Mendung membuat ruangan ini gelap.  Irin seolah tidak berminat untuk menjawab.  Dia menoleh sekilas lalu kembali memandang langitnya dengan nelangsa, seolah meratapi warna biru yang kini telah menghilang.

”Mau hujan, Ma,” katanya pelan.  Aku bisa merasakan nada kecemasan itu.  Aku menghela nafas

Lagi-lagi.

Entah sejak kapan hal ini dimulai.  Mungkin sejak musim hujan yang lalu?  Atau musim hujan sebelumnya?  Aku tidak ingat.  Irin, putriku yang baru berusia tujuh tahun itu mulai bersikap aneh terhadap hujan.  Dia selalu khawatir melihat awan tebal yang bergulung.  Dia selalu menutup telinga saat mendengar halilintar.  Dia akan lari bersembunyi di kamarnya dan menutup semua jendela dan tirai lalu meringkuk di tempat tidur saat hujan datang.  Dia akan menyelimuti dirinya dan membenamkan wajahnya dalam bantal bila suara-suara menggelegar dan bergemeratak itu makin keras.

Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan.  Aku membiarkan dia bersembunyi di kamar dan berbuat sekehendaknya.  Namun ketika gelagat itu berlanjut di setiap hujan-hujan berikutnya, aku mulai merasa perlu untuk menanyakan sebabnya.  Irin bilang hujan itu menakutkan.  Ketika kutanya alasannya, dia tidak menjawab. Aku mulai membahasnya dengan suamiku.  Menurutnya, kecemasanku berlebihan.  Itu hanya sebuah ketakutan yang wajar, sama seperti anak kecil yang takut dengan halilintar atau kegelapan.  ”Nanti juga hilang sendiri saat dewasa,” katanya

Aku tidak puas

”Ya, mau hujan,” kataku mengulang kalimat Irin.  ”Ayo kita main sesuatu di kamar,” ajakku lembut sambil membopong Dinar, adik Irin.

Irin mengangguk dengan asntusias.

Kami berbaring bertiga di tempat tidur.  Aku bertanya tentang semua pengalaman Irin hari ini di sekolah.  Dia bercerita dengan penuh semangat tentang banyak hal sambil membelai-belai punggung Dinar yang mulai mengantuk.  Hujan deras mulai turun besar-besar menimpa atap rumah kami.  Guntur mulai menggelegar.  Irin menghentikan ceritanya dan memandangku dengan panik.  Aku tersenyum lembut.  Kubelai kepalanya.

”Tidak apa-apa.  Hanya guntur.”

Irin mengangguk dan kembali menyandarkan kepalanya pada bantal dengan lebih tenang.

”Adik sudah tidur.  Irin juga tidur, ya,” kataku.

”Mama masih di sini, kan?”  tanyanya.

”Ya,” jawabku.

Irin menghela nafas lega dan mulai memejamkan mata.  Kubelai punggungnya.  Irin selalu cepat terlelap bila dibelai punggungnya.  Kadang dia memintaku menyanyikan lagu-lagu sederhana sambil menyodorkan punggungnya untuk dibelai.  Irin meringkuk makin dekat dan mulai memejamkan mata.  Kecemasan yang menggantung di wajahnya perlahan memudar, berganti dengan ekspresi damai.  Aku mengamatinya.

Dua minggu yang lalu, keluarga iparku datang berkunjung.  Kami mengajak mereka mengunjungi daerah wisata pegunungan di kota kami.   Musim hujan membuat acara rekreasi kami tidak berlangsung lama.  Siang hari mendung sudah mulai tampak menggelanyut.  Irin seperti biasa mulai tampak gelisah dan menarik-narik tanganku.  Aku mencoba menenangkannya.  Kubilang padanya tidak sopan kalau mengajak tamu kita pulang saat mereka masih menikmatiik rekreasi ini.  Mendung makin rendah dan tebal.  Beruntung tamu kami mulai berpikiran sama dengan Irin.  Mereka memutuskan untuk pulang.

Sayang sebelum kami sampai di tempat parkir, hujan sudah turun dengan lebat.  Kami terpaksa berteduh di gazebo yang memang diperuntukkan bagi para pengunjung yang ingin beristirahat.  Tapi Irin tidak sependapat dengan kami.  Tiba-tiba dia mulai merengek pulang.  Aku mencoba membujuknya dengan berkata tidak mungkin kami berhujan-hujan menuju tempat parkir.  Di luar dugaan, Irin menolak mendengarkan dan mulai menangis.  Suamiku dan adik iparku mencoba untuk ikut membujuk. Tapi tangis Irin justru makin keras, sekeras bunyi hujan yang turun makin lebat. Ketika kami tidak juga, Irin mulai menangis histeris dan meronta.  Aku hanya bisa memeluk menenangkannya sementara mata pengunjung lain memperhatikan kami.  Kejadian di tempat wisata itu tidak bisa dibiarkan.  Bagaimana kalau Irin juga bersikap semacam itu di tempat lain ketika tidak bersama dengan kami?

Mungkin suamiku benar, ketakutan Irin akan hujan bukan masalah besar.  Aku juga tidak menganggapnya sebagai sebuah phobia karena sebelumnya Irin tidak pernah bermasalah bila hujan turun.  Hal ini justru membuatku penasaran.  Segala sesuatu pasti ada sebabnya.  Ketakutan Irin yang mendadak ini pasti ada sebabnya juga.  Apakah ada hal kecil yang menyebabkannya?  Bagaimana kalau hal besar?  Bagaimana kalau sesuatu yang berhubungan dengan hujan telah dialami putri kecilku sehingga membuatnya ketakutan setengah mati.  Apakah aku telah melewatkan sesuatu?

Irin, apa yang membuatmu takut?

*************************

Hari itu mendung menggantung berat sejak siang belum menjelang.  Hujan yang biasanya turun di sore hari sepertinya akan tumpah lebih awal hari ini.  Aku memandang jam dengan sedikit khawatir.  Irin masih di sekolah.  Aku cemas dia terjebak hujan saat pulang nanti.  Aku juga memikirkan reaksi Irin apabila hujan benar-benar turun saat dia masih di sekolah.  Bagaimana reaksi teman-temannya ketika mengetahui Irin ternyata takut hujan?  Bagaimana kalau guru-gurunya tidak bisa menenangkannya?  Lebih parah lagi, bagaimana kalau kejadian di tempat wisata itu terulang kembali?

Sempat aku berpikir untuk menjemput Irin di sekolah.  Tapi Dinar sedang sakit.  Dia merengek terus tidak bisa kutinggal.  Dia juga menolak ditimang dan dilayani Diah, saudara jauh suamiku yang ikut kami sejak dua tahun lalu.  Umur Diah baru 17 tahun. Dia berasal dari desa dan kemari untuk membantuku sejak kehamilan Dinar dan menambah kehliannya di kota ini.  Aku menghela nafas pasrah.  Saat hujan turun dengan deras tepat beberapa menit sebelum bel di sekolah Irin berbunyi, aku hanya bisa berdoa Irin mampu mengendalikan dirinya di hadapan teman-teman dan gurunya.

”Mama!”

Seruan suara kecil itu terdengar dari pintu depan satu setengah jam kemudian.  Hujan sudah berhenti dan Irin terlambat sekali pulang.  Sekolahnya memang tidak terlalu jauh dari rumah, hanya sekitar 10 menit berjalan kaki.  Biasanya Irin berangkat dan pulang berjalan kaki.  Tapi tampaknya siang ini dia memilih untuk menggunakan jasa  Pak Dikin, tukang becak di dekat sekolahnya yang sudah sama-sama kami kenal.

Aku bergegas keluar menyambutnya sambil menyediakan uang becak.  Sisa-sisa hujan lebat masih terasa segar.  Titik-titik air masih menetes besar-besar di ujung-ujung daun atau melapisi pagar.  Bau lembab tanah dan tanaman yang bercampur dengan air masih tebal di udara.  Matahari tidak bersinar walaupun langit sudah jauh lebih terang dari sebelumnya.  Irin berlari mendekatiku dan langsung memeluk kakiku sementara aku mengucapkan terima kasih dan membayar jasa Pak Dikin.  Irin masih memeluk pinggangku ketika Pak Dikin berlalu.  Kubelai kepalanya dengan sayang dan kubimbing dia masuk ke dalam.  Irin tidak histeris atau menunjukkan keadaan habis menangis.  Tapi aku mengerti dia ketakutan sejak beberapa waktu yang lalu.

Aku menyiapkan makan siang sambil menunggu Irin berganti pakaian.  Gadis kecilku muncul dengan wajah yang sudah lebih cerah dari sebelumnya.  Dinar sedang tidur siang jadi kutemani Irin di meja makan.

”Gimana sekolah Irin hari ini?”

”Baik, Ma,” jawab Irin singkat sambil mulai menyuapkan makan siangnya.  ”Tadi pagi kerja bakti,” sambung Irin lagi.

”Oya?” tanyaku tertarik.

”Iya.  Tukang kebun menanam bunga baru.  Bu guru mnyuruh Irin dan teman-teman membantu

”Bunga apa?”

Irin terdiam sejenak dan berpikir.

”Krisan,” katanya pasti.

”Oh,” gumamku.  ”Apa warnanya?”

”Warna-warni,” jawab Irin.  Dia kembali melanjutkan makannya.

Aku mengamatinya sesaat.  Irin tanpak santai dan ceria.  Aku yakin dia tidak sempat menangis atau diejek temannya di sekolah tadi.  Itu artinya dia tidak menjerit histeris atau berlari ketakutan mencari tempat persembunyian saat hujan turun tadi.  Apa dia sudah tidak takut hujan lagi?

”Ma,”

”Ya?”

”Bunganya tenggelam?”

”Bunga?” Aku menggumam bingung.  Irin memandangku dengan serius.

”Apa bunga krisannya tenggalam dan mati?” ulang Irin.

”Kenapa tenggelam dan mati?”  tanyaku tidak mengerti.

”Karena banjir.”

”Banjir?”

”Hujan bikin banjir.  Banyak yang tenggelam dan mati.”

Aku memandang Irin, mencoba merangkai kalimat-kalimat yang barusan kudengar menjadi sebuah pernyataan yang logis yang berhubungan dengan pembicaraan mengenai bunga krisan sebelumnya.  Sejak kecil Irin gemar mengoceh.  Belakangan aku mulai kewalahan dengan ocehannya yang makin sering melompat-lompat.  Seharusnya semakin besar Irin semakin bisa menceritakan hal-hal dengan teratur.  Tapi  kosakata dan pengetahuan yang dia miliki justru membuatnya makin gemar melompat-lompat dari satu topik ke topik yang lain.  Dia hanya berpedoman pada alur pikirnya sendiri tanpa bersedia menunggu lawan bicaranya paham dengan kata-katanya.

”Hujan tidak menyebabkan banjir,” kataku memutuskan untuk mengikuti kalimat terakhir Irin.  Lupakan tentang Krisan dan acara berkebun, mari bicara tentang hujan dan banjir sekarang.

”Hujan menyebabkan banjir dan banyak yang mati.  Irin lihat di televisi,” kata Irin ngotot membuatku tertegun  Tiba-tiba sebuah pemikiran muncul di kepalaku.

Itukah alasannya?

”Irin takut banjir, ya?” tanyaku ingin tahu.  Nah, sekarang aku yang melompat-lompat dalam berbicara.  Tapi Irin mengerti apa yang kumaksud.  Dia menunduk malu dan mengangguk.

”Takut banjir jadi takut hujan?”

Irin mengangguk lagi.

”Gara-gara televisi?”

Irin mengiyakan.

”Kalau hujan turun, Irin merasa hujannya tambah deras, banjir besar datang.  Mama, papa, Irin, Dinar, Mbah Diah semuanya tenggelam.  Lalu kalian mati..-” Sampai di sini Irin berhenti dan bergidik ngeri.  ”Irin takut.”

Aku tidak segera berkomentar.  Seperti yang kuduga.

Ini kelewatan.  Hanya gara-gara berita bencana di televisi putriku bisa berubah seperti itu?  Mengagumkan, betapa hebatnya efek media elektronik bernama televisi itu terhadap putriku.  Aku penasaran apa efeknya juga sehebat itu bagi anak lain?  Ini baru berita bencana.  Bagaimana dengan sinetron?  Bagaimana dengan adegan kekerasan?  Adegan makian dan umpatan?  Pengaruh apa yang akan dibawa oleh acara-acara itu kepada anak-anak seperti Irin?  Aap lebih baik kusingkirkan saja televisi dari rumah ini?  Atau mungkin salahku juga tidak sering meluangkan waktu untuk mendampinginya melihat tayangan-tayangan itu?  Paling tidak aku masih sempat menjelas tayangan-tayangan itu sebelum Irin memprosesnya dalam otak imajinasinya yang luar biasa.

Irin mempunyai imajinasi yang kuat.  Dia gemar mengoceh sesuatu yang tidak benar-benar terjadi.  Dia bisa bercerita tentang komik bergambar yang dilihatnya dengan lancar dan menarik walaupun dia belum bisa membaca dan tidak memahami bagaimana cerita sebenarnya.  Tidak heran kalau bencana-bencana yang dia baca atau dia dengar bisa berkembang menjadi begitu menakutkan dalam imajinasinya.  Aku tidak tahu apakah sekarang aku harus mulai khawatir dengan daya imajinasinya.

”Jadi bunganya mati tenggelam?”

Aku tersadar.  Irin memandangku dengan penuh tanda tanya.  Oh, jadi kembali berbicara soal krisan dan berkebun.  Aku tersenyum.

”Bunga krisannya baik-baik saja.  Irin lihat di sekolah tadi tidak ada banjir, kan?”

Irin mengiyakan.  Aku memujinya.  Kukatakan padanya bukan hujan yang menyebabkan banjir.  Irin mendengarkan dengan serius.

”Kalau hujan selalu membuat banjir, sudah sejak ribuan tahun yang lalu manusia hanyut terus setiap hujan datang.  Tuhan menciptakan hujan bukan untuk menghasilkan banjir dan membuat manusia menderita.  Dia membuat hujan karena manusia, hewan tanaman dan semua makhluk di dunia ini membutuhkan air.”

”Terus kenapa bisa banjir, Ma?”

”Karena itu ulah kita sendiri.  Kita membuang sampah di sungai sehingga air hujan tidak bisa mengalir.  Kita menebang hutan sembarangan sehingga tidak ada lagi pohon yang menahan air di dalam tanah.  Kita merusak alam sehingga bencana terjadi.”

Irin tercenung.

”Manusia jahat ya, Ma?”

Aku tersenyum lembut.

”Tidak semua, Sayang.  Kalau kita sadar banjir berbahaya, kita bisa mencoba untuk bersikap baik pada alam sehingga banjir tidak akan terjadi.  Hujan turun dari langit memenuhi semua sumber air manusia.  Sisanya meresap ke dalam tanah dan ditahan oleh akar tanaman.  Tidak ada air yang menyerang manusia, karena itulah yang diperintahkan Tuhan.”

”Berarti kita nggak boleh buang sampah sembarangan dan menebang pohon?”

Aku mengangguk.

”Kita harus menjaga lingkungan kita dan selalu memelihara tanaman di sekitar kita supaya banjir tidak terjadi.  Irin mau melakukannya kan?”

Irin mengangguk.

”Bagus.  Lagipula, hujan itu indah lho.  Coba Irin lihat di luar.  Setelah hujan, langit menjadi terang lagi dan semua jadi tampak lebih segar karena basah.  Tanaman jadi lebih hijau, tanah lebih cokelat dan hawa menjadi sejuk.  Dan satu lagi,” kataku.  ”Irin lihat ada pelangi tadi?”

”Iya!” jawab Irin serta-merta dengan semangat.  ”Irin lihat sama teman-teman dan bu guru.  Pelanginya bagus sekali.  Panjang dan melengkung warna-warni.  Irin baru lihat pelangi pertama kali.”

Aku mengangguk setuju.

”Irin juga harus tahu, setelah hujan, banyak yang bahagia karena tanaman mereka kembali hidup dan mereka kembali memiliki persediaan air.  Jadi sebetulnya, kalau kita tidak jahat kepada alam, maka kita tidak perlu takut kepada peristiwa alam.  Selama hidup, Irin akan selalu bertemu dengan hujan.  Kalau kita berkawan dan bersikap baik padanya, maka kita tidak akan melihatnya sebagai sesuatu yang menakutkan.”

Irin mengangguk mengerti.

”Irin tidak takut saat hujan turun tadi?” tanyaku ingin tahu.

”Takut, Ma,” akunya pelan.  ”Irin ingin menangis.  Irin ingin ketemu mama.  Tapi mama nggak ada.  Lagipula kalau Irin menangis di sekolah, Irin malu sama teman-teman.”

Aku merasa sedikit bersalah tidak jadi menjemputnya tadi.

”Tapi Irin hebat.  Tidak menangis atau bersembunyi saat hujan datang,” pujiku tulus.  Irin tersipu.  ”Berarti sekarang Irin tidak takut lagi sama hujan, ya?”

”Irin masih takut.”

Aku menghela nafas.  Mungkin proses menghilangkan ketakutan itu tidak bisa secepat yang kuharapkan atau mungkin memang hanya sejauh ini yang bisa kulakukan untuknya, memberitahukan hal-hal yang perlu dia ketahui mengenai fenomena di sekitarnya, mengenai hidup, mengenai segala hal.  Selanjutnya, Irin sendirilah yang harus berperang dengan ketakutan-ketakutan itu.  Aku hanya perlu meyakinkan dirinya bahwa aku akan selalu ada saat dia membutuhkan tempat untuk bertanya.

Aku mulai mengajak Irin membaca dan mengobrol tentang bagaimana fenomena-fenomena alam yang dia takutkan selama ini terjadi.  Bagaimarna hujan dan petir terjadi.  Aku tunjukkan padanya bagaimana hujan yang disertai badai sekalipun mampu diatasi oleh tekhnologi manusia.  Aku juga memperlihatkan padanya kondisi-kondisi wilayah-wilayah yang membutuhkan hujan.  Irin sangat tersentuh ketika melihat kekeringan yang melanda masyarakat  Dia terpesona ketika aku bercerita tentang siklus air, fenomena pelangi dan peranan hutan hujan.

Irin memang masih memilih bersembunyi di kamarnya bila hujan turun.  Tapi sekarang dia tidak perlu lagi ditemani untuk menyibukkan diri dan mengalihkan perhatiannyapada hujan.  Kemudian dia mulai tidak menutup tirai dan menutup telinga ketika hujan makin deras atau guntur sambar menyambar di langit.  Suatu ketika pernah aku mendapatkan dia justru berdiri terpesona di jendela selama beberapa saat mengamati garis-gari yang  kilat yang muncul di langit setiap beberapa detik ketika hujan guntur sedang berlangsung.  Garis-garis kilatan terang-benderang itu menghias langit kelabu dengan pola-pola abstrak yang berpendar-pendar indah.

”Ma, kilat itu bagus ya?” gumamnya.

Aku tersenyum.

Puncak dari itu semua terjadi beberapa bulan setelah itu.  Irin muncul di ambang pintu sepulang sekolah dalam keadaan basah kuyup sementara hujan masih turun di luar.  Aku membelalak kaget sementara Irin tersenyum lebar.  Dia tampak agak kedinginan, tapi wajahnya bersinar segar.  Aku terpaksa menegurnya dan menceramahinya tentang flu dan sebagainya.  Irin hanya mengangguk-angguk senang mendengarnya dan mencetus tiba-tiba.

”Ma..”

”Ya?”

”Irin sekarang benar-benar tidak takut hujan lagi.”

Aku tersenyum lebar.  Akhirnya putriku benar-benar bisa mengatasi ketakutan itu sendiri.  Aku memeluknya dengan hangat.

”Kamu putri mama yang berani dan kuat,” bisikku.

TAMAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.