Primadona

November 13, 2011 at 6:06 pm (Uncategorized) ()

“Kalau anda ingin mengucapkan selamat atau sekedar memberi bunga pada primadona kami, anda bisa mendatangi kamar gantinya selesai pertunjukkan nanti. Itu yang biasanya mereka lakukan. Kalau Tara sedang senang, dia tidak keberatan melayani penggemarnya. Tapi kalau anda orang baru, jangan harap anda bisa langsung membuatnya menoleh. Kecuali anda benar-benar spesial,” jelas bartender dengan lancar, seolah sudah ratusan kali dia mengulang kalimat itu.

Saya memandangnya. Bartender itu tersenyum pengertian sambil terus membersihkan gelas-gelas kristal di tangannya. Begitulah kalimat yang saya dengar ketika saya bertanya mengenai primadona kelab malam ini.

“Tambahkan scotch saya,” kata saya kemudian.

“Anda akan menemui Tara?”

“Saya akan kembali pada pertunjukkan berikutnya.”

Saya tidak pernah keberatan menghabiskan sebagian malam di kelab malam. Bukan berarti saya menyukai tempat-tempat seperti itu. Saya menganggapnya sebagai salah satu bentuk penyesuaian terhadap pergaulan, terutama dalam komunitas bisnis. Menyediakan sedikit waktu di tempat seperti itu memungkinkan saya menjalin relasi yang lebih baik dengan para kolega. Sedikit minum, sedikit pembicaraan ringan tanpa tujuan, bahkan mungkin sedikit sentuhan hostes membuat segalanya kemungkinan bisa berjalan lebih baik, informasi lebih lancar mengalir bahkan tidak sering sebuah ide brilian terbentuk.

Sebetulnya saya adalah tipe orang yang lebih suka menghabiskan malam di rumah setelah seharian penuh bekerja tiada henti menangani berbagai urusan pekerjaan. Sebenarnya saya hanya membutuhkan kamar tidur apartemen saya untuk beristirahat. Saya tidak peduli walaupun itu berarti saya akan terperangkap dalam kesendirian saya. Seorang teman berkomentar seharusnya saya mencari seorang istri. Tapi saya tidak melihat adanya urgensi untuk menikah. Berbagi hidup dengan orang lain bukan ide yang bagus. Saya masih terbiasa dengan istilah “aku” dan “milikku”. “Kita” dan “milik kita” terdengar merepotkan. Saya mencintai kesendirian, kedamaian, kesunyian dan keteraturan.

Saya tidak suka dunia malam. Saya tidak punya kelab favorit. Saya hanya mengikuti ajakan teman, permintaan kolega, undangan pimpinan hingga merasa tidak perlu repot-repot mengingat nama tempat-tempat itu. Adalah seorang kolega yang meminta saya melakukan pembicaraan bisnis kami yang terakhir di kelab malam ini. Kami baru saja mencapai sebuah kesepakatan bisnis yang saling menguntungkan ketika seruan riuh dan tepukan tangan terdengar di sekeliling kami. Saat itu barulah kami sama-sama menyadari keadaan kelab malam itu sudah penuh dengan pengunjung. Perhatian mereka mengarah ke panggung kecil di sudut ruangan.

“Kita mengakhirinya di saat yang tepat,” komentar kolega membuat saya menoleh. Asistennya tertawa kecil. “Sesuai rencana.”

“Maksud anda?” saya bertanya. Kolega saya mengerutkan dahi.

”Anda tidak tahu?” dia balik bertanya. ”Justru ini alasan saya memilih tempat ini. Hiburan spektakuler setelah pembicaraan serius kita.”

”Maaf?”

Asisten kolega saya mencondongkan wajahnya ke teliga saya dan berkata.

”Tari perut. Anda pernah melihatnya?”

Mata saya mengerjap. Sekali. Dua kali. Apakah jawaban ”tidak” akan menjatuhkan reputasi? Maka saya hanya bisa menggumam mengerti. Kolega saya tertawa kecil.

”Kalau begitu anda harus ikut melihat. Rugi kalau meninggalkan tempat ini tanpa melihat Tara,” katanya penuh pengertian.

”Mari sama-sama menikmati untuk merayakan kesepakatan kecil kita,” kata kolega saya dengan riang seraya mengangangkat gelas minumnya. Saya tidak punya pilihan selain mengikutinya mengangkat gelas. Untuk kesepakatan bisnis. Kami bersulang tepat ketika lampu panggung menyala bersama dengan tepukan dan suara riuh para pengunjung. Lalu saya melihatnya untuk pertama kali. Dia telah muncul di panggung kecil itu.

Tara mungkin sesuatu yang tidak bisa didefinisikan dengan kata-kata. Dia yang membuat saya sejenak seolah berada di dunia lain, kehilangan kontak dengan sekitarku, collaps, trance, apapun itu namanya. Dia yang membuat saya sejenak memahami apa artinya berhenti bernafas karena terpesona. Dia tahu dia adalah bintang. Dia tahu mereka semua memandangnya dan memujanya. Seperti seorang diva, dia menguasai daerah kekuasaannya dengan baik. Dan saya sangat menyukai aura dominasi nan mistis yang ditebarkannya.

Musik yang terdengar itu menghentak dan menghanyutkan, gabungan antara irama latin dan irama padang pasir yang unik. Semua mata terpaku ke arahnya. Beberapa menahan nafas, sejumlah kecil berseru penuh semangat mengumbar hasratnya ketika sosoknya bermandikan cahaya lampu panggung. Tubuh ramping itu menggeliat dan berputar mengikuti hentakan musik memberikan nuansa erotis sekaligus eksotis ke sekelilingnya. Kibasan helaian selendang dan kain di antara warna pucat kulit lembut itu tidak bisa menutupi figur lentur yang terus menggeliat mengundang imajinasi liar. Wajah itu tertutup cadar tipis, meninggalkan sepasang mata yang bersinar tajam dan misterius yang -saya sadari tidak bisa saya cegah- akan menghantui saya sepanjang malam.

“Anda harus cepat, Tuan, atau mereka akan mendului anda. Mungkin salah satu dari mereka akan membawanya pergi.”

Saya tersadar dari lamunan saya. Malam ini adalah kunjungan saya yang ketiga. Tara baru beberapa saat yang lalu menghilang dari panggung. Bayangannya masih menyisakan debaran jantung dalam dada saya.

Membawanya pergi?

Pelayan itu tersenyum lagi seraya meletakkan gelas kristal yang baru dia bersihkan. Dia mengangguk, meyakinkan, seolah sudah terbiasa dengan keterkejutan seperti itu. Mungkin dia memang sudah terlalu terbiasa dengan para pengunjung yang tertarik pada Tara dan bertanya ini-itu tentangnya.

“Tara, primadona kami, penari paling hebat yang pernah dipunyai bar ini. Apa anda pikir dari sekian banyak pemuja itu, mereka semua puas hanya dengan melihat pertunjukannya di panggung? Mengamati keidahan yang dimilikinya dan memandangi gerakannya dari luar? Banyak dari mereka yang berambisi untuk menyentuhnya bahkan memilikinya. Mereka, terutama para pengagum berduit itu, selalu menginginkan lebih dari sekedar melihat.”

Demikian pula saya. Karena itulah saya kembali kemari, sendirian.

”Dia bisa dipesan?” tanya saya ragu-ragu. Ada rasa tidak terima menyebutkan hal itu atas seorang Tara. .

Pelayan itu tersenyum lagi.

“Bukan dipesan,” katanya. “Tara memilih. Anda pikir dia tidak suka bersenang-senang juga? Setahu saya dia selalu pergi dengan seseorang selesai pertunjukan.” Pelayan itu mencondongkan badannya sedikit sehingga wajahnya begitu dekat di telinga saya.

“Dia selalu bersama dengan yang paling dari para penonton malam ini.”

“Yang paling?”

Pelayan itu kembali menegakkan tubuhnya.

“Anda tahu maksud saya. Yang paling kaya, yang paling tampan, yang paling gentlemen. Sudah saya bilang, Tara sangat pemilih. Dia selalu memilih yang terbaik untuknya.”

Saya kembali terdiam, masih ragu dengan kenyataan Tara adalah seorang penari sekaligus …pelacur? Tidak, sebutan itu terlalu rendah bagi seorang Tara. Dia adalah primadona. Dia selalu bersama dengan yang terbaik. Dia seorang pendamping yang dibayar. Saya yakin dia tidak mungkin dibayar perhari. Tarifnya pasti perjam. Dan satu jam bagi seorang Tara pasti sama saja dengan tariff satu minggu para pelacur biasa. Lagipula Tara selalu memilih.

“Tuan,” kata pelayan itu lagi. “Kalau anda benar-benar ingin menemuinya, sebaiknya anda bergegas sekarang,”

Saya termangu. Sejenak saya berpikir apa saya memang ingin menemuinya. Untuk apa saya menemuinya? Memberikan ucapan selamat? Dia bukan teman atau keluarg yang baru meraih sebuah prestasi atau apa. Untuk memberikan sesuatu? Memangnya malam ini saya bawa apa? Untuk mengajaknya keluar? Bahkan saya tidak yakin Tara akan melihat saya.

“Tuan?”

“Tambahkan scotch saya,” kata saya akhirnya.

“Anda tidak akan menemuinya?” tanyanya heran.

“Saya akan datang lagi di pertunjukkan berikutnya.”

Pelayan itu tersenyum lagi seraya menyiapkan pesanan saya. Mungkin dia sudah menebaknya. Mereka yang selalu bertanya tentang Tara selalu menunjukkan dua reaksi. Langsung menemui primadona itu, atau menunggu saat yang tepat untuk menemuinya. Dia pasti beranggapan saya adalah kelompok yang kedua.

****

Sudah kelima kalinya saya mengunjungi kelab malam ini. Lebih tepat lagi, kelima kalinya saya melihat Tara. Bartender itu dengan rajin bertanya sudahkah saya menemui primadona mereka. Saya selalu menjawab akan kembali lagi pada pertunjukkan berikutnya. Saya tentu saja tidak bisa bilang bahwa saya masih ragu untuk menemuinya. Saya tidak pernah berurusan dengan seorang diva. Saya kaku saat harus memikat wanita. Saya tahu sedikit bingkisan akan membuat mereka senang. Tapi saya tidak pernah tahu bingkisan apa yang membuat mereka senang.

Pertunjukkan kali ini istimewa. Saya berhasil memesan meja dengan sudut terbaik di kelab malam ini. Saya menganggapnya sebagai sebuah kemajuan. Bartender itu bilang saya bisa melihat Tara lebih dekat dan Tara akan bisa melihat saya dengan bebas. Entah kenapa saya gugup. Saya telah menghabiskan dua gelas long island sebelum dia muncul di panggung dalam balutan pakaian berwarna biru lembut yang senada dengan selendang tipisnya.

Bartender itu benar. Tara bisa melihat saya. Untuk pertama kalinya mata kami bertemu dan saya merasa tubuh saya seolah tersengat aliran listrik. Saya mendapatkan diri saya terjebak dalam medan magnet. Apakah hanya perasaan saya atau memang itu yang terjadi, mata sang primadona tidak pernah lepas dari saya dan saya tidak merasa dalam kelab malam ini lagi. Tapi saya mendapatkan diri saya menari bersamanya dan saya meledak. Selesai pertunjukkan, sebelum saya pergi, setelah saya membersihkan diri di toilet, bartender itu mendekati saya dan berbisik.

”Pertunjukkan berikutnya, Tara mengundang anda ke kamar gantinya.”

Saya termangu. Apakah saya orang pertama yang diundangnya? Tapi Tara pemilih. Tidak ada yang aneh kalau dia mengundang seseorang. Saya merasa perut saya kembali menghangat dan kupu-kupu itu beterbangan di dalamnya. Panas itu kembali bergerak naik ke wajah saya yang sudah mulai reda dari pengaruh pertunjukkan sebelumnya.

”Baiklah.”

Bartender itu tersenyum penuh arti.

****

”Tara sang penari perut??”

Saya mencoba untuk tidak terpengaruh dengan seruan sahabat itu. Orang-orang menyebut Dion party animal sejati. Tidak ada kelab malam atau longue tang belum pernah dikunjunginya. Tidak ada orang terkenal dan tempat popular yang tidak diketahuinya. Profesinya sebagai public relation sebuah Event Organizer terkenal membuatnya melenggang bebas di dunia socialite kalangan atas ibu kota.

“Kamu bilang kelab malam apa tadi?” tanyanya lagi. Saya masih menyibukkan diri membaca proposal dan membalas emai-email bisnis yang masuk dalam laptop saya. Dalam hati saya memaki keteledoran saya memberit kepadanya. ”Sehebat apa dia hingga bisa membuatmu memikirkannya?”

Saya tidak segera menyahut. Kecepatan kerja saya tidak berkurang tapi bayangan penari perut itu kembali bermain dalam kepala saya. Tara yang begitu kharismatik dan menarik, Tara yang selalu bersinar bagai dewi, Tara yang membuat saya membeku terpaku, Tara yang…-

”Kau dengar aku?”

Saya tersadar.

”Tidak,” jawab saya jujur.

Dion tertawa.

”Nah! Sekarang dia bahkan membuatmu linglung! Tara ini pasti benar-benar wanita super,” katanya. Saya tahu saya memerah. Parahnya, itu justru membuat tawa Dion makin menjadi. ”Kau harus bilang di mana kau melihatnya. Penari yang bisa mengusikmu adalah penari yang tidak bisa dilewatkan.”

Saya menghentikan pekerjaan. Dingin dan kaku adalah julukan yang dia berikan pada saya sejak kami sama-sama berteman di sekolah menengah. Saya tidak pernah merasa demikian. Saya memang tidak pernah berpikir untuk menjalin hubungan dengan wanita. Tapi itu karena saya merasa bahwa waktu dan pikiran saya selalu tersita habis untuk urusan sekolah dan pekerjaan. Saya tahu para wanita tidak menyukai jam kerja gila-gilan dengan waktu luang sangat minim. Saya tidak mau menambah masalah lagi karena rengekan mereka. Maka saya putuskan untuk membatasi diri. Lagipula sulit mencari wanita yang melihat saya tanpa memandang reputasi dan status finansial yang saya miliki. Kecuali Tara. Kami tidak pernah saling berkenalan apalagi berbicara. Kami hanya bertemu dan berkomunikasi melalui pandangan itu. Dia tidak pernah tahu siapa saya tapi justu dia adalah wanita pertama yang mengundang saya dan berhasil membangkitkan hasrat saya tanpa sebuah sentuhan atau komunikasi verbal. Tara adalah dewi.

”Kau melamun lagi!”

Saya tersadar. Tiba-tiba saya merasa sebal dengan kehadiran teman saya.

”Mau apa kau kemari?”

Dion mendecak.

« Kau mau mengalihkan topik? » Saya tidak menyahut.”Jadi di mana Tara ini bisa kulihat?” Saya masih mencoba menolak untuk menjawab pertanyaan dari orang yang menganggapnya tidak lebih dari sekedar sebuah tontonan menarik.

”Ayolah, katakan padaku.”

Saya menyerah dengan rengekan itu. Saya menyebut sebuah nama, kelab malam yang sekarang saya kunjungi dengan rutin. Mulut Dion ternganga. Belum pernah saya melihat ekspresi shock itu terpasang di wajahnya.

”Shit! Itu kah sebabnya kau tidak pernah tertarik dengan wanita-wanita itu?” tukasnya terkejut.

”Maaf?”

”Kelab malam itu…” Dion susah payah menarik nafas dari udara di sekelilingnya. Dia terdiam sejenak dan tiba-tiba tawanya meledak memenuhi ruangan kerja saya. Saya memandangnya dengan bingung. ”Damn, Rez!” katanya. ”Kenapa kamu nggak bilang dari awal kalau kau seperti itu?” Tawanya masih berderai-derai membuat saya mulai kesal. Mati-matian Dion berusaha menghentikannya. ”Kau tahu? Aku tidak keberatan. Dan kalau kau mau, aku punya sederet nama yang bisa kau hubungi dan kau ajak kencan.”

”Aku tidak mengerti.”

Dion melongo.

”Kau tidak mengerti?” Saya menggeleng. ”Tapi kelab itu…-”

”Ada apa dengan kelab itu?”

”Itu kelab malam para gay.”

Jawaban yang berikutnya saya dengar membuat saya membeku.

********

Ini adalah kunjungan saya yang keenam dan saya kembali menduduki meja istimewa berkat bertender itu. Banyak yang mengincar meja ini tapi saya masih bisa mendapatkannya pada detik-detik terakhir sebelum pertunjukkan di mulai. Dan malam ini saya akan memenuhi undangan sang primadona. Bartender itu tersenyum hangat.

”Saya sudah mulai cemas anda tidak bisa datang. Tara sempat menanyakan kehadiran anda.”

Saya mencoba tersenyum. Jadi tiba-tiba kehadiran saya menjadi begitu penting di kelab ini? Sayangnya, saya sudah tidak yakin perasaan dan ketertarikan saya masih sekuat saat pertama saya mendatangi bar ini atau tidak. Saya masih marah dengan kalimat Dion. Dia bersikeras mereka tidak mungkin menampilkan penghibur yang benar-benar wanita di sini maka dia sampai pada kesimpulan siapa Tara yang sebenarnya. Saya masih berusaha menyangkal tidak mungkin seorang laki-laki bisa memiliki lekuk sehalus itu, kulit selembut itu dan gerakan segemulai itu. Dion tertawa mengejek.

”Semua bisa dibentuk, Rez.”

Saya tidak bisa menerima informasi yang seketika menghancurkan semua fantasi dan imajinasi saya. Tara terlalu indah untuk seorang pria.

”Apakah kamu tidak pernah mendengar istilah laki-laki yang indah?”

”Keindahan hanya untuk wanita,” tegas saya.

”Kamu terlalu naif,” gumam Dion. ”Pergilah ke sana dan perhatikan sekali lagi penarimu itu dan sekelilingmu dengan sudut pandang yang lebih objektif.”

Itulah yang kemudian saya lakukan setelah ragu beberapa saat untuk kembali ke tempat ini. Saya bukan gay. Saya hanya perlu memastikan sebuah kebenaran akan objek fantasi saya. Saya yakin kata-kata Dion berhasil mempengaruhi saya. Saya hanya cukup melihat reaksi saya sekarang. Bila Tara benar-benar pria,maka tidak ada alasan bagi saya untuk terpesona memandnagnya. Lagipula saya sudah berjanji.

Musik itu mulai terdengar. Saya mengawasi sekeliling saya. Aneh, saya mulai melihat kenyataan-kenyataanitu. Sejumlah pasangan pria-pria terlihat di beberapa sudut kelab malam. Beberapa wanita dengan dandanan outstanding bertebaran bebas tanpa terganggu oleh pandangan atau bisikan usil laki-laki di sekelilingnya. Sejumlah pria flamboyan terlihat di sana-sini. Ini memang kelab para gay. Dan saya mulai merasa berdebar menunggu kemunculan sang promadona. Saya merasa terjebak.

Benarkah saya tidak termasuk di antara para pengunjung itu?

Dia muncul dengan segala pesonanya di panggung itu. Dia kembali bergerak dengan indah. Saya merasa hanyut dan ringan. Saya tahu dan menyadarinya. Saya bisa melihat lekuk pinggang ramping itu tidak seramping pinggang wanita. Tapi semua yang ada padanya tetap saja indah dan membangkitkan hasrat. Entah bagaimana Tara telah membuatnya. Persetan dengan kata-kata Dion. Pria sejati tidak akan membuat saya berhasrat begini. Maka saya memutuskan untuk mendatanginya. Saya tidak peduli apakah dia laki-laki atau wanita. Yang saya tahu, dia adalah seorang primadona dan saya telah terjerat dalam pesona primadona itu.

******

Saya membuka pintu kamar ganti itu perlahan. Sejenak hati saya mencelos melihat kamar itu kosong. Meja rias itu masih berantakan dan penuh sesak dengan bunga dan bingkisan. Kostum-kostum tari tergantung dan tergeletak sembarangan. Tapi saya tidak menemukan pemiliknya. Sejenak saya tidak tahu harus berbuat apa di tengah kamar luas itu. Malam ini saya akan menghabiskan waktu bersamanya. Saya gugup. Apakah saya akan bersama dengan seorang pria atau wanita? Tiba-tiba saya mendapatkan diri saya mempertanyakan orientasi seksual saya.

”Kostum dan alat tata rias benar-benar luar biasa.”

Suara lembut itu mengejutkan saya. Nadanya sempat membuat saya ragu. Intonasinya terlalu rendah untuk suara wanita namun terlalu tinggi untuk suara pria pada umumnya. Saya hanya bisa mendefinisikannya sebagai suara yang halus. Saya menoleh dan melihat seorang pemuda (setidaknya itu yang saya tangkap dari pakaiannya) sudah berdiri tidak jauh dari saya. Kapan dia masuk? Matanya bagus dengan bulu mata seperti perempuan. Hidung dan mulutnya kecil. Rambutnya halus kecokelatan, sedikit melebihi telinganya. Kulit wajahnya pucat dan halus. Tubuhnya ramping tidak terlalu tinggi terbalut pakaian kasual, kemeja dan jeans. Dia tersenyum hangat.

”Anda setuju, kan?” tanyanya lagi membuat saya heran.

”Maksud anda?”

Dia tertawa pelan.

”Benda-benda itu,” katanya sambil menunjuk deretan kostum dan alat make up di meja rias. ”Bisa mengklamufasekan apa saja,” katanya. ”Menyamarkan segalanya, mentransformasi sesuatu, mengelabui para penonton.”

Saya memandangnya lagi, mencoba menebak maksud kalimatnya. Entah kenapa hati saya berdebar makin keras.

”Termasuk mengubah identitas?” tanya saya.

”Itu adalah hak seseorang untuk berapresiasi dan beraktualisasi.”

Matanya memandang mata saya dengan intens. Saya merasa seolah terhisap masuk ke dalamnya. Tidak bisa. Dia laki-laki. Saya mencoba menyangkal. Saya tidak mungkin terseret pesona seorang pemuda seperti dia. Dia mendekat.

”Jangan bilang anda tidak kenal istilah cross dressing.”

Saya menelan ludah. Dia menarik diri dan tersenyum lebar.

”Maaf membuat anda menunggu.”

”Saya menunggumu?”

Saya balik bertanya. Dia memandang saya dengan seksama. Saat itulah hati saya berdesir. Saya mengenal mata itu. Mata seperti bintang yang tajam sekaligus misterius.

”Saya tahu anda menikmati yang anda lihat, begitu juga saya. Itu sebabnya saya mengundang anda kemari,” katanya lagi. Sebuah senyum kembali menghias wajahnya.

”Siapa anda?”

”Saya Tara.”

Saya merasa dihempaskan kembali ke jurang sedalam ribuan meter. Kalimat-kalimat Dion berputar-putar dalam kepala saya.

TAMAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.