Secangkir kopi Untuk Suami

January 3, 2010 at 2:39 am (Uncategorized) ()

Jeni tahu benar secangkir kopi di pagi hari adalah kesukaan suaminya.  Dia bahkan terlalu suka kopi hingga bisa terbangun saat menghirup aromanya.  Tujuh tahun usia pernikahan mereka tidak pernah sekalipun dia melupakan kewajibannya.  Sepanjang laki-laki itu bersamanya, secangkir kopi selalu dia hidangkan, kadang di meja makan, kadang di sisi ranjang sebagai pengganti jam beker yang berisik dan, katanya, ketinggalan jaman.  Tapi pagi ini dia ragu.

Haruskah kuhidangkan secangkir kopi seperti biasanya?

Dia terduduk gelisah di ujung ranjang.  Laki-laki itu masih suaminya.  Dia masih istrinya.  Mereka berada di bawah atap yang sama.  Tapi laki-laki itu tidak bersamanya.  Dia bersama perempuan lain, gadis ingusan yang katanya dikenalnya baru-baru ini, yang tiba-tiba saja dinikahinya kemarin, yang kali ini berada di sisi laki-laki itu.  Maka sudah sewajarnya kewajiban itu beralih menjadi kewajiban gadis ingusan itu.

Dia membayangkan gadis ingusan itu membuat secangkir kopi, meletakkannya di sisi ranjang, menunggu dengan sabar laki-laki itu terbangun lalu tersenyum manis di hadapannya.  Laki-laki itu akan menyesap kopi itu, memuji rasanya yang manis, lalu berlanjut memuji senyumnya yang manis.  Mungkin gadis itu akan memeluknya, mungkin juga berlanjut ke ronde berikutnya.  Dia tahu persis setiap detailnya, karena biasanya dialah gadis itu.  Sekarang gadis ingusan itu akan menggantikannya dan itu membuatnya marah.

Tidak!  Dia hanya gadis ingusan yang baru dinikahinya kemarin.  Dia belum tahu apa-apa atas kebiasaannya.  Dia tidak tahu secangkir kopi bisa membangunkan laki-laki itu.  Dia tidak sama denganku!

Dia beranjak bangkit dan melangkah menuju dapur.  Dia sudah bertekad untuk membuatnya.  Tapi langkahnya terhenti di depan pintu dapur.  Aroma kopi menyerbu hidungnya, harum, pekat dan manis.  Dia menegang.

Siapa yang telah menduluiku menunaikan tugas itu?!

“Selamat pagi,”

Dia tertegun memandang perempuan lain yang telah mengambil alih tugasnya.  Dia hampir lupa kalau sekarang dia juga sedang seatap dengan Hani, madunya, istri pertama laki-laki itu.  Sementara di bagian kamar lain, gadis ingusan itu, madunya yang lain, masih terlelap dalam pelukan laki-laki itu, di ranjang pengantin mereka.  Dia menggigit bibir.

Sebenarnya kehidupan apa yang sedang kujalani?

“Tidak baik pagi-pagi melamun.”

Dia menoleh.  Hani tersenyum lembut.  Entah kenapa Jeni mulai tidak suka dengan senyum itu, kecuali kalau senyum itu berarti kegetiran terpendam yang sebetulnya ingin dia keluarkan.  Dia berpikir mungkin dia bisa menanyakan arti senyuman itu nanti.

“Mbak kenapa masih tersenyum?” tukasnya.  “Mbak kan tahu perasaan saya yang sebenarnya tentang pernikahan ini,” katanya.

Hani tersenyum lagi.

“Soal persetujuan itu, kita kan sudah sepakat untuk menyerahkannya pada suami kita.  Lagipula pernikahan itu sudah berlangsung.  Pasrahkan saja.”

Dia terdiam.  Dia sudah terlalu capek menangis beberapa hari ini. Sejak awal dia tidak pernah menyetujui pernikahan ini.  Tadinya dia pikir akan mudah meniru sikap madunya ini, bersabar menerima keputusan laki-laki itu demi masa depan anak dan kebahagiaan suami.  Madunya bilang begitulah bakti seorang istri.  Tapi hingga saat terakhir tadi dia berpikir, dia masih tetap belum bisa menerima kenyataan harus berbagi suami dengan gadis ingusan itu.

“Mbak,”

“Ya?”

“Apa dulu saat saya menikah dengan Mas Her, Mbak juga merasa galau dan marah seperti ini?”

Dia memandang madunya, berharap pertanyaannya telah berhasil mengusik hal paling pribadi dalam pikiran perempuan itu.  Semoga dia bisa melihat sedikit emosi dalam diri madunya.  Hani menghela nafas.

“Aku sempat  limbung.  Tapi kurasa itu perasaan yang normal.”

Dia kecewa nada suara itu tidak terdengar emosional di telinganya.

“Kenapa tidak menentang atau minta cerai?”

“Itu tidak sepenuhnya menyelesaikan masalah,” kata madunya bijak.  “Lagipula akhirnya kita bisa terbiasa juga.  Kau dan aku tidak ada masalah.  Kurasa kita hanya perlu membiasakan diri dengan keberadaan Kiara.”

Tidak, aku tidak akan pernah terbiasa, bahkan denganmu.  Selama ini aku hanya bertoleransi padamu karena kamu memilikinya lebih dulu.  Aku cukup tahu diri.  Tidak pantas kalau aku yang menendangmu keluar.  Harusnya kau yang menendangku pergi.  Tapi kau tidak.  Sekarang, tahukah kau aku sangat ingin menyeret bocah ingusan itu keluar?

Mereka terdiam.

“Anakmu belum bangun?” tanyanya mencoba mengalihkan topik pembicaraan.  Madunya menggeleng.  “Mas Her dan gadis ingusan itu juga belum bangun?”

“Kiara, Jen.  Perempuan itu punya nama.”

Terserah!

Hening.  Dia memandang madunya meletakkan cangkir itu di atas baki kecil.

“Kopi itu untuk Mas Her, Mbak?”

Hani mengangguk.

“Saya bawakan, ya?”

Sudah kubilang akupun tidak pernah terbiasa denganmu.  Akulah yang berhak menghidangkan cangkir kopi itu.

“Silahkan..”

Dia meraih baki kecil itu.  Kekecewaannya sedikit terobati.  Dia akan mendapatkan kekuasaannya kembali.  Dia mengakui madunya terlalu baik.  Itu yang membuatnya merasa serba salah untuk menyingkirkannya dari sisi laki-laki itu.  Andaikan perempuan itupun sekeras dirinya, dia tidak akan ragu untuk merebut laki-laki itu seutuhnya dari kehidupannya.  Kebaikan perempuan itulah yang membuatnya bersedia bertoleransi menjalani poligami ini.  Cukup antara mereka berdua, tidak dengan perempuan ketiga dan seterusnya.  Dia melangkah menuju kamar suaminya dengan ringan.

“Itu kopi buat Mas Her?”

Pertanyaan itu menghentikan langkahnya di lorong kamar.  Gadis itu sudah berdiri di hadapannya.  Gadis itu bertahun-tahun lebih muda darinya.  Dia mengamatinya lekat-lekat. Berapa mereka bilang umurnya?  Kepala dua?  Sekian belas?  Rambut gadis itu masih sekusut dasternya.  Gadis itu tersenyum sopan.  Tapi di matanya, senyum itu terlihat seperti seringai mengejek penuh kemenangan.

“Ya,” jawabnya waspada.  Dia belum pernah berhadap-hadapan secara langsung dengan gadis itu.  Entah kenapa nalurinya mengajaknya mengambil sikap menantang.

Siaga satu!

“Berikan padaku, Mbak.  Biar kutaruh di dalam kamar.  Mas Her masih tidur.  Susah sekali dibangunkan.  Aroma kopi bisa membuatnya terbangun, kan?”

Dia tersentak dalam hati.

Gadis ingusan ini  juga  mengetahui kebiasaan itu??

Dia mengerjap.  Gadis itu menarik baki dari tangannya.  Refleks dia mempertahankannya.  Harga dirinya sedang terancam.  Dia tidak akan membiarkan siapapun menghalanginya melaksanakan kebanggaannya sebagai seorang istri.

“Mbak?!”

Dia tersadar.  Selama beberapa saat mereka baru saja saling tarik baki secangkir kopi itu.  Gadis itu memandangnya dengan heran.  Tapi di matanya, gadis itu bagaikan mengirimkan ultimatum terakhir padanya.

Enyah kau!  Bagaimanapun aku adalah istri termuda!

Dia merasakan wajahnya memucat.

Aku tidak bisa menjalani ini!

Gadis itu terpekik kaget merasakan beban yang tiba-tiba melimpah di lengannya ketika Jeni melepaskan baki itu begitu saja.  Baki itu tergelincir menghantam lanti.  Cangkir kopi di atasnya pecah berkeping-keping sementara dia berlari menjauh.

Aku tidak tahan lagi!

*****************************

Jeni membuka pintu kamarnya dengan kasar.  Buru-buru dia menarik kopernya dari bawah tempat tidur.  Dia membuka lemari pakaiannya dan meraup setumpuk pakaiannya.

Tidak bisa terus-terusan menangis!

Tergesa-gesa dia menyimpan semuanya dalam koper itu.  Dia mengepak semua perlengkapan kosmetiknya dan memberesi perlengkapan laptopnya.  Memasukkan semua baju dan perelngkapan anak laki-lakinya ke dalam ranselnya.

Harus lakukan sesuatu!

“Dion!”

Dia berseru pada putranya yang masih asyik bergelung dengan selimutnya.  Dia mengguncang bahu bocah itu dengan keras ketika tidak mendapat respon yang berarti.  Bocah berumur tujuh tahun itu terbangun kaget.

“Mama?”

“Ayo bangun!”

“Aku masih ngantuk,-“

“Bangun!!” perintahnya tidak sabar.

Mengertilah kondisiku, Nak.  Aku kalut.

Anaknya bangkit dengan malas.  Sesaat dia terheran-heran memandang koper dan ibunya yang mondar-mandir mengepak barang.

“Mama mau kemana?”

“Pergi!” jawab perempuan itu tanpa menghentikan gerakannya.

“Kemana?”

“Pulang!”

Dia beralih memandang putranya.

“Kalau kau mau ikut, cepat gosok gigimu dan ganti bajumu.  Mama tidak punya banyak waktu!”

“Tapi aku nggak mau pulang sekarang!” rengek bocah itu.  Dia melotot tidak sabar.  Dia tidak bisa menolerir kemungkinan putranya akan menentangnya.

“Ganti bajumu sekarang!” katanya serta-merta menyeret bocah itu turun dari tempat tidur menuju kamar mandi dengan tidak sabar.

“Nggak mau!”

“Kita pulang!”

“Nggak!!”

“Jangan membantah!”

“Mama!!”

“Jeni, ada apa?  Kiara tadi bilang,–“

Dia menoleh.  Madunya sudah berdiri di ambang pintu dengan mata terbelalak kaget memandang koper yang hampir selesai dipak.  Dia tersadar.  Putranya gemetar ketakutan meringkuk di lantai.  Mungkin bocah shock saat terbangun mendapatkan ibunya marah-marah seperti orang gila.

“Jeni, kau mau pergi?” tanya Hani

“Ya!” jawabnya kembali memaksa putranya bangun dan menyeretnya ke kamar mandi.  Hani mengikutinya dengan panik.

“Tapi kenapa?”

“Aku sudah tidak tahan!” jawabnya sambil menyodorkan sikat gigi pada putranya.  Bocah itu tidak punya pilihan lain selain menurut.

“Tenang dulu, Jen, istighfar,-“

“Dengar, Mbak!” potongnya sambil mengumpulkan semua perlengkapan toiletrisnya.

“Saya tidak pernah berpikir akan menjalani rumah tangga begini.  Dulu saya berhubungan dengan dia karena saya tidak tahu dia sudah beristri.  Dulu saya menikah dengan dia karena saya sudah punya Dion.  Dulu saya tidak memintanya menceraikan Mbak karena Mbak terlalu baik.  Dulu saya tidak pernah mempermasalahkan poligami ini karena rasa bersalah dan rasa hormat saya pada Mbak.”

Sambil berkata dia membasuh wajah putranya asal-asalan membuat bocah itu megap-megap.  Dia melempar begitu saja sehelai handuk ke wajah bocah itu.  Dion langsung menerima dan mengeringkan dirinya dengan takut-takut.  Bocah itu tidka tahu apa yang terjadi, tapi dia tahu ibunya sedang marah hebat.

“Tapi sekarang aku tidak bisa menerima pernikahan ini.  Setelah yang ketiga, siapa yang bisa menjamin tidak akan ada yang keempat dan seterusnya??  Aku tidak bisa serumah dengan kalian semua!” tukasnya.  “Ganti bajumu!” perintahnya pada putranya.  Dion menurut.  Ketika melewati Hani, bocah itu memandangnya sesaat dengan pandangan memelas.

“Kasihan anakmu.  Dia,–“

“Keputusanku sudah bulat, Mbak!  Aku mau pulang dan aku tidak akan pernah bersedia lagi tinggal bersama kalian walaupun semalam!”

Dia merapikan diri, mengunci kopernya lalu meraih tasnya.  Ditariknya putranya yang sudah siap dengan ransel pakaiannya.

“Ayo kita pergi, Jon!”

Terburu-buru mereka berlalu membawa tas koper mereka.  Di ambang pintu langkahnya terhenti mendapatkan pasangan itu telah berdiri di hadapannya dan memandangnya dengan pandangan bertanya.  Rambut gadis ingusan itu masih sekusut dasternya.  Laki-laki itu masih memakai sarungnya.

“Jeni, ada apa ribut-ribut?”

“Pa, mama galak ba—“

Dia menepis mulut putranya.

“Aku pulang, Mas!”

“Jeni?”

“Oya, satu lagi!” katanya menambahkan.  “Aku juga minta cerai!

“APA??”

Cukup, Mas.  Omong kosong dengan segala urusan berbakti pada suami atau berkompromi dengan poligami.  Aku juga punya hati dan harga diri.  Kau memilih menikah lagi, maka aku akan pergi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.