<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>fantasie Impromptu</title>
	<atom:link href="http://ceritayosi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ceritayosi.wordpress.com</link>
	<description>It&#039;s the place where my imagination coming wild</description>
	<lastBuildDate>Sun, 13 Nov 2011 18:15:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ceritayosi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>fantasie Impromptu</title>
		<link>http://ceritayosi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ceritayosi.wordpress.com/osd.xml" title="fantasie Impromptu" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ceritayosi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Primadona</title>
		<link>http://ceritayosi.wordpress.com/2011/11/13/primadona/</link>
		<comments>http://ceritayosi.wordpress.com/2011/11/13/primadona/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 18:06:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ceritayosi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritayosi.wordpress.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[“Kalau anda ingin mengucapkan selamat atau sekedar memberi bunga pada primadona kami, anda bisa mendatangi kamar gantinya selesai pertunjukkan nanti. Itu yang biasanya mereka lakukan. Kalau Tara sedang senang, dia tidak keberatan melayani penggemarnya. Tapi kalau anda orang baru, jangan harap anda bisa langsung membuatnya menoleh. Kecuali anda benar-benar spesial,” jelas bartender dengan lancar, seolah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritayosi.wordpress.com&amp;blog=10826468&amp;post=57&amp;subd=ceritayosi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="JUSTIFY">“Kalau anda ingin mengucapkan selamat atau sekedar memberi bunga pada primadona kami, anda bisa mendatangi kamar gantinya selesai pertunjukkan nanti. Itu yang biasanya mereka lakukan. Kalau Tara sedang senang, dia tidak keberatan melayani penggemarnya. Tapi kalau anda orang baru, jangan harap anda bisa langsung membuatnya menoleh. Kecuali anda benar-benar spesial,” jelas bartender dengan lancar, seolah sudah ratusan kali dia mengulang kalimat itu.</p>
<p align="JUSTIFY">Saya memandangnya. Bartender itu tersenyum pengertian sambil terus membersihkan gelas-gelas kristal di tangannya. Begitulah kalimat yang saya dengar ketika saya bertanya mengenai primadona kelab malam ini.</p>
<p align="JUSTIFY">“Tambahkan scotch saya,” kata saya kemudian.</p>
<p align="JUSTIFY">“Anda akan menemui Tara?”</p>
<p align="JUSTIFY">“Saya akan kembali pada pertunjukkan berikutnya.”</p>
<p><span id="more-57"></span></p>
<p align="JUSTIFY">Saya tidak pernah keberatan menghabiskan sebagian malam di kelab malam. Bukan berarti saya menyukai tempat-tempat seperti itu. Saya menganggapnya sebagai salah satu bentuk penyesuaian terhadap pergaulan, terutama dalam komunitas bisnis. Menyediakan sedikit waktu di tempat seperti itu memungkinkan saya menjalin relasi yang lebih baik dengan para kolega. Sedikit minum, sedikit pembicaraan ringan tanpa tujuan, bahkan mungkin sedikit sentuhan hostes membuat segalanya kemungkinan bisa berjalan lebih baik, informasi lebih lancar mengalir bahkan tidak sering sebuah ide brilian terbentuk.</p>
<p align="JUSTIFY">Sebetulnya saya adalah tipe orang yang lebih suka menghabiskan malam di rumah setelah seharian penuh bekerja tiada henti menangani berbagai urusan pekerjaan. Sebenarnya saya hanya membutuhkan kamar tidur apartemen saya untuk beristirahat. Saya tidak peduli walaupun itu berarti saya akan terperangkap dalam kesendirian saya. Seorang teman berkomentar seharusnya saya mencari seorang istri. Tapi saya tidak melihat adanya urgensi untuk menikah. Berbagi hidup dengan orang lain bukan ide yang bagus. Saya masih terbiasa dengan istilah “aku” dan “milikku”. “Kita” dan “milik kita” terdengar merepotkan. Saya mencintai kesendirian, kedamaian, kesunyian dan keteraturan.</p>
<p align="JUSTIFY">Saya tidak suka dunia malam. Saya tidak punya kelab favorit. Saya hanya mengikuti ajakan teman, permintaan kolega, undangan pimpinan hingga merasa tidak perlu repot-repot mengingat nama tempat-tempat itu. Adalah seorang kolega yang meminta saya melakukan pembicaraan bisnis kami yang terakhir di kelab malam ini. Kami baru saja mencapai sebuah kesepakatan bisnis yang saling menguntungkan ketika seruan riuh dan tepukan tangan terdengar di sekeliling kami. Saat itu barulah kami sama-sama menyadari keadaan kelab malam itu sudah penuh dengan pengunjung. Perhatian mereka mengarah ke panggung kecil di sudut ruangan.</p>
<p align="JUSTIFY">“Kita mengakhirinya di saat yang tepat,” komentar kolega membuat saya menoleh. Asistennya tertawa kecil. “Sesuai rencana.”</p>
<p align="JUSTIFY">“Maksud anda?” saya bertanya. Kolega saya mengerutkan dahi.</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">”Anda tidak tahu?” dia balik bertanya. ”Justru ini alasan saya memilih tempat ini. Hiburan spektakuler setelah pembicaraan serius kita.”</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">”Maaf?”</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">Asisten kolega saya mencondongkan wajahnya ke teliga saya dan berkata.</p>
<p align="JUSTIFY">”Tari perut. Anda pernah melihatnya?”</p>
<p align="JUSTIFY">Mata saya mengerjap. Sekali. Dua kali. Apakah jawaban ”tidak” akan menjatuhkan reputasi? Maka saya hanya bisa menggumam mengerti. Kolega saya tertawa kecil.</p>
<p align="JUSTIFY">”Kalau begitu anda harus ikut melihat. Rugi kalau meninggalkan tempat ini tanpa melihat Tara,” katanya penuh pengertian.</p>
<p align="JUSTIFY">”Mari sama-sama menikmati untuk merayakan kesepakatan kecil kita,” kata kolega saya dengan riang seraya mengangangkat gelas minumnya. Saya tidak punya pilihan selain mengikutinya mengangkat gelas. Untuk kesepakatan bisnis. Kami bersulang tepat ketika lampu panggung menyala bersama dengan tepukan dan suara riuh para pengunjung. Lalu saya melihatnya untuk pertama kali. Dia telah muncul di panggung kecil itu.</p>
<p align="JUSTIFY"><em> </em>Tara mungkin sesuatu yang tidak bisa didefinisikan dengan kata-kata. Dia yang membuat saya sejenak seolah berada di dunia lain, kehilangan kontak dengan sekitarku, collaps, trance, apapun itu namanya. Dia yang membuat saya sejenak memahami apa artinya berhenti bernafas karena terpesona. Dia tahu dia adalah bintang. Dia tahu mereka semua memandangnya dan memujanya. Seperti seorang diva, dia menguasai daerah kekuasaannya dengan baik. Dan saya sangat menyukai aura dominasi nan mistis yang ditebarkannya.</p>
<p align="JUSTIFY">Musik yang terdengar itu menghentak dan menghanyutkan, gabungan antara irama latin dan irama padang pasir yang unik. Semua mata terpaku ke arahnya. Beberapa menahan nafas, sejumlah kecil berseru penuh semangat mengumbar hasratnya ketika sosoknya bermandikan cahaya lampu panggung. Tubuh ramping itu menggeliat dan berputar mengikuti hentakan musik memberikan nuansa erotis sekaligus eksotis ke sekelilingnya. Kibasan helaian selendang dan kain di antara warna pucat kulit lembut itu tidak bisa menutupi figur lentur yang terus menggeliat mengundang imajinasi liar. Wajah itu tertutup cadar tipis, meninggalkan sepasang mata yang bersinar tajam dan misterius yang -saya sadari tidak bisa saya cegah- akan menghantui saya sepanjang malam.</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">“Anda harus cepat, Tuan, atau mereka akan mendului anda. Mungkin salah satu dari mereka akan membawanya pergi.”</p>
<p align="JUSTIFY">Saya tersadar dari lamunan saya. Malam ini adalah kunjungan saya yang ketiga. Tara baru beberapa saat yang lalu menghilang dari panggung. Bayangannya masih menyisakan debaran jantung dalam dada saya.</p>
<p align="JUSTIFY"><em>Membawanya pergi?</em></p>
<p align="JUSTIFY">Pelayan itu tersenyum lagi seraya meletakkan gelas kristal yang baru dia bersihkan. Dia mengangguk, meyakinkan, seolah sudah terbiasa dengan keterkejutan seperti itu. Mungkin dia memang sudah terlalu terbiasa dengan para pengunjung yang tertarik pada Tara dan bertanya ini-itu tentangnya.</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">“Tara, primadona kami, penari paling hebat yang pernah dipunyai bar ini. Apa anda pikir dari sekian banyak pemuja itu, mereka semua puas hanya dengan melihat pertunjukannya di panggung? Mengamati keidahan yang dimilikinya dan memandangi gerakannya dari luar? Banyak dari mereka yang berambisi untuk menyentuhnya bahkan memilikinya. Mereka, terutama para pengagum berduit itu, selalu menginginkan lebih dari sekedar melihat.”</p>
<p align="JUSTIFY"><em>Demikian pula saya. Karena itulah saya kembali kemari, sendirian.</em></p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">”Dia bisa dipesan?” tanya saya ragu-ragu. Ada rasa tidak terima menyebutkan hal itu atas seorang Tara. .</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">Pelayan itu tersenyum lagi.</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">“Bukan dipesan,” katanya. “Tara memilih. Anda pikir dia tidak suka bersenang-senang juga? Setahu saya dia selalu pergi dengan seseorang selesai pertunjukan.” Pelayan itu mencondongkan badannya sedikit sehingga wajahnya begitu dekat di telinga saya.</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">“Dia selalu bersama dengan yang paling dari para penonton malam ini.”</p>
<p align="JUSTIFY">“Yang paling?”</p>
<p lang="fi-FI" align="JUSTIFY">Pelayan itu kembali menegakkan tubuhnya.</p>
<p lang="fi-FI" align="JUSTIFY">“Anda tahu maksud saya. Yang paling kaya, yang paling tampan, yang paling gentlemen. Sudah saya bilang, Tara sangat pemilih. Dia selalu memilih yang terbaik untuknya.”</p>
<p lang="fi-FI" align="JUSTIFY">Saya kembali terdiam, masih ragu dengan kenyataan Tara adalah seorang penari sekaligus …pelacur? Tidak, sebutan itu terlalu rendah bagi seorang Tara. Dia adalah primadona. Dia selalu bersama dengan yang terbaik. Dia seorang pendamping yang dibayar. Saya yakin dia tidak mungkin dibayar perhari. Tarifnya pasti perjam. Dan satu jam bagi seorang Tara pasti sama saja dengan tariff satu minggu para pelacur biasa. Lagipula Tara selalu memilih.</p>
<p lang="fi-FI" align="JUSTIFY">“Tuan,” kata pelayan itu lagi. “Kalau anda benar-benar ingin menemuinya, sebaiknya anda bergegas sekarang,”</p>
<p align="JUSTIFY">Saya termangu. Sejenak saya berpikir apa saya memang ingin menemuinya. Untuk apa saya menemuinya? Memberikan ucapan selamat? Dia bukan teman atau keluarg yang baru meraih sebuah prestasi atau apa. Untuk memberikan sesuatu? Memangnya malam ini saya bawa apa? Untuk mengajaknya keluar? Bahkan saya tidak yakin Tara akan melihat saya.</p>
<p lang="fi-FI" align="JUSTIFY">“Tuan?”</p>
<p align="JUSTIFY">“Tambahkan scotch saya,” kata saya akhirnya.</p>
<p align="JUSTIFY">“Anda tidak akan menemuinya?” tanyanya heran.</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">“Saya akan datang lagi di pertunjukkan berikutnya.”</p>
<p align="JUSTIFY">Pelayan itu tersenyum lagi seraya menyiapkan pesanan saya. Mungkin dia sudah menebaknya. Mereka yang selalu bertanya tentang Tara selalu menunjukkan dua reaksi. Langsung menemui primadona itu, atau menunggu saat yang tepat untuk menemuinya. Dia pasti beranggapan saya adalah kelompok yang kedua.</p>
<p lang="sv-SE" align="CENTER">****</p>
<p align="JUSTIFY">Sudah kelima kalinya saya mengunjungi kelab malam ini. Lebih tepat lagi, kelima kalinya saya melihat Tara. Bartender itu dengan rajin bertanya sudahkah saya menemui primadona mereka. Saya selalu menjawab akan kembali lagi pada pertunjukkan berikutnya. Saya tentu saja tidak bisa bilang bahwa saya masih ragu untuk menemuinya. Saya tidak pernah berurusan dengan seorang diva. Saya kaku saat harus memikat wanita. Saya tahu sedikit bingkisan akan membuat mereka senang. Tapi saya tidak pernah tahu bingkisan apa yang membuat mereka senang.</p>
<p align="JUSTIFY">Pertunjukkan kali ini istimewa. Saya berhasil memesan meja dengan sudut terbaik di kelab malam ini. Saya menganggapnya sebagai sebuah kemajuan. Bartender itu bilang saya bisa melihat Tara lebih dekat dan Tara akan bisa melihat saya dengan bebas. Entah kenapa saya gugup. Saya telah menghabiskan dua gelas long island sebelum dia muncul di panggung dalam balutan pakaian berwarna biru lembut yang senada dengan selendang tipisnya.</p>
<p align="JUSTIFY">Bartender itu benar. Tara bisa melihat saya. Untuk pertama kalinya mata kami bertemu dan saya merasa tubuh saya seolah tersengat aliran listrik. Saya mendapatkan diri saya terjebak dalam medan magnet. Apakah hanya perasaan saya atau memang itu yang terjadi, mata sang primadona tidak pernah lepas dari saya dan saya tidak merasa dalam kelab malam ini lagi. Tapi saya mendapatkan diri saya menari bersamanya dan saya meledak. Selesai pertunjukkan, sebelum saya pergi, setelah saya membersihkan diri di toilet, bartender itu mendekati saya dan berbisik.</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">”Pertunjukkan berikutnya, Tara mengundang anda ke kamar gantinya.”</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">Saya termangu. Apakah saya orang pertama yang diundangnya? Tapi Tara pemilih. Tidak ada yang aneh kalau dia mengundang seseorang. Saya merasa perut saya kembali menghangat dan kupu-kupu itu beterbangan di dalamnya. Panas itu kembali bergerak naik ke wajah saya yang sudah mulai reda dari pengaruh pertunjukkan sebelumnya.</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">”Baiklah.”</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">Bartender itu tersenyum penuh arti.</p>
<p lang="sv-SE" align="CENTER">****</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">”Tara sang penari perut??”</p>
<p align="JUSTIFY">Saya mencoba untuk tidak terpengaruh dengan seruan sahabat itu. Orang-orang menyebut Dion party animal sejati. Tidak ada kelab malam atau longue tang belum pernah dikunjunginya. Tidak ada orang terkenal dan tempat popular yang tidak diketahuinya. Profesinya sebagai public relation sebuah Event Organizer terkenal membuatnya melenggang bebas di dunia socialite kalangan atas ibu kota.</p>
<p align="JUSTIFY">“Kamu bilang kelab malam apa tadi?” tanyanya lagi. Saya masih menyibukkan diri membaca proposal dan membalas emai-email bisnis yang masuk dalam laptop saya. Dalam hati saya memaki keteledoran saya memberit kepadanya. ”Sehebat apa dia hingga bisa membuatmu memikirkannya?”</p>
<p align="JUSTIFY">Saya tidak segera menyahut. Kecepatan kerja saya tidak berkurang tapi bayangan penari perut itu kembali bermain dalam kepala saya. Tara yang begitu kharismatik dan menarik, Tara yang selalu bersinar bagai dewi, Tara yang membuat saya membeku terpaku, Tara yang&#8230;-</p>
<p align="JUSTIFY">”Kau dengar aku?”</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">Saya tersadar.</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">”Tidak,” jawab saya jujur.</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">Dion tertawa.</p>
<p align="JUSTIFY">”Nah! Sekarang dia bahkan membuatmu linglung! Tara ini pasti benar-benar wanita super,” katanya. Saya tahu saya memerah. Parahnya, itu justru membuat tawa Dion makin menjadi. ”Kau harus bilang di mana kau melihatnya. Penari yang bisa mengusikmu adalah penari yang tidak bisa dilewatkan.”</p>
<p align="JUSTIFY">Saya menghentikan pekerjaan. Dingin dan kaku adalah julukan yang dia berikan pada saya sejak kami sama-sama berteman di sekolah menengah. Saya tidak pernah merasa demikian. Saya memang tidak pernah berpikir untuk menjalin hubungan dengan wanita. Tapi itu karena saya merasa bahwa waktu dan pikiran saya selalu tersita habis untuk urusan sekolah dan pekerjaan. Saya tahu para wanita tidak menyukai jam kerja gila-gilan dengan waktu luang sangat minim. Saya tidak mau menambah masalah lagi karena rengekan mereka. Maka saya putuskan untuk membatasi diri. Lagipula sulit mencari wanita yang melihat saya tanpa memandang reputasi dan status finansial yang saya miliki. Kecuali Tara. Kami tidak pernah saling berkenalan apalagi berbicara. Kami hanya bertemu dan berkomunikasi melalui pandangan itu. Dia tidak pernah tahu siapa saya tapi justu dia adalah wanita pertama yang mengundang saya dan berhasil membangkitkan hasrat saya tanpa sebuah sentuhan atau komunikasi verbal. Tara adalah dewi.</p>
<p align="JUSTIFY">”Kau melamun lagi!”</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">Saya tersadar. Tiba-tiba saya merasa sebal dengan kehadiran teman saya.</p>
<p lang="fr-FR" align="JUSTIFY">”Mau apa kau kemari?”</p>
<p lang="fr-FR" align="JUSTIFY">Dion mendecak.</p>
<p align="JUSTIFY">« Kau mau mengalihkan topik? » Saya tidak menyahut.”Jadi di mana Tara ini bisa kulihat?” Saya masih mencoba menolak untuk menjawab pertanyaan dari orang yang menganggapnya tidak lebih dari sekedar sebuah tontonan menarik.</p>
<p align="JUSTIFY">”Ayolah, katakan padaku.”</p>
<p lang="fi-FI" align="JUSTIFY">Saya menyerah dengan rengekan itu. Saya menyebut sebuah nama, kelab malam yang sekarang saya kunjungi dengan rutin. Mulut Dion ternganga. Belum pernah saya melihat ekspresi shock itu terpasang di wajahnya.</p>
<p align="JUSTIFY">”Shit! Itu kah sebabnya kau tidak pernah tertarik dengan wanita-wanita itu?” tukasnya terkejut.</p>
<p lang="fi-FI" align="JUSTIFY">”Maaf?”</p>
<p align="JUSTIFY">”Kelab malam itu&#8230;” Dion susah payah menarik nafas dari udara di sekelilingnya. Dia terdiam sejenak dan tiba-tiba tawanya meledak memenuhi ruangan kerja saya. Saya memandangnya dengan bingung. ”Damn, Rez!” katanya. ”Kenapa kamu nggak bilang dari awal kalau kau seperti itu?” Tawanya masih berderai-derai membuat saya mulai kesal. Mati-matian Dion berusaha menghentikannya. ”Kau tahu? Aku tidak keberatan. Dan kalau kau mau, aku punya sederet nama yang bisa kau hubungi dan kau ajak kencan.”</p>
<p lang="fi-FI" align="JUSTIFY">”Aku tidak mengerti.”</p>
<p lang="fi-FI" align="JUSTIFY">Dion melongo.</p>
<p align="JUSTIFY">”Kau tidak mengerti?” Saya menggeleng. ”Tapi kelab itu&#8230;-”</p>
<p lang="nb-NO" align="JUSTIFY">”Ada apa dengan kelab itu?”</p>
<p align="JUSTIFY">”Itu kelab malam para gay.”</p>
<p align="JUSTIFY">Jawaban yang berikutnya saya dengar membuat saya membeku.</p>
<p lang="sv-SE" align="CENTER">********</p>
<p align="JUSTIFY">Ini adalah kunjungan saya yang keenam dan saya kembali menduduki meja istimewa berkat bertender itu. Banyak yang mengincar meja ini tapi saya masih bisa mendapatkannya pada detik-detik terakhir sebelum pertunjukkan di mulai. Dan malam ini saya akan memenuhi undangan sang primadona. Bartender itu tersenyum hangat.</p>
<p align="JUSTIFY">”Saya sudah mulai cemas anda tidak bisa datang. Tara sempat menanyakan kehadiran anda.”</p>
<p align="JUSTIFY">Saya mencoba tersenyum. Jadi tiba-tiba kehadiran saya menjadi begitu penting di kelab ini? Sayangnya, saya sudah tidak yakin perasaan dan ketertarikan saya masih sekuat saat pertama saya mendatangi bar ini atau tidak. Saya masih marah dengan kalimat Dion. Dia bersikeras mereka tidak mungkin menampilkan penghibur yang benar-benar wanita di sini maka dia sampai pada kesimpulan siapa Tara yang sebenarnya. Saya masih berusaha menyangkal tidak mungkin seorang laki-laki bisa memiliki lekuk sehalus itu, kulit selembut itu dan gerakan segemulai itu. Dion tertawa mengejek.</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">”Semua bisa dibentuk, Rez.”</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">Saya tidak bisa menerima informasi yang seketika menghancurkan semua fantasi dan imajinasi saya. Tara terlalu indah untuk seorang pria.</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">”Apakah kamu tidak pernah mendengar istilah laki-laki yang indah?”</p>
<p align="JUSTIFY">”Keindahan hanya untuk wanita,” tegas saya.</p>
<p lang="fi-FI" align="JUSTIFY">”Kamu terlalu naif,” gumam Dion. ”Pergilah ke sana dan perhatikan sekali lagi penarimu itu dan sekelilingmu dengan sudut pandang yang lebih objektif.”</p>
<p align="JUSTIFY">Itulah yang kemudian saya lakukan setelah ragu beberapa saat untuk kembali ke tempat ini. Saya bukan gay. Saya hanya perlu memastikan sebuah kebenaran akan objek fantasi saya. Saya yakin kata-kata Dion berhasil mempengaruhi saya. Saya hanya cukup melihat reaksi saya sekarang. Bila Tara benar-benar pria,maka tidak ada alasan bagi saya untuk terpesona memandnagnya. Lagipula saya sudah berjanji.</p>
<p align="JUSTIFY">Musik itu mulai terdengar. Saya mengawasi sekeliling saya. Aneh, saya mulai melihat kenyataan-kenyataanitu. Sejumlah pasangan pria-pria terlihat di beberapa sudut kelab malam. Beberapa wanita dengan dandanan outstanding bertebaran bebas tanpa terganggu oleh pandangan atau bisikan usil laki-laki di sekelilingnya. Sejumlah pria flamboyan terlihat di sana-sini. Ini memang kelab para gay. Dan saya mulai merasa berdebar menunggu kemunculan sang promadona. Saya merasa terjebak.</p>
<p align="JUSTIFY"><em>Benarkah saya tidak termasuk di antara para pengunjung itu</em><em>?</em></p>
<p align="JUSTIFY">Dia muncul dengan segala pesonanya di panggung itu. Dia kembali bergerak dengan indah. Saya merasa hanyut dan ringan. Saya tahu dan menyadarinya. Saya bisa melihat lekuk pinggang ramping itu tidak seramping pinggang wanita. Tapi semua yang ada padanya tetap saja indah dan membangkitkan hasrat. Entah bagaimana Tara telah membuatnya. Persetan dengan kata-kata Dion. Pria sejati tidak akan membuat saya berhasrat begini. Maka saya memutuskan untuk mendatanginya. Saya tidak peduli apakah dia laki-laki atau wanita. Yang saya tahu, dia adalah seorang primadona dan saya telah terjerat dalam pesona primadona itu.</p>
<p lang="fi-FI" align="CENTER">******</p>
<p align="JUSTIFY">Saya membuka pintu kamar ganti itu perlahan. Sejenak hati saya mencelos melihat kamar itu kosong. Meja rias itu masih berantakan dan penuh sesak dengan bunga dan bingkisan. Kostum-kostum tari tergantung dan tergeletak sembarangan. Tapi saya tidak menemukan pemiliknya. Sejenak saya tidak tahu harus berbuat apa di tengah kamar luas itu. Malam ini saya akan menghabiskan waktu bersamanya. Saya gugup. Apakah saya akan bersama dengan seorang pria atau wanita? Tiba-tiba saya mendapatkan diri saya mempertanyakan orientasi seksual saya.</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">”Kostum dan alat tata rias benar-benar luar biasa.”</p>
<p align="JUSTIFY">Suara lembut itu mengejutkan saya. Nadanya sempat membuat saya ragu. Intonasinya terlalu rendah untuk suara wanita namun terlalu tinggi untuk suara pria pada umumnya. Saya hanya bisa mendefinisikannya sebagai suara yang halus. Saya menoleh dan melihat seorang pemuda (setidaknya itu yang saya tangkap dari pakaiannya) sudah berdiri tidak jauh dari saya. Kapan dia masuk? Matanya bagus dengan bulu mata seperti perempuan. Hidung dan mulutnya kecil. Rambutnya halus kecokelatan, sedikit melebihi telinganya. Kulit wajahnya pucat dan halus. Tubuhnya ramping tidak terlalu tinggi terbalut pakaian kasual, kemeja dan jeans. Dia tersenyum hangat.</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">”Anda setuju, kan?” tanyanya lagi membuat saya heran.</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">”Maksud anda?”</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">Dia tertawa pelan.</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">”Benda-benda itu,” katanya sambil menunjuk deretan kostum dan alat make up di meja rias. ”Bisa mengklamufasekan apa saja,” katanya. ”Menyamarkan segalanya, mentransformasi sesuatu, mengelabui para penonton.”</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">Saya memandangnya lagi, mencoba menebak maksud kalimatnya. Entah kenapa hati saya berdebar makin keras.</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">”Termasuk mengubah identitas?” tanya saya.</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">”Itu adalah hak seseorang untuk berapresiasi dan beraktualisasi.”</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">Matanya memandang mata saya dengan intens. Saya merasa seolah terhisap masuk ke dalamnya. Tidak bisa. Dia laki-laki. Saya mencoba menyangkal. Saya tidak mungkin terseret pesona seorang pemuda seperti dia. Dia mendekat.</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">”Jangan bilang anda tidak kenal istilah cross dressing.”</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">Saya menelan ludah. Dia menarik diri dan tersenyum lebar.</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">”Maaf membuat anda menunggu.”</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">”Saya menunggumu?”</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">Saya balik bertanya. Dia memandang saya dengan seksama. Saat itulah hati saya berdesir. Saya mengenal mata itu. Mata seperti bintang yang tajam sekaligus misterius.</p>
<p align="JUSTIFY">”Saya tahu anda menikmati yang anda lihat, begitu juga saya. Itu sebabnya saya mengundang anda kemari,” katanya lagi. Sebuah senyum kembali menghias wajahnya.</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">”Siapa anda?”</p>
<p lang="sv-SE" align="JUSTIFY">”Saya Tara.”</p>
<p align="JUSTIFY">Saya merasa dihempaskan kembali ke jurang sedalam ribuan meter. Kalimat-kalimat Dion berputar-putar dalam kepala saya.</p>
<p lang="sv-SE" align="CENTER"><strong>TAMAT</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritayosi.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritayosi.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritayosi.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritayosi.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritayosi.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritayosi.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritayosi.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritayosi.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritayosi.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritayosi.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritayosi.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritayosi.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritayosi.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritayosi.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritayosi.wordpress.com&amp;blog=10826468&amp;post=57&amp;subd=ceritayosi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritayosi.wordpress.com/2011/11/13/primadona/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ceccd319d816b975f798a40b86db172?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ceritayosi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Words</title>
		<link>http://ceritayosi.wordpress.com/2010/01/03/the-words/</link>
		<comments>http://ceritayosi.wordpress.com/2010/01/03/the-words/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 03:09:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ceritayosi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritayosi.wordpress.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Aku tidak mungkin mengkhianatimu Aku tidak akan mengecewakanmu Aku tidak mau menyakitimu Aku masih menyayangimu …………………………………. Andini mencoba mengulang-ulang kalimat-kalimat itu dalam hati, memfokuskan hati dan pikirannya pada seseorang.  Dia mengeluh dalam hati.  Kenapa dia harus melakukan ini kalau dia memang mencintainya?  Kalau memang begitu kenapa perasaan gundah ini tidak mau hilang dari hatinya? Indra, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritayosi.wordpress.com&amp;blog=10826468&amp;post=53&amp;subd=ceritayosi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Aku tidak mungkin mengkhianatimu</em></p>
<p><em>Aku tidak akan mengecewakanmu</em></p>
<p><em>Aku tidak mau menyakitimu</em></p>
<p><em>Aku masih menyayangimu</em></p>
<p>………………………………….</p>
<p>Andini mencoba mengulang-ulang kalimat-kalimat itu dalam hati, memfokuskan hati dan pikirannya pada seseorang.  Dia mengeluh dalam hati.  Kenapa dia harus melakukan ini kalau dia memang mencintainya?  Kalau memang begitu kenapa perasaan gundah ini tidak mau hilang dari hatinya?</p>
<p><em>Indra, apa yang harus kulakukan?</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jam di dinding menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.  Hari ini hari pertama di bulan Januari. Pagi ini tampak cerah dan kehidupan sudah berdenyut seperti biasa.  Matahari tidak ragu memberikan segala keindahanya.  Burung tidak sungkan memperdengarkan kicauannya.  Dunia seolah bernyanyi, selamat datang tahun baru.</p>
<p>Andini memandang meja riasnya.  Sebuah pigura kecil yang anggun berdiri di sudutnya, memuat fotonya bersama seseorang.  Seseorang yang selama beberapa tahun ini telah memenuhi seluruh hati dan pikirannya.  Seseorang yang telah membuatnya berpikir kepadanyalah dia akan mempersembahkan seluruh dirinya, membagi impiannya dan menghabiskan sisa hidupnya.</p>
<p><span id="more-53"></span><em>Jam berapakah di Inggris sekarang?  Indra, apakah kau menikmati pergantian tahunmu di sana?</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Andini menghela nafas.  Dia tahu, beberapa puluh menit lagi menjelang tahun baru di Inggris Raya.  Tahun kemarin dia menganggap perbedaan zona waktu itu sebagai sesuatu yang lucu.  Sejak keberangkatan Indra untuk meneruskan studinya di Inggris mereka memutuskan untuk tidak saling berbalas ucapan tahun baru secara langsung.  Tahun kemarin Indra menghubunginya saat lonceng tahun baru berdentang di zona waktu Indonesia bagian barat untuk mengucapkan selamat tahun barunya.  Andini harus menunggu tujuh jam ke depan untuk bisa membalas ucapan tahun baru itu.</p>
<p>Hari ini dua tahun baru telah berlalu bagi Andini dan satu setengah tahun berlalu sejak keberangkatan Indra.  Selama itu, baru sekali Indra kembali ke Indonesia.  Andini termangu.  Perasaan bersalah ini menderanya kembali.</p>
<p>Andini berpikir.  Indra telah pergi meninggalkan kehampaan dan kerinduan yang sangat rentan dalam diri Andini.  Andini sudah berusaha menahannya sekuat tenaga.  Salahkah dia ketika dia mulai merasa lelah?  Mungkin semuanya tidak akan terjadi kalau Indra berada di sini.</p>
<p>Ketika Indra memperkenalkan dirinya pada sahabat karibnya, Andini tidak merasakan perasaan apapun pada pemuda itu.  Dia menghormati Dimas sebagai sahabat kekasihnya.  Bahkan awalnya dia sempat cemburu pada pemuda itu karena dia jauh lebih mengenal Indra daripada dirinya.  Dimaslah <em>“kekasih pertama&#8221;</em> Indra.  Sekali itu Andini merasa beruntung menjadi wanita.  Perbedaan ini membuatnya merasa lebih berhak untuk memiliki hati Indra dibanding Dimas.</p>
<p>Dimas ternyata teman yang menyenangkan.  Mereka beberapa kali menghabiskan waktu bertiga.  Bahkan sejak kepergian Indra, entah kenapa intensitas keterlibatan Dimas dalam kehidupannya semakin meningkat tajam.  Dimas seolah muncul sebagai pengganti Indra untuk mendampinginya.</p>
<p>Dimas selalu muncul setiap dia membutuhkan.  Dimas selalu ada setiap dia ingin berbagi.  Bahkan Dimas bersedia mendengarkan keluhan kerinduannya tentang Indra.  Tiba-tiba saja Andini mendapatkan mereka  menjadi teman dekat dan dia mulai merasa bergantung padanya. Semua mencapai puncaknya ketika Dimas menciumnya dan mengutarakan perasaannya tepat setelah Indra menghubunginya dan mengucapkan selamat tahun barunya semalam.</p>
<p><em>Aku tidak mungkin mengkhianatimu</em></p>
<p><em>Aku tidak akan mengecewakanmu</em></p>
<p><em>Aku tidak mau menyakitimu</em></p>
<p><em>Aku masih menyayangimu</em></p>
<p>Andini kembali mengulang kalimat-kalimat itu di hatinya.  Jarum panjang makin bergeser ke angka 12.  Sebentar lagi tahun baru bagi Indra.  Andini memejamkan mata dengan putus asa.  Dia berusaha meyakinkan hatinya.  Tapi rasa bersalah itu terus menghantuinya.   Andini mengakui dia tidak sepenuhnya membenci ciuman itu.  Dia memang terkejut dan menangis.  Tapi sisi lain hatinya tidak menyangkal dia menyukai kehangatan itu.  Dia terkejut ketika mendapatkan kebersamaannya dengan Dimas selama ini telah membuat sisi lain hatinya itu juga mengharapkannya.  Andini merasa galau.  Kebersamaan bersama Dimas entah kenapa makin jelas tergambar dalan pikirannya.  Untuk pertama kalinya Andini benar-benar membenci kepergian Indra ke luar negri.</p>
<p><em>Kenapa kau tidak selamanya berada di sisiku??</em></p>
<p>Jam menunjukkan pukul 7.  Andini tahu beberapa menit lagi adalah pergantian tahun bagi Indranya.  Andini melangkah perlahan menuju teleponnya.  Dia mulai menekan nomor kode internasional.</p>
<p><em>Apa yang harus kuucapkan indra?   Haruskah kukatakan hal ini padamu?</em></p>
<p>“Hello,” suara itu membuat Andini termangu sesaat.  Kenapa aku tidak merasa gembira?</p>
<p>“<em>Happy new Year</em>, Indra,” gumam Andini gamang.  Nama Dimas dan Indra berputar di pikirannya.</p>
<p>“<em>Thank you</em>,”</p>
<p>“<em>That crowded sound behind you</em>,” Andini berhenti sesaat.  “<em>I guess that is a very huge celebration there, isn’t?</em></p>
<p>“Ya.  Temanku mengajakku melihat pesta kembang api di Jubile Garden.  <em>It’s just amazing</em>,” jawab Indra.</p>
<p>Andini menggigit bibir. Basa-basi yang gagal.  Andini mendapatkan dirinya justru terusik dengan jawaban itu.  Indra bersama dengan seseorang di sana? Andini yakin pikirannya mulai kacau.  Hati kecilnya menegur bagaimana dia bisa berpikir seperti itu sementara dia sendiri barusan berpikir tentang nama yang lain?  Dia sendiri baru saja menghabiskan pergantian tahun ini dengan yang lain.  Andini menghela nafas.</p>
<p><em>Inikah saatnya ujian ituTeman?  Apakah wanita?  Secantik apa?  Apakah dia pirang dan langsing?</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Temanmu,” Andini menggigit bibir sesaat.  “Perempuan atau laki-laki?”</p>
<p>“Dua-duanya,” jawab Indra.</p>
<p>“Berapa orang?”</p>
<p>“Kami berlima.  Semua teman kampusku,” jelas Indra.  Andini terdiam.  Entah kenapa Andini tidak merasa gembira dengan jawaban itu.  Perlahan dia merasa seperti dipojokkan.</p>
<p><em>Aku yang berdua dengan lainnya, bukan dirimu.</em></p>
<p>&#8220;Pemandanganya indah sekali di sini.  Kuharap aku bisa membaginya bersamamu sekarang,&#8221; kata Indra lagi.  Andini menggigit bibir.</p>
<p><em>Mungkin di antara mereka berempat ada satu yang sekarang di sampingmu.  Ya, kan?</em></p>
<p>Andini mencoba memikirkan sebuah gambaran.  Gambaran yang mungkin akan memudahkannya menyelesaikan semuanya</p>
<p>“Apakah ada yang benar-benar bersamamu?” tanya Andini perlahan.  Hening.  Indra, kenapa kau tidak menjawabnya?</p>
<p>“Andini, apa maksudmu?”  Andini merasa desiran aneh di dadanya.  Dia terkejut menyadari dia sempat berpikir Indra akan menjawab ya.  Apa yang ada di pikirannya?  “Aku hanya bersamamu, <em>forever and always</em>.”</p>
<p>Andini merasa desiran aneh di dadanya.  Sesuatu sedingin air es seolah menyiram pikirannya dan mengembalikan kesadarannya.  Andini panik.  Apa yang baru saja dia pikirkan? Gambaran-gambaran itu dan semua bentuk kemungkinan yang ada di kepalanya, Andini gemetar.</p>
<p><em>Kenapa aku sempat berpikir untuk memutuskanmu?</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dia terkejut menyadari dia sempat berpikir Indra akan menjawab ya.  Apa yang ada di pikirannya?  Kesadaran itu seolah memutar balik pikirannya yang sempat dipenuhi oleh kebersamaanya bersama yang lain.  Andini teringat dengan kenangan-kenangan itu.</p>
<p>Beberapa tahun yang lalu mereka masih sama-sama di bangku kuliah. Andini ingat rasa kagumnya dengan keseriusan dan ketegasan pemuda itu.  Dia ingat segala cara dan upaya yang dilakukannya untuk membuat dirinya menjadi satu-satunya perempuan yang berhasil membuatnya menoleh.  Dia ingat perdebatan mereka, kebersamaan mereka, kenangan mereka dan dia sempat berpikir untuk mengaburkan itu semua hanya karena kefrustasiannya akan kerinduan yang sesaat.  Andini merasa ingin menangis.  Sekarang dia benar-benar merasa bersalah.</p>
<p>Dia mengerti.  Andaikan Indra menjawab “ya” dia akan mempunyai sebuah alasan untuk sebuah pertengkaran.  Pertengkaran yang akan memudahkannya memutuskan kegundahan hatinya.  Pertengkaran yang memungkinkan nama itu mengganti sebuah nama di pikirannya.  Sekarang dia mengerti. Bila Indra di sana masih menjaga perasaan itu di sana mengapa dia tidak?  Tapi apakah Indra akan tetap mempertahankan jika dia mengetahuinya?</p>
<p>“Andini,” kata Indra khawatir.</p>
<p>“….”</p>
<p>“<em>Are you okay</em>?”</p>
<p>Andini tidak tahan lagi.</p>
<p>“Indra,” Andini terdiam sesaat. Bimbang. “Dimas berciuman dengan Dimas,” katanya akhirnya.</p>
<p>Hening.</p>
<p><em>Kenapa kau diam, Indra?  Katakan sesuatu!  Kau marah pada kami??</em></p>
<p>“Bagaimana perasaanmu?”</p>
<p>“Aku tidak tahu,” kata Andini jujur. Hening.</p>
<p>“Aku mencintaimu, Andini.&#8221;</p>
<p>Tangis Andinipun pecah.</p>
<p>*******</p>
<p>HAPPY NEY YEAR  2010 ALL&#8230;.^^</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritayosi.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritayosi.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritayosi.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritayosi.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritayosi.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritayosi.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritayosi.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritayosi.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritayosi.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritayosi.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritayosi.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritayosi.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritayosi.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritayosi.wordpress.com/53/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritayosi.wordpress.com&amp;blog=10826468&amp;post=53&amp;subd=ceritayosi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritayosi.wordpress.com/2010/01/03/the-words/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ceccd319d816b975f798a40b86db172?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ceritayosi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dakon</title>
		<link>http://ceritayosi.wordpress.com/2010/01/03/dakon/</link>
		<comments>http://ceritayosi.wordpress.com/2010/01/03/dakon/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 02:48:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ceritayosi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritayosi.wordpress.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[Nduk, belikan ibu dakon, ya? Tolong belikan ibu dakon yang terbuat dari kayu, jangan yang terbuat dari plastik.  Dakon plastik mudah pecah.  Pilihkan juga yang menakai penyangga supaya bisa berdiri dan tidak mudah tergelincir.  Jangan lupa lengkapi dengan biji keong, jangan biji sawo.  Biji sawo suaranya lirih.  Biji keong suaranya jelas dan keras. Maka hari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritayosi.wordpress.com&amp;blog=10826468&amp;post=49&amp;subd=ceritayosi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ceritayosi.files.wordpress.com/2010/01/dakon-new.jpg"><img class="aligncenter size-thumbnail wp-image-50" title="dakon new" src="http://ceritayosi.files.wordpress.com/2010/01/dakon-new.jpg?w=234&#038;h=186" alt="" width="234" height="186" /></a></p>
<p><em>Nduk</em>, belikan ibu <em>dakon</em>, ya?</p>
<p>Tolong belikan ibu dakon yang terbuat dari kayu, jangan yang terbuat dari plastik.  Dakon plastik mudah pecah.  Pilihkan juga yang menakai penyangga supaya bisa berdiri dan tidak mudah tergelincir.  Jangan lupa lengkapi dengan biji keong, jangan biji sawo.  Biji sawo suaranya <em>lirih</em>.  Biji keong suaranya jelas dan keras.</p>
<p>Maka hari itu aku membelikan ibu sebuah dakon dari kayu dengan kaki penyangga dan biji keong.  Harganya lebih mahal daripada dakon plastik dengan biji sawo.  Lubang-lubangnya sebesar bola tenis.  Warnanya merah dengan ukiran bercat emas, terang dan cerah, sama cerah dengan wajah ibu ketika menerimanya.</p>
<p>Ibu meletakkan dakon itu di teras.  Ibu duduk disampingnya sambil membagi-bagi biji keong, tujuh-tujuh pada setiap lubang.  Semuanya ada empat belas lubang, tujuh di sisi kanan dan tujuh di sisi kiri.  Ibu mulai memilih satu lubang.  Mengambil keong segenggam dan menjatuhkan biji-biji keong itu satu persatu pada lubang-lubang lainnya dengan teliti.</p>
<p>Kenapa ibu main dakon sendirian?</p>
<p>Diam, <em>nduk</em>.  Ibu sedang berbicara dengan dakon.</p>
<p>Dakon tidak bisa diajak bicara, Bu.</p>
<p>Tapi dakon bisa mendengarkan.</p>
<p>Aku tidak tahu harus berkata apa sementara ibu mulai bercerita.</p>
<p>****</p>
<p>Ibuku, <em>Nduk</em>, seperti <em>Raden Ajeng</em> orangnya.  Bapakku, <em>Nduk</em>, bukan bangsawan tapi mandor kebun milik orang Belanda.  Waktu itu, kalau kerja dengan Belanda berarti dianggap <em>priyayi</em>.  Rumahnya besar, ada <em>pendopo</em>nya, ada <em>bendi</em>nya, ada <em>kacung</em>nya, ada si <em>mbok</em>nya dan ada prajurit jaganya.  Itu sebabnya ibuku hidup seperti <em>Raden Ajeng</em>.  Punya anak sembilan berarti si <em>mbok</em>nya juga ada sembilan.  Setiap hari ibuku suka jalan-jalan ke pasar menggunakan <em>bendi</em> ditemani <em>kacung</em> yang memegang payung.  Ibuku selalu membawa kipas dan memakai kebaya-kebaya yang bagus.  Emasnya melingkar dan menggantung di sana sini.  Ibuku benar-benar berlagak menjadi <em>Raden Ajeng</em>. sehingga kamipun mulai memanggilnya <em>Raden Ajeng</em>.  Sayangnya, dia suka berjudi dan merokok, tertawa dan berpegangan dengan lelaki.  Tingkahnya lebih mirip <em>lonte</em> daripada raden ajeng.<span id="more-49"></span>Aku, <em>Nduk</em>, sering kesepian.  <em>Raden ajeng</em> tidak suka mengurus anak.  Urusan anak selalu diserahkan kepada si <em>Mbok</em> masing-masing anak.  Setelah melahirkan dia segera menguruskan badan dan kembali bersiap jalan-jalan.  Setiap pagi aku selalu melihat dia berdandan dengan perlengkapan yang dia beli dari kenalan pedagang Arab atau Tionghoa.  Setiap hari aku akan mendengar suaranya yang nyaring berseru memanggil kacung agar menyiapkan bendi.  Kemudian aku akan melihat punggung rampingnya berlalu pergi.</p>
<p>Suatu hari aku ingin ibuku.  Aku ingin bermain bersamanya.  Maka pagi itu aku mendekati Raden ajeng yang sedang berdandan.  <em>Raden ajeng</em> diam saja, tidak berkata bahkan menoleh padaku.  Tangannya bahkan masih sibuk memasang <em>tusuk konde </em>ketika dia memanggil si Mbok.  Aku termangu.  Raden ajeng tidak mau memandangku.  Justru si Mbok yang kemudian mendekatiku.</p>
<p><em>”Den Rara</em> main sama <em>Mbok</em>, ya?”</p>
<p>”Tidak mau.  Aku ingin main dengan ibu.”</p>
<p>”Bawa dia keluar, <em>mbok</em>!”</p>
<p>Suara raden Ajeng terdengar melengking tidak sabar.</p>
<p><em>”</em>Ibu <em>Den rara </em>sedang sibuk.  Mari main di pendopo saja,”</p>
<p>Si Mbok mencoba membujukku.  Aku tergoda.  Entah kenapa sulit bagiku berkata tidak pada si Mbok.</p>
<p>”Mau main apa, <em>mbok</em>?”</p>
<p>”Mari saya ajarkan main dakon.”</p>
<p>Jadi, <em>Nduk, si Mbok</em> lalu mengajarkan dakon padaku.  Aku langsung menyukai permainan itu.  Aku tidak peduli lagi dengan ibuku.  Dakon sangat mengasyikan.  Suaranya ramai hingga mampu menutupi kesepianku.  Saudaraku juga suka main dakon.  Tapi aku tidak terlalu suka bermain bersama mereka.  Mereka selalu berisik.  Kadang mereka tidak suka kalah dariku. Kadang mereka suka curang padaku. Bermain bersama juga membuat keong cepat habis.    Aku suka main dakon sendirian.  <em>Mbok</em> selalu duduk disampingku sambil melantunkan kidung merdu, kadang <em>Gambuh</em>, kadang <em>Megatruh</em>, kadang yang lainnya.</p>
<p>Bapakku, <em>Nduk</em>, seorang mandor tebu.  Priyayi yang terpandang tapi tertekan.  Raden Ajeng selalu mendominasi rumah tangga.  Suaranya paling sering terdengar dan paling keras.  Perintahnya paling sering keluar.  Omelannya paling sering mengalir.  Raden ajeng mengatur segalanya.  Bapakku hanya diam mengelus dada.  Orang-orang bilang ibuku berjudi dan menggoda lelaki.  Bapakku diam.  Tapi diam ada batasnya.  Bapakku jatuh sakit dan meninggal.  Raden ajeng berkabung.  Tapi hanya dua hari.  Besoknya dia kembali panggil <em>kacung</em> untuk menyiapkan <em>bendi</em>.</p>
<p>Tapi aku sedih, <em>Nduk</em>.  Sedihku sampai tujuh hari tujuh malam.  Saudaraku juga sedih.  Ada yang lama, ada yang sebentar.  Tapi tidak mau ditunjukkan.  Mereka tidak menunjukkan, maka aku juga tidak mau menunjukkan.  Tapi aku sedih.  Sungguh.  Aku teringat pada dakon.  Dia tidak mungkin menganggap aku lemah atau cengeng.  Aku ingin dengar dentingan keongnya.  Aku mengambil dakon.  Aku ingin mengenang bapak.  Tapi aku tidak ingin terus bersedih.   Akupun main dakon.</p>
<p>Raden ajeng kalah taruhan judi.  Beritanya terdengar sampai para tetangga.  Mereka bilang kehormatan dan harta benda adalah taruhannya.  <em>Raden ajeng</em> pulang dengan kusut.  Kusutnya sekusut jarik si <em>mbok</em> yang menemaniku.  Rambutnya semasai ekor Ki Ageng,  kuda tua peninggalan bapak.  Aku mendapatkan rumah besar kami kosong dengan cepat.  Perabotnya dijual untuk bayar taruhan.  Para <em>kacung</em> dan para <em>mbok</em> mulai berhenti karena Raden ajeng tidak bisa bayar gaji.  Rumah dan pendopo tiba-tiba jadi sepi.  Raden ajeng terus merokok di kamar.  Saudara-saudaraku juga mulai pergi.   Mereka diambil oleh para <em>bude</em> dari Solo dan Wonogiri.  Mereka bilang <em>Raden ajeng</em> sedang kena karma.  Tapi aku tidak ingin meninggalkan perempuan yang sedang terkena karma.  Maka akupun menemaninya bersama satu-satunya si mbok yang masih tersisa.  Kadang saat sepi menyerang, aku merasa <em>nelangsa</em>.  Aku ingat bapak dan mbakyu.  Aku ingat para <em>kacung</em> dan para <em>mbok</em>.</p>
<p>Akupun main dakon.</p>
<p>Air mataku bergulir bahagia karena aku bisa melihat mereka di antara dentingan suara biji keong.  Halaman dan pendopo tiba-tiba menjadi ramai seperti dulu.  Aku terkejut dan berhenti.  Secepat angin, semuanya tiba-tiba menghilang.  Aku menangis sesengukan.  Si mbok tergopoh-gopoh datang.</p>
<p><em>”Den rara</em> kenapa?”</p>
<p>”Aku kangen orang-orang, <em>mbok</em>.”</p>
<p><em>”Den rara</em> main lagi, ya?”</p>
<p>Aku mengangguk.</p>
<p>Aku lantas main dakon dan kembali bahagia.</p>
<p>Walaupun saat itu hanya aku seorang, putri Raden ajeng yang tinggal, Raden ajeng tetap tidak suka padaku.  Dia sering membentak, bahkan memukulku.  Kami jatuh miskin.  Raden ajeng tidak bisa berdandan dan jalan-jalan, maka dia membentakku.  Raden ajeng tidak bisa taruhan di judi dan dijauhi teman-temannya, maka dia memukulku.  Raden ajeng mulai jual diri.  Setiap malam dia berganti lelaki.  Perhiasannya mulai kembali.   Dia mulai bisa jalan-jalan pakai bendi para bendoro itu.   Tapi aku tetap miskin bersama si mbok dan dakonku.  Di pasar anak-anak melempariku sambil berteriak-teriak,</p>
<p>”Anak pelacur!  Anak pelacur!  Kalau besar nanti jadi pelacur juga!”</p>
<p>Aku menangis.  Si mbok mengusir mereka.  Sampai di rumah aku mencari dakonku dan mulai bermain.  Aku melihat bapak datang dan para mbok dan kacung memenuhi halaman dan pendopo.  Aku tersenyum senang.  Aku tahu aku bukan anak pelacur.  Aku anak bapakku, seorang mandor di perkebunan Belanda, yang jabatannya setingkat demang.  Aku bukan anak pelacur karena pelacur tidak mungkin punya banyak abdi.</p>
<p>Aku terus main dakon.</p>
<p>Raden ajeng marah besar.  Dia dengar <em>bendoro tumenggung</em>nya punya kekasih baru.  Kata orang, gadis itu bekas penari keraton, bekas teman tidur sinuhun.  Bendoro tumenggung lebih menyukai mantan penari keraton itu daripada mantan istri mandor.  Raden ajeng ingin mengguna-gunai gadis itu, tapi dia tidak punya uang untuk membayar dukun.  Maka dia marah-marah sepanjang hari.  Aku ingin menghiburnya.  Tapi ketika aku mendekat, dia malah mengamuk dan menyebutku anak sialan.  Aku gemetar, tidak mengerti apa maksud ucapannya.  Aku menjerit ketika Raden ajeng menjambak rambutku dan mendorongku.  Aku menangis.  Si mbok datang tergopoh-gopoh dan langsung memelukku.</p>
<p>”<em>Ingat,</em> den Ajeng,” seru <em>si Mbok</em>.  ”<em>Den ra</em>ra putri anda.  Apa salah dia?”</p>
<p><em>Raden ajeng</em> berteriak marah,  Katanya kesalahanku adalah karena aku muncul dalam hidupnya.  Aku membuatnya merasa begitu tua.  Dibanding gadis penari itu, dia hanyalah seorang janda dengan anak perempuan yang mulai beranjak remaja.  Dia mengusir kami seperti orang gila.  <em>Si mbok</em> menarikku menyingkir ke dapur.  Aku berlari mengikuti <em>si mbok</em> sambil terisak-isak.  Tapi raden ajeng terus mengejar kami.</p>
<p>”Minggat kalian!  Minggat!!”  Katanya.</p>
<p>Tiba-tiba aku  mendengar bunyi bergemeratak disusul jeritan Raden ajeng.  Aku menoleh kaget.  Rupanya <em>raden ajeng</em> menabrak <em>pawon</em> dan menumpahkan kuali berisi air panas.  Air itu tumpah mengenai kaki kanannya.  <em>Raden ajeng</em> terduduk, tampak kesakitan luar biasa.  Matanya membelalak melihat kakinya yang melepuh.  Aku tidak tahan.</p>
<p>”Ibu!”  jeritku.  Tapi <em>si Mbok</em> menahan tanganku dan tetap membawaku ke luar dari rumah pendopo kami.</p>
<p>”Kita ke tempat salah satu <em>bude</em> di Solo,” kata si Mbok.</p>
<p>”Tapi aku tidak bisa meninggalkan ibu.”</p>
<p>”Sudah saatnya anda juga pergi, <em>Den</em>.”</p>
<p>Aku menangis.  Aku tidak sempat menengok bagaimana keadaan ibuku.  Aku mengikuti si mbok ke Solo.  <em>Bude</em>ku penjual kain di pasar dekat keraton Mangkunegaran.  Ketika melihatku, budeku senang bukan main.  <em>Bude</em>ku tidak punya anak.  Jadi dia menerimaku dengan gembira.  <em>Bude</em>ku dan suaminya memperlakukan aku dengan baik.  Setiap hari aku membantu <em>bude</em> berjualan batik dan beras di pasar.  Seharusnya aku bahagia.  Tapi aku malah teringat dengan <em>raden ajeng</em>.  Bagaimana keadaannya sekarang?  Bagaimana luka bakar di kakinya?  Saat aku teringat dengan Bapak dan rumah pendopo,  aku mulai mencari dakon.  Tapi aku tidak membawa dakonku yang lama.  Maka aku meminta si mbok untuk membelikan aku dakon yang baru.</p>
<p>Aku kembali berman dakon dan melihat mereka.  Aku melihat rumah pendopo.  Aku melihat bapak, saudara-saudaraku, para kacung dan para si Mbok.  Aku kembali tinggal di sana.</p>
<p>Suami <em>bude</em>ku seorang seniman.  Dia pelatih tari dan seorang tukang gambar.  Suatu hari dia memintaku untuk mencoba menari.  Aku menggeleng tidak bisa.  Maka dia mengajariku berlatih <em>mendhak</em> dan <em>sembah</em>.  Aku langsung bisa.  Katanya aku punya postur tubuh yang bagus.  Dia mengajariku <em>buang sampur</em> dan <em>trisik</em>.  Kata <em>Pakde</em> aku bisa jadi penari keraton.  Mendengar itu aku teringat dengan penari keraton musuh raden ajeng.  Aku tidak mau.  Tapi <em>pakde</em> membujukku untuk mempelajari satu tarian dulu sebelum memutuskan untuk menolak.   Aku tidak bisa menolak.   Ternyata setelah kucoba menari, aku justru merasa bahagia.  Aku menyukai tari.  Maka  akupun mulai belajar menari.</p>
<p><em>Bedhaya Anglir mendhung</em> tarian sakral yang sangat sulit.  Tapi aku bisa menguasainya dengan baik.  <em>Pakde</em> membawa aku ke keraton karena aku akan menari di depan <em>sinuhun</em>.  Umurku 15 waktu itu, <em>Nduk</em>.  <em>Bude</em> berseloroh siapa tahu ada pangeran yang tertarik padaku dan membawaku.  Jadi gundik <em>bendoro</em>pun tak apa.  Tapi aku tidak mau jadi simpanan para bendoro pangeran.  Aku tidak mau ada orang yang membenciku begitu rupa seperti Raden ajeng membenci bekas penari keraton itu.  Jadi aku sama sekali tidak  mempedulikan pandangan-pandangan terpesona para pangeran itu.  Aku hanya ingin menari hingga aku merasa sesuatu menyengat punggungku.  Aku mencuri lihat dan mendapatkan sepasang mata seorang ibu menatapku, tajam sekaligus lembut penuh perhatian.  Aneh, N<em>duk</em>, karena saat itu aku merasa sangat berdebar.  Seperti ada yang berbisik perempuan itu akan berpengaruh besar dalam merubah takdir hidupku.  Aku ingin tahu siapa dia, tapi aku harus konsentrasi.</p>
<p>Namanya Nyi Lasem, pemipis dan peramu jamu para putri keraton.  Suaminya seorang <em>prajurit dalem</em>.  Dia punya tiga orang anak laki-laki.  Yang paling tua adalah seorang <em>prajurit</em> muda. Dia mendekatiku selesai pertunjukkan dan bertanya apakah aku bersedia dijodohkan dengan anak laki-lakinya.  Dia ingin aku menjadi menantunya.  Aku memerah malu.  Aku bilang, itu terserah <em>Pakde </em>dan <em>Bude</em>.</p>
<p><em>Pakde</em> ternyata mengenal Nyi Lasem.  Dia bilang anak laki-laki Nyi Lasem juga penari.  Dia <em>bagus</em> dan gagah seperti <em>Djanoko</em> dan masih bujangan.  <em>Bude</em> bilang aku harus menerima lamaran itu.  Aku semakin malu mendengarnya.  Beberapa hari kemudian Nyi Lasem datang bersama putranya membawa buah tangan.  Aku malu luar biasa sampai tidak berani keluar.  <em>Pakde</em> dan <em>bude</em> tertawa dan mengobrol dengan para tamu membuatku penasaran.  Aku mencoba mengintip dari balik pintu dan terkejut ketika mendapatkan sepasang mata elang menatapku.  Mereka benar, <em>Nduk</em>.  Anak laki-laki Nyi Lasem memang seperti <em>Djanoko</em>.</p>
<p>Aku menikah dengan anak Nyi Lasem, bapakmu, beberapa bulan kemudian.  Bapakmu orang yang sangat baik dan pengertian.  Tutur katanya halus dan lembut.  Dia memperlakukan aku seperti putri.  Aku merasa aku bisa mati tanpanya saat itu.  Aku tidak peduli walaupun aku harus berusaha keras menuruti kehendak ibu mertuaku yang ternyata tidak pernah rela berbagi anak laki-lakinya padaku.  Kadang aku tertawa dalam hati.  Nyi Lasem yang memintaku menikah dengan putranya, tapi sebenarnnya dia tidak pernah merelakan putranya menikah.  <em>Si mbok</em> sudah pulang kampung sejak aku menikah.  Mertuaku tidak suka dia. Tapi di luar itu semua, hidupku bahagia.  Keluarga <em>abdi dalem</em> punya pamor yang tidak kalah dengan bangsawan keraton.  Maka pamorku ikut naik.  <em>Bude</em> bilang aku beruntung.</p>
<p>Jaman kemerdekaan menuntut Negara Republik Indonesia membentuk tentara.  Maka para prajurit dan pemuda ditarik menjadi bakal TNI, termasuk bapakmu.  Kami mulai hidup berpindah-pindah.  Di satu pihak aku bisa terbebas dari tekanan mertuaku, di lain pihak aku mulai sering berpisah dengan bapakmu.  Sedih dan sepi rasanya.  Akupun teringat dengan dakon.  Dakonku tertinggal di rumah <em>bude</em>.  Maka aku memutuskan untuk membeli dakon kayu lainnya.</p>
<p>Aku mulai main dakon.  Aku kembali melihat bapak dan rumah pendopo.  Aku melihat para kacung dan si mbok.  Tapi kini gambaranku bertambah.  Sekarang ada gambaran bapakmu yang selalu tersenyum dan membelaiku.  Aku terus memainkan dakon saat kesepian itu melanda.  Kemudin aku teringat dengan <em>Raden ajeng</em>.  Bagaimana kabar dia?</p>
<p>Saat perang usai, pemerintah memberi kami rumah untuk menetap.  Bapakmu sudah resmi menjadi pegawai TNI.  Aku sudah melahirkan <em>mas</em> dan <em>mbakyu</em>mu yang pertama.  Saat itulah aku memutuskan untuk kembali menengok rumah pendopo dan mencari kabar Raden ajeng.  Seorang teman lama mengenaliku di gerbang pendopo.</p>
<p>”<em>Mus</em>?”</p>
<p>”Par, aku kembali,” kataku.</p>
<p>”<em>Kamu </em> tambah cantik.”</p>
<p>”Aku sudah menikah.  Suamiku tentara republik.  Aku mencari ibuku.”</p>
<p>”Raden ajeng sudah tidak di rumah pendopo.  Rumah pendopo sudah dijual.  Ibumu sekarang ada di pasar, jualan kain.”</p>
<p>”Ibu masih hidup??”</p>
<p>Raden ajeng sudah sangat berubah.  Waktu aku menemuinya, dia tampak jauh lebih tua dari umurnya.  Dia sangat pendiam.  Tapi matanya berkaca-kaca ketika melihatku tiba-tiba muncul.  Kakinya yang tersiram air panas itu sekarang pincang dan menghitam.</p>
<p>”Mus!”</p>
<p>Aku gemetar.  Seumur hidupku baru sekali itu aku mendengarnya memanggil namaku.  Tiba-tiba aku sadar orang yang terduduk di hadapanku kini bukan lagi seorang raden ajeng yang menyilaukan, melainkan ibu kandungku yang sudah lama kutunggu kehadirannya.</p>
<p>”Ibu!”</p>
<p>Kami bertangisan.  Aku lantas mengajaknya tinggal bersama.  Mertuaku juga tinggal bersama kami.  Perang membuat mertuaku kehilangan penglihatannya.  Tapi aku tidak pernah keberatan merawat mereka, merawat bapakmu dan merawat kalian semua.</p>
<p>Aku tidak pernah merasa kesepian karena aku selalu memiliki dakon yang bisa membawaku kembali ke semua kenangan-kenangan itu.  Termasuk ketika aku harus kehilangan ibuku dan ibu mertuaku, melihat kalian menikah satu-persatu, bahkan saat ini, setelah bapakmu mendahuluiku menghadap <em>Gusti Allah</em>.  Berikan aku dakon, maka aku tidak akan pernah bersedih dengan hidup ini.</p>
<p>****</p>
<p>Ibu, mau sampai kapan bermain dakon?  Dan tolong berhentilah mendongeng.  Aku sudah tahu cerita selanjutnya.</p>
<p><em>Nduk</em>.  Kau bisa menyuruhku berhenti bercerita, tapi jangan suruh aku berhenti main dakon.</p>
<p>Kenapa?</p>
<p>Karena dengan begini aku bisa bertemu bapakmu.</p>
<p>Ibu, berhentilah <em>ngelantur.</em></p>
<p><em> </em>Aku tidak ngelantur.  Coba mainkan dakonnya, <em>Nduk</em>.  Kamu pasti akan rasakan sesuatu.</p>
<p>Tapi aku bukan anak kecil lagi, Bu.</p>
<p>Baiklah.  Tapi ingat, bila kelak kau teringat padaku, mainkanlah dakon.</p>
<p>Maka pada hari itu aku memandang dakon kayu milik ibu.  Dakon itu masih kokoh.  Perlahan aku meraihnya.  Aku mulai menata biji-biji keong itu, tujuh-tujuh pada setiap lubang.  Aku meraih segenggam keong dan mulai menjatuhkannya satu-persatu pada setiap lubang.  Suaranya menggema di tengah ruangan yang sunyi.  Gemanya masuk ke dalam telinga, berderak menembus pikiran.</p>
<p>Klak! Klak! Klak!</p>
<p>Tiba-tiba aku melihat bapak.  Lalu aku melihat ibu.  Mereka tersenyum lembut dan hangat padaku.</p>
<p>Tamat</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritayosi.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritayosi.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritayosi.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritayosi.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritayosi.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritayosi.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritayosi.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritayosi.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritayosi.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritayosi.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritayosi.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritayosi.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritayosi.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritayosi.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritayosi.wordpress.com&amp;blog=10826468&amp;post=49&amp;subd=ceritayosi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritayosi.wordpress.com/2010/01/03/dakon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ceccd319d816b975f798a40b86db172?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ceritayosi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ceritayosi.files.wordpress.com/2010/01/dakon-new.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">dakon new</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Secangkir kopi Untuk Suami</title>
		<link>http://ceritayosi.wordpress.com/2010/01/03/secangkir-kopi-untuk-suami/</link>
		<comments>http://ceritayosi.wordpress.com/2010/01/03/secangkir-kopi-untuk-suami/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 02:39:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ceritayosi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritayosi.wordpress.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Jeni tahu benar secangkir kopi di pagi hari adalah kesukaan suaminya.  Dia bahkan terlalu suka kopi hingga bisa terbangun saat menghirup aromanya.  Tujuh tahun usia pernikahan mereka tidak pernah sekalipun dia melupakan kewajibannya.  Sepanjang laki-laki itu bersamanya, secangkir kopi selalu dia hidangkan, kadang di meja makan, kadang di sisi ranjang sebagai pengganti jam beker yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritayosi.wordpress.com&amp;blog=10826468&amp;post=45&amp;subd=ceritayosi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://ceritayosi.files.wordpress.com/2010/01/kopi1.jpg"><img class="aligncenter size-thumbnail wp-image-47" title="kopi" src="http://ceritayosi.files.wordpress.com/2010/01/kopi1.jpg?w=150&#038;h=140" alt="" width="150" height="140" /></a></p>
<p>Jeni tahu benar secangkir kopi di pagi hari adalah kesukaan suaminya.  Dia bahkan terlalu suka kopi hingga bisa terbangun saat menghirup aromanya.  Tujuh tahun usia pernikahan mereka tidak pernah sekalipun dia melupakan kewajibannya.  Sepanjang laki-laki itu bersamanya, secangkir kopi selalu dia hidangkan, kadang di meja makan, kadang di sisi ranjang sebagai pengganti jam beker yang berisik dan, katanya, ketinggalan jaman.  Tapi pagi ini dia ragu.</p>
<p><em>Haruskah kuhidangkan secangkir kopi seperti biasanya?</em></p>
<p>Dia terduduk gelisah di ujung ranjang.  Laki-laki itu masih suaminya.  Dia masih istrinya.  Mereka berada di bawah atap yang sama.  Tapi laki-laki itu tidak bersamanya.  Dia bersama perempuan lain, gadis ingusan yang katanya dikenalnya baru-baru ini, yang tiba-tiba saja dinikahinya kemarin, yang kali ini berada di sisi laki-laki itu.  Maka sudah sewajarnya kewajiban itu beralih menjadi kewajiban gadis ingusan itu.</p>
<p><span id="more-45"></span></p>
<p>Dia membayangkan gadis ingusan itu membuat secangkir kopi, meletakkannya di sisi ranjang, menunggu dengan sabar laki-laki itu terbangun lalu tersenyum manis di hadapannya.  Laki-laki itu akan menyesap kopi itu, memuji rasanya yang manis, lalu berlanjut memuji senyumnya yang manis.  Mungkin gadis itu akan memeluknya, mungkin juga berlanjut ke ronde berikutnya.  Dia tahu persis setiap detailnya, karena biasanya dialah gadis itu.  Sekarang gadis ingusan itu akan menggantikannya dan itu membuatnya marah.</p>
<p><em>Tidak!  Dia hanya gadis ingusan yang baru dinikahinya kemarin.  Dia belum tahu apa-apa atas kebiasaannya.  Dia tidak tahu secangkir kopi bisa membangunkan laki-laki itu.  Dia tidak sama denganku!</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dia beranjak bangkit dan melangkah menuju dapur.  Dia sudah bertekad untuk membuatnya.  Tapi langkahnya terhenti di depan pintu dapur.  Aroma kopi menyerbu hidungnya, harum, pekat dan manis.  Dia menegang.</p>
<p><em>Siapa yang telah menduluiku menunaikan tugas itu?!</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>“Selamat pagi,”</p>
<p>Dia tertegun memandang perempuan lain yang telah mengambil alih tugasnya.  Dia hampir lupa kalau sekarang dia juga sedang seatap dengan Hani, madunya, istri pertama laki-laki itu.  Sementara di bagian kamar lain, gadis ingusan itu, madunya yang lain, masih terlelap dalam pelukan laki-laki itu, di ranjang pengantin mereka.  Dia menggigit bibir.</p>
<p><em>Sebenarnya kehidupan apa yang sedang kujalani?</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>“Tidak baik pagi-pagi melamun.”</p>
<p>Dia menoleh.  Hani tersenyum lembut.  Entah kenapa Jeni mulai tidak suka dengan senyum itu, kecuali kalau senyum itu berarti kegetiran terpendam yang sebetulnya ingin dia keluarkan.  Dia berpikir mungkin dia bisa menanyakan arti senyuman itu nanti.</p>
<p>“Mbak kenapa masih tersenyum?” tukasnya.  “Mbak kan tahu perasaan saya yang sebenarnya tentang pernikahan ini,” katanya.</p>
<p>Hani tersenyum lagi.</p>
<p>“Soal persetujuan itu, kita kan sudah sepakat untuk menyerahkannya pada suami kita.  Lagipula pernikahan itu sudah berlangsung.  Pasrahkan saja.”</p>
<p>Dia terdiam.  Dia sudah terlalu capek menangis beberapa hari ini. Sejak awal dia tidak pernah menyetujui pernikahan ini.  Tadinya dia pikir akan mudah meniru sikap madunya ini, bersabar menerima keputusan laki-laki itu demi masa depan anak dan kebahagiaan suami.  Madunya bilang begitulah bakti seorang istri.  Tapi hingga saat terakhir tadi dia berpikir, dia masih tetap belum bisa menerima kenyataan harus berbagi suami dengan gadis ingusan itu.</p>
<p>“Mbak,”</p>
<p>“Ya?”</p>
<p>“Apa dulu saat saya menikah dengan Mas Her, Mbak juga merasa galau dan marah seperti ini?”</p>
<p>Dia memandang madunya, berharap pertanyaannya telah berhasil mengusik hal paling pribadi dalam pikiran perempuan itu.  Semoga dia bisa melihat sedikit emosi dalam diri madunya.  Hani menghela nafas.</p>
<p>“Aku sempat  limbung.  Tapi kurasa itu perasaan yang normal.”</p>
<p>Dia kecewa nada suara itu tidak terdengar emosional di telinganya.</p>
<p>“Kenapa tidak menentang atau minta cerai?”</p>
<p>“Itu tidak sepenuhnya menyelesaikan masalah,” kata madunya bijak.  “Lagipula akhirnya kita bisa terbiasa juga.  Kau dan aku tidak ada masalah.  Kurasa kita hanya perlu membiasakan diri dengan keberadaan Kiara.”</p>
<p><em>Tidak, aku tidak akan pernah terbiasa, bahkan denganmu.  Selama ini aku hanya bertoleransi padamu karena kamu memilikinya lebih dulu.  Aku cukup tahu diri.  Tidak pantas kalau aku yang menendangmu keluar.  Harusnya kau yang menendangku pergi.  Tapi kau tidak.  Sekarang, tahukah kau aku sangat ingin menyeret bocah ingusan itu keluar?</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Mereka terdiam.</p>
<p>“Anakmu belum bangun?” tanyanya mencoba mengalihkan topik pembicaraan.  Madunya menggeleng.  “Mas Her dan gadis ingusan itu juga belum bangun?”</p>
<p>“Kiara, Jen.  Perempuan itu punya nama.”</p>
<p><em>Terserah!</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Hening.  Dia memandang madunya meletakkan cangkir itu di atas baki kecil.</p>
<p>“Kopi itu untuk Mas Her, Mbak?”</p>
<p>Hani mengangguk.</p>
<p>“Saya bawakan, ya?”</p>
<p><em>Sudah kubilang akupun tidak pernah terbiasa denganmu.  Akulah yang berhak menghidangkan cangkir kopi itu.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>“Silahkan..”</p>
<p>Dia meraih baki kecil itu.  Kekecewaannya sedikit terobati.  Dia akan mendapatkan kekuasaannya kembali.  Dia mengakui madunya terlalu baik.  Itu yang membuatnya merasa serba salah untuk menyingkirkannya dari sisi laki-laki itu.  Andaikan perempuan itupun sekeras dirinya, dia tidak akan ragu untuk merebut laki-laki itu seutuhnya dari kehidupannya.  Kebaikan perempuan itulah yang membuatnya bersedia bertoleransi menjalani poligami ini.  Cukup antara mereka berdua, tidak dengan perempuan ketiga dan seterusnya.  Dia melangkah menuju kamar suaminya dengan ringan.</p>
<p>“Itu kopi buat Mas Her?”</p>
<p>Pertanyaan itu menghentikan langkahnya di lorong kamar.  Gadis itu sudah berdiri di hadapannya.  Gadis itu bertahun-tahun lebih muda darinya.  Dia mengamatinya lekat-lekat. Berapa mereka bilang umurnya?  Kepala dua?  Sekian belas?  Rambut gadis itu masih sekusut dasternya.  Gadis itu tersenyum sopan.  Tapi di matanya, senyum itu terlihat seperti seringai mengejek penuh kemenangan.</p>
<p>“Ya,” jawabnya waspada.  Dia belum pernah berhadap-hadapan secara langsung dengan gadis itu.  Entah kenapa nalurinya mengajaknya mengambil sikap menantang.</p>
<p><em>Siaga satu!</em></p>
<p>“Berikan padaku, Mbak.  Biar kutaruh di dalam kamar.  Mas Her masih tidur.  Susah sekali dibangunkan.  Aroma kopi bisa membuatnya terbangun, kan?”</p>
<p>Dia tersentak dalam hati.</p>
<p><em>Gadis ingusan ini  juga  mengetahui kebiasaan itu??</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dia mengerjap.  Gadis itu menarik baki dari tangannya.  Refleks dia mempertahankannya.  Harga dirinya sedang terancam.  Dia tidak akan membiarkan siapapun menghalanginya melaksanakan kebanggaannya sebagai seorang istri.</p>
<p>“Mbak?!”</p>
<p>Dia tersadar.  Selama beberapa saat mereka baru saja saling tarik baki secangkir kopi itu.  Gadis itu memandangnya dengan heran.  Tapi di matanya, gadis itu bagaikan mengirimkan ultimatum terakhir padanya.</p>
<p><em>Enyah kau!  Bagaimanapun aku adalah istri termuda!</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em>Dia merasakan wajahnya memucat.</p>
<p><em>Aku tidak bisa menjalani ini!</em></p>
<p>Gadis itu terpekik kaget merasakan beban yang tiba-tiba melimpah di lengannya ketika Jeni melepaskan baki itu begitu saja.  Baki itu tergelincir menghantam lanti.  Cangkir kopi di atasnya pecah berkeping-keping sementara dia berlari menjauh.</p>
<p><em>Aku tidak tahan lagi!</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>*****************************</p>
<p>Jeni membuka pintu kamarnya dengan kasar.  Buru-buru dia menarik kopernya dari bawah tempat tidur.  Dia membuka lemari pakaiannya dan meraup setumpuk pakaiannya.</p>
<p><em>Tidak bisa terus-terusan menangis!</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Tergesa-gesa dia menyimpan semuanya dalam koper itu.  Dia mengepak semua perlengkapan kosmetiknya dan memberesi perlengkapan laptopnya.  Memasukkan semua baju dan perelngkapan anak laki-lakinya ke dalam ranselnya.</p>
<p><em>Harus lakukan sesuatu!</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>“Dion!”</p>
<p>Dia berseru pada putranya yang masih asyik bergelung dengan selimutnya.  Dia mengguncang bahu bocah itu dengan keras ketika tidak mendapat respon yang berarti.  Bocah berumur tujuh tahun itu terbangun kaget.</p>
<p>“Mama?”</p>
<p>“Ayo bangun!”</p>
<p>“Aku masih ngantuk,-“</p>
<p>“Bangun!!” perintahnya tidak sabar.</p>
<p><em>Mengertilah kondisiku, Nak.  Aku kalut.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Anaknya bangkit dengan malas.  Sesaat dia terheran-heran memandang koper dan ibunya yang mondar-mandir mengepak barang.</p>
<p>“Mama mau kemana?”</p>
<p>“Pergi!” jawab perempuan itu tanpa menghentikan gerakannya.</p>
<p>“Kemana?”</p>
<p>“Pulang!”</p>
<p>Dia beralih memandang putranya.</p>
<p>“Kalau kau mau ikut, cepat gosok gigimu dan ganti bajumu.  Mama tidak punya banyak waktu!”</p>
<p>“Tapi aku nggak mau pulang sekarang!” rengek bocah itu.  Dia melotot tidak sabar.  Dia tidak bisa menolerir kemungkinan putranya akan menentangnya.</p>
<p>“Ganti bajumu sekarang!” katanya serta-merta menyeret bocah itu turun dari tempat tidur menuju kamar mandi dengan tidak sabar.</p>
<p>“Nggak mau!”</p>
<p>“Kita pulang!”</p>
<p>“Nggak!!”</p>
<p>“Jangan membantah!”</p>
<p>“Mama!!”</p>
<p>“Jeni, ada apa?  Kiara tadi bilang,&#8211;“</p>
<p>Dia menoleh.  Madunya sudah berdiri di ambang pintu dengan mata terbelalak kaget memandang koper yang hampir selesai dipak.  Dia tersadar.  Putranya gemetar ketakutan meringkuk di lantai.  Mungkin bocah shock saat terbangun mendapatkan ibunya marah-marah seperti orang gila.</p>
<p>“Jeni, kau mau pergi?” tanya Hani</p>
<p>“Ya!” jawabnya kembali memaksa putranya bangun dan menyeretnya ke kamar mandi.  Hani mengikutinya dengan panik.</p>
<p>“Tapi kenapa?”</p>
<p>“Aku sudah tidak tahan!” jawabnya sambil menyodorkan sikat gigi pada putranya.  Bocah itu tidak punya pilihan lain selain menurut.</p>
<p>“Tenang dulu, Jen, istighfar,-“</p>
<p>“Dengar, Mbak!” potongnya sambil mengumpulkan semua perlengkapan toiletrisnya.</p>
<p>“Saya tidak pernah berpikir akan menjalani rumah tangga begini.  Dulu saya berhubungan dengan dia karena saya tidak tahu dia sudah beristri.  Dulu saya menikah dengan dia karena saya sudah punya Dion.  Dulu saya tidak memintanya menceraikan Mbak karena Mbak terlalu baik.  Dulu saya tidak pernah mempermasalahkan poligami ini karena rasa bersalah dan rasa hormat saya pada Mbak.”</p>
<p>Sambil berkata dia membasuh wajah putranya asal-asalan membuat bocah itu megap-megap.  Dia melempar begitu saja sehelai handuk ke wajah bocah itu.  Dion langsung menerima dan mengeringkan dirinya dengan takut-takut.  Bocah itu tidka tahu apa yang terjadi, tapi dia tahu ibunya sedang marah hebat.</p>
<p>“Tapi sekarang aku tidak bisa menerima pernikahan ini.  Setelah yang ketiga, siapa yang bisa menjamin tidak akan ada yang keempat dan seterusnya??  Aku tidak bisa serumah dengan kalian semua!” tukasnya.  “Ganti bajumu!” perintahnya pada putranya.  Dion menurut.  Ketika melewati Hani, bocah itu memandangnya sesaat dengan pandangan memelas.</p>
<p>“Kasihan anakmu.  Dia,&#8211;“</p>
<p>“Keputusanku sudah bulat, Mbak!  Aku mau pulang dan aku tidak akan pernah bersedia lagi tinggal bersama kalian walaupun semalam!”</p>
<p>Dia merapikan diri, mengunci kopernya lalu meraih tasnya.  Ditariknya putranya yang sudah siap dengan ransel pakaiannya.</p>
<p>“Ayo kita pergi, Jon!”</p>
<p>Terburu-buru mereka berlalu membawa tas koper mereka.  Di ambang pintu langkahnya terhenti mendapatkan pasangan itu telah berdiri di hadapannya dan memandangnya dengan pandangan bertanya.  Rambut gadis ingusan itu masih sekusut dasternya.  Laki-laki itu masih memakai sarungnya.</p>
<p>“Jeni, ada apa ribut-ribut?”</p>
<p>“Pa, mama galak ba—“</p>
<p>Dia menepis mulut putranya.</p>
<p>“Aku pulang, Mas!”</p>
<p>“Jeni?”</p>
<p>“Oya, satu lagi!” katanya menambahkan.  “Aku juga minta cerai!</p>
<p>“APA??”</p>
<p><em>Cukup, Mas.  Omong kosong dengan segala urusan berbakti pada suami atau berkompromi dengan poligami.  Aku juga punya hati dan harga diri.  Kau memilih menikah lagi, maka aku akan pergi.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritayosi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritayosi.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritayosi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritayosi.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritayosi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritayosi.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritayosi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritayosi.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritayosi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritayosi.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritayosi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritayosi.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritayosi.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritayosi.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritayosi.wordpress.com&amp;blog=10826468&amp;post=45&amp;subd=ceritayosi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritayosi.wordpress.com/2010/01/03/secangkir-kopi-untuk-suami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ceccd319d816b975f798a40b86db172?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ceritayosi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ceritayosi.files.wordpress.com/2010/01/kopi1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">kopi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hujan</title>
		<link>http://ceritayosi.wordpress.com/2010/01/03/hujan/</link>
		<comments>http://ceritayosi.wordpress.com/2010/01/03/hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 02:30:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ceritayosi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[familiy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritayosi.wordpress.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Sudah bebera menit Irin berdiri di dekat jendela rumah kami.  Mata kecilnya memandang langit yang perlahan mulai berubah warna menjadi kelabu cepat dengan cemas.  Garis-garis kecemasan makin tergambar jelas di wajahnya.  Bunyi guntur mulai terdengar disusul gemuruh aneh sayup di kejauhan.  Mungkin hujan yang luar biasa lebat sudah turun di wilayah itu.  Sekelompok burung kecil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritayosi.wordpress.com&amp;blog=10826468&amp;post=40&amp;subd=ceritayosi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ceritayosi.files.wordpress.com/2010/01/hujan.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-41" title="hujan" src="http://ceritayosi.files.wordpress.com/2010/01/hujan.jpg?w=205&#038;h=300" alt="" width="205" height="300" /></a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sudah bebera menit Irin berdiri di dekat jendela rumah kami.  Mata kecilnya memandang langit yang perlahan mulai berubah warna menjadi kelabu cepat dengan cemas.  Garis-garis kecemasan makin tergambar jelas di wajahnya.  Bunyi guntur mulai terdengar disusul gemuruh aneh sayup di kejauhan.  Mungkin hujan yang luar biasa lebat sudah turun di wilayah itu.  Sekelompok burung kecil terbang rendah berputar-putar.  Kata orang, mereka adalah burung-burung hujan.  Mereka selalu muncul bergerombol saat mendung gelap menggantung dan menghilang saat hutan hujan lebat turun.</p>
<p>Aku pernah mencoba mengamati burung-burung itu dengan lebih teliti.  Apa keistimewaannya sehingga mereka bisa memanggil hujan?  Apakah mereka memiliki gelombang suara khusus yang bisa menarik air turun ke bumi atau bagaimana?  Salah satu dari mereka pernah terjebak masuk ke teras kami.  Suamiku menangkapnya dan aku memeriksanya.  Ternyata mereka tidak lebih dari burung gereja biasa yang baru saja berpesta di sawah di dekat rumah kami dan hanya sekedar ingin pulang ke sarangnya sebelum terperangkap dalam hujan.  Mitos itu tidak benar.  Mereka tidak bisa memanggil hujan.  Sayangnya, Irin masih menganggap itu benar.  Dia tidak menyukai kehadiran mereka.</p>
<p>“Mau sampai kapan Irin berdiri di situ terus?”</p>
<p><span id="more-40"></span>Pertanyaanku membuat gadisku menoleh.  Aku bergerak menyalakan lampu.  Mendung membuat ruangan ini gelap.  Irin seolah tidak berminat untuk menjawab.  Dia menoleh sekilas lalu kembali memandang langitnya dengan nelangsa, seolah meratapi warna biru yang kini telah menghilang.</p>
<p>”Mau hujan, Ma,” katanya pelan.  Aku bisa merasakan nada kecemasan itu.  Aku menghela nafas</p>
<p><em>Lagi-lagi.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Entah sejak kapan hal ini dimulai.  Mungkin sejak musim hujan yang lalu?  Atau musim hujan sebelumnya?  Aku tidak ingat.  Irin, putriku yang baru berusia tujuh tahun itu mulai bersikap aneh terhadap hujan.  Dia selalu khawatir melihat awan tebal yang bergulung.  Dia selalu menutup telinga saat mendengar halilintar.  Dia akan lari bersembunyi di kamarnya dan menutup semua jendela dan tirai lalu meringkuk di tempat tidur saat hujan datang.  Dia akan menyelimuti dirinya dan membenamkan wajahnya dalam bantal bila suara-suara menggelegar dan bergemeratak itu makin keras.</p>
<p>Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan.  Aku membiarkan dia bersembunyi di kamar dan berbuat sekehendaknya.  Namun ketika gelagat itu berlanjut di setiap hujan-hujan berikutnya, aku mulai merasa perlu untuk menanyakan sebabnya.  Irin bilang hujan itu menakutkan.  Ketika kutanya alasannya, dia tidak menjawab. Aku mulai membahasnya dengan suamiku.  Menurutnya, kecemasanku berlebihan.  Itu hanya sebuah ketakutan yang wajar, sama seperti anak kecil yang takut dengan halilintar atau kegelapan.  <em>”Nanti juga hilang sendiri saat dewasa,” </em>katanya</p>
<p>Aku tidak puas</p>
<p>”Ya, mau hujan,” kataku mengulang kalimat Irin.  ”Ayo kita main sesuatu di kamar,” ajakku lembut sambil membopong Dinar, adik Irin.</p>
<p>Irin mengangguk dengan asntusias.</p>
<p>Kami berbaring bertiga di tempat tidur.  Aku bertanya tentang semua pengalaman Irin hari ini di sekolah.  Dia bercerita dengan penuh semangat tentang banyak hal sambil membelai-belai punggung Dinar yang mulai mengantuk.  Hujan deras mulai turun besar-besar menimpa atap rumah kami.  Guntur mulai menggelegar.  Irin menghentikan ceritanya dan memandangku dengan panik.  Aku tersenyum lembut.  Kubelai kepalanya.</p>
<p>”Tidak apa-apa.  Hanya guntur.”</p>
<p>Irin mengangguk dan kembali menyandarkan kepalanya pada bantal dengan lebih tenang.</p>
<p>”Adik sudah tidur.  Irin juga tidur, ya,” kataku.</p>
<p>”Mama masih di sini, kan?”  tanyanya.</p>
<p>”Ya,” jawabku.</p>
<p>Irin menghela nafas lega dan mulai memejamkan mata.  Kubelai punggungnya.  Irin selalu cepat terlelap bila dibelai punggungnya.  Kadang dia memintaku menyanyikan lagu-lagu sederhana sambil menyodorkan punggungnya untuk dibelai.  Irin meringkuk makin dekat dan mulai memejamkan mata.  Kecemasan yang menggantung di wajahnya perlahan memudar, berganti dengan ekspresi damai.  Aku mengamatinya.</p>
<p>Dua minggu yang lalu, keluarga iparku datang berkunjung.  Kami mengajak mereka mengunjungi daerah wisata pegunungan di kota kami.   Musim hujan membuat acara rekreasi kami tidak berlangsung lama.  Siang hari mendung sudah mulai tampak menggelanyut.  Irin seperti biasa mulai tampak gelisah dan menarik-narik tanganku.  Aku mencoba menenangkannya.  Kubilang padanya tidak sopan kalau mengajak tamu kita pulang saat mereka masih menikmatiik rekreasi ini.  Mendung makin rendah dan tebal.  Beruntung tamu kami mulai berpikiran sama dengan Irin.  Mereka memutuskan untuk pulang.</p>
<p>Sayang sebelum kami sampai di tempat parkir, hujan sudah turun dengan lebat.  Kami terpaksa berteduh di <em>gazebo</em> yang memang diperuntukkan bagi para pengunjung yang ingin beristirahat.  Tapi Irin tidak sependapat dengan kami.  Tiba-tiba dia mulai merengek pulang.  Aku mencoba membujuknya dengan berkata tidak mungkin kami berhujan-hujan menuju tempat parkir.  Di luar dugaan, Irin menolak mendengarkan dan mulai menangis.  Suamiku dan adik iparku mencoba untuk ikut membujuk. Tapi tangis Irin justru makin keras, sekeras bunyi hujan yang turun makin lebat. Ketika kami tidak juga, Irin mulai menangis histeris dan meronta.  Aku hanya bisa memeluk menenangkannya sementara mata pengunjung lain memperhatikan kami.  Kejadian di tempat wisata itu tidak bisa dibiarkan.  Bagaimana kalau Irin juga bersikap semacam itu di tempat lain ketika tidak bersama dengan kami?</p>
<p>Mungkin suamiku benar, ketakutan Irin akan hujan bukan masalah besar.  Aku juga tidak menganggapnya sebagai sebuah <em>phobia</em> karena sebelumnya Irin tidak pernah bermasalah bila hujan turun.  Hal ini justru membuatku penasaran.  Segala sesuatu pasti ada sebabnya.  Ketakutan Irin yang mendadak ini pasti ada sebabnya juga.  Apakah ada hal kecil yang menyebabkannya?  Bagaimana kalau hal besar?  Bagaimana kalau sesuatu yang berhubungan dengan hujan telah dialami putri kecilku sehingga membuatnya ketakutan setengah mati.  Apakah aku telah melewatkan sesuatu?</p>
<p><em>Irin, apa yang membuatmu takut?</em></p>
<p>*************************</p>
<p>Hari itu mendung menggantung berat sejak siang belum menjelang.  Hujan yang biasanya turun di sore hari sepertinya akan tumpah lebih awal hari ini.  Aku memandang jam dengan sedikit khawatir.  Irin masih di sekolah.  Aku cemas dia terjebak hujan saat pulang nanti.  Aku juga memikirkan reaksi Irin apabila hujan benar-benar turun saat dia masih di sekolah.  Bagaimana reaksi teman-temannya ketika mengetahui Irin ternyata takut hujan?  Bagaimana kalau guru-gurunya tidak bisa menenangkannya?  Lebih parah lagi, bagaimana kalau kejadian di tempat wisata itu terulang kembali?</p>
<p>Sempat aku berpikir untuk menjemput Irin di sekolah.  Tapi Dinar sedang sakit.  Dia merengek terus tidak bisa kutinggal.  Dia juga menolak ditimang dan dilayani Diah, saudara jauh suamiku yang ikut kami sejak dua tahun lalu.  Umur Diah baru 17 tahun. Dia berasal dari desa dan kemari untuk membantuku sejak kehamilan Dinar dan menambah kehliannya di kota ini.  Aku menghela nafas pasrah.  Saat hujan turun dengan deras tepat beberapa menit sebelum bel di sekolah Irin berbunyi, aku hanya bisa berdoa Irin mampu mengendalikan dirinya di hadapan teman-teman dan gurunya.</p>
<p>”Mama!”</p>
<p>Seruan suara kecil itu terdengar dari pintu depan satu setengah jam kemudian.  Hujan sudah berhenti dan Irin terlambat sekali pulang.  Sekolahnya memang tidak terlalu jauh dari rumah, hanya sekitar 10 menit berjalan kaki.  Biasanya Irin berangkat dan pulang berjalan kaki.  Tapi tampaknya siang ini dia memilih untuk menggunakan jasa  Pak Dikin, tukang becak di dekat sekolahnya yang sudah sama-sama kami kenal.</p>
<p>Aku bergegas keluar menyambutnya sambil menyediakan uang becak.  Sisa-sisa hujan lebat masih terasa segar.  Titik-titik air masih menetes besar-besar di ujung-ujung daun atau melapisi pagar.  Bau lembab tanah dan tanaman yang bercampur dengan air masih tebal di udara.  Matahari tidak bersinar walaupun langit sudah jauh lebih terang dari sebelumnya.  Irin berlari mendekatiku dan langsung memeluk kakiku sementara aku mengucapkan terima kasih dan membayar jasa Pak Dikin.  Irin masih memeluk pinggangku ketika Pak Dikin berlalu.  Kubelai kepalanya dengan sayang dan kubimbing dia masuk ke dalam.  Irin tidak histeris atau menunjukkan keadaan habis menangis.  Tapi aku mengerti dia ketakutan sejak beberapa waktu yang lalu.</p>
<p>Aku menyiapkan makan siang sambil menunggu Irin berganti pakaian.  Gadis kecilku muncul dengan wajah yang sudah lebih cerah dari sebelumnya.  Dinar sedang tidur siang jadi kutemani Irin di meja makan.</p>
<p>”Gimana sekolah Irin hari ini?”</p>
<p>”Baik, Ma,” jawab Irin singkat sambil mulai menyuapkan makan siangnya.  ”Tadi pagi kerja bakti,” sambung Irin lagi.</p>
<p>”Oya?” tanyaku tertarik.</p>
<p>”Iya.  Tukang kebun menanam bunga baru.  Bu guru mnyuruh Irin dan teman-teman membantu</p>
<p>”Bunga apa?”</p>
<p>Irin terdiam sejenak dan berpikir.</p>
<p>”Krisan,” katanya pasti.</p>
<p>”Oh,” gumamku.  ”Apa warnanya?”</p>
<p>”Warna-warni,” jawab Irin.  Dia kembali melanjutkan makannya.</p>
<p>Aku mengamatinya sesaat.  Irin tanpak santai dan ceria.  Aku yakin dia tidak sempat menangis atau diejek temannya di sekolah tadi.  Itu artinya dia tidak menjerit histeris atau berlari ketakutan mencari tempat persembunyian saat hujan turun tadi.  Apa dia sudah tidak takut hujan lagi?</p>
<p>”Ma,”</p>
<p>”Ya?”</p>
<p>”Bunganya tenggelam?”</p>
<p>”Bunga?” Aku menggumam bingung.  Irin memandangku dengan serius.</p>
<p>”Apa bunga krisannya tenggalam dan mati?” ulang Irin.</p>
<p>”Kenapa tenggelam dan mati?”  tanyaku tidak mengerti.</p>
<p>”Karena banjir.”</p>
<p>”Banjir?”</p>
<p>”Hujan bikin banjir.  Banyak yang tenggelam dan mati.”</p>
<p>Aku memandang Irin, mencoba merangkai kalimat-kalimat yang barusan kudengar menjadi sebuah pernyataan yang logis yang berhubungan dengan pembicaraan mengenai bunga krisan sebelumnya.  Sejak kecil Irin gemar mengoceh.  Belakangan aku mulai kewalahan dengan ocehannya yang makin sering melompat-lompat.  Seharusnya semakin besar Irin semakin bisa menceritakan hal-hal dengan teratur.  Tapi  kosakata dan pengetahuan yang dia miliki justru membuatnya makin gemar melompat-lompat dari satu topik ke topik yang lain.  Dia hanya berpedoman pada alur pikirnya sendiri tanpa bersedia menunggu lawan bicaranya paham dengan kata-katanya.</p>
<p>”Hujan tidak menyebabkan banjir,” kataku memutuskan untuk mengikuti kalimat terakhir Irin.  <em>Lupakan tentang Krisan dan acara berkebun, mari bicara tentang hujan dan banjir sekarang.</em></p>
<p>”Hujan menyebabkan banjir dan banyak yang mati.  Irin lihat di televisi,” kata Irin ngotot membuatku tertegun  Tiba-tiba sebuah pemikiran muncul di kepalaku.</p>
<p><em>Itukah alasannya?</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>”Irin takut banjir, ya?” tanyaku ingin tahu.  Nah, sekarang aku yang melompat-lompat dalam berbicara.  Tapi Irin mengerti apa yang kumaksud.  Dia menunduk malu dan mengangguk.</p>
<p>”Takut banjir jadi takut hujan?”</p>
<p>Irin mengangguk lagi.</p>
<p>”Gara-gara televisi?”</p>
<p>Irin mengiyakan.</p>
<p>”Kalau hujan turun, Irin merasa hujannya tambah deras, banjir besar datang.  Mama, papa, Irin, Dinar, Mbah Diah semuanya tenggelam.  Lalu kalian mati..-” Sampai di sini Irin berhenti dan bergidik ngeri.  ”Irin takut.”</p>
<p>Aku tidak segera berkomentar.  Seperti yang kuduga.</p>
<p>Ini kelewatan.  Hanya gara-gara berita bencana di televisi putriku bisa berubah seperti itu?  Mengagumkan, betapa hebatnya efek media elektronik bernama televisi itu terhadap putriku.  Aku penasaran apa efeknya juga sehebat itu bagi anak lain?  Ini baru berita bencana.  Bagaimana dengan sinetron?  Bagaimana dengan adegan kekerasan?  Adegan makian dan umpatan?  Pengaruh apa yang akan dibawa oleh acara-acara itu kepada anak-anak seperti Irin?  Aap lebih baik kusingkirkan saja televisi dari rumah ini?  Atau mungkin salahku juga tidak sering meluangkan waktu untuk mendampinginya melihat tayangan-tayangan itu?  Paling tidak aku masih sempat menjelas tayangan-tayangan itu sebelum Irin memprosesnya dalam otak imajinasinya yang luar biasa.</p>
<p>Irin mempunyai imajinasi yang kuat.  Dia gemar mengoceh sesuatu yang tidak benar-benar terjadi.  Dia bisa bercerita tentang komik bergambar yang dilihatnya dengan lancar dan menarik walaupun dia belum bisa membaca dan tidak memahami bagaimana cerita sebenarnya.  Tidak heran kalau bencana-bencana yang dia baca atau dia dengar bisa berkembang menjadi begitu menakutkan dalam imajinasinya.  Aku tidak tahu apakah sekarang aku harus mulai khawatir dengan daya imajinasinya.</p>
<p>”Jadi bunganya mati tenggelam?”</p>
<p>Aku tersadar.  Irin memandangku dengan penuh tanda tanya.  <em>Oh, jadi kembali berbicara soal krisan dan berkebun</em>.  Aku tersenyum.</p>
<p>”Bunga krisannya baik-baik saja.  Irin lihat di sekolah tadi tidak ada banjir, kan?”</p>
<p>Irin mengiyakan.  Aku memujinya.  Kukatakan padanya bukan hujan yang menyebabkan banjir.  Irin mendengarkan dengan serius.</p>
<p>”Kalau hujan selalu membuat banjir, sudah sejak ribuan tahun yang lalu manusia hanyut terus setiap hujan datang.  Tuhan menciptakan hujan bukan untuk menghasilkan banjir dan membuat manusia menderita.  Dia membuat hujan karena manusia, hewan tanaman dan semua makhluk di dunia ini membutuhkan air.”</p>
<p>”Terus kenapa bisa banjir, Ma?”</p>
<p>”Karena itu ulah kita sendiri.  Kita membuang sampah di sungai sehingga air hujan tidak bisa mengalir.  Kita menebang hutan sembarangan sehingga tidak ada lagi pohon yang menahan air di dalam tanah.  Kita merusak alam sehingga bencana terjadi.”</p>
<p>Irin tercenung.</p>
<p>”Manusia jahat ya, Ma?”</p>
<p>Aku tersenyum lembut.</p>
<p>”Tidak semua, Sayang.  Kalau kita sadar banjir berbahaya, kita bisa mencoba untuk bersikap baik pada alam sehingga banjir tidak akan terjadi.  Hujan turun dari langit memenuhi semua sumber air manusia.  Sisanya meresap ke dalam tanah dan ditahan oleh akar tanaman.  Tidak ada air yang menyerang manusia, karena itulah yang diperintahkan Tuhan.”</p>
<p>”Berarti kita nggak boleh buang sampah sembarangan dan menebang pohon?”</p>
<p>Aku mengangguk.</p>
<p>”Kita harus menjaga lingkungan kita dan selalu memelihara tanaman di sekitar kita supaya banjir tidak terjadi.  Irin mau melakukannya kan?”</p>
<p>Irin mengangguk.</p>
<p>”Bagus.  Lagipula, hujan itu indah lho.  Coba Irin lihat di luar.  Setelah hujan, langit menjadi terang lagi dan semua jadi tampak lebih segar karena basah.  Tanaman jadi lebih hijau, tanah lebih cokelat dan hawa menjadi sejuk.  Dan satu lagi,” kataku.  ”Irin lihat ada pelangi tadi?”</p>
<p>”Iya!” jawab Irin serta-merta dengan semangat.  ”Irin lihat sama teman-teman dan bu guru.  Pelanginya bagus sekali.  Panjang dan melengkung warna-warni.  Irin baru lihat pelangi pertama kali.”</p>
<p>Aku mengangguk setuju.</p>
<p>”Irin juga harus tahu, setelah hujan, banyak yang bahagia karena tanaman mereka kembali hidup dan mereka kembali memiliki persediaan air.  Jadi sebetulnya, kalau kita tidak jahat kepada alam, maka kita tidak perlu takut kepada peristiwa alam.  Selama hidup, Irin akan selalu bertemu dengan hujan.  Kalau kita berkawan dan bersikap baik padanya, maka kita tidak akan melihatnya sebagai sesuatu yang menakutkan.”</p>
<p>Irin mengangguk mengerti.</p>
<p>”Irin tidak takut saat hujan turun tadi?” tanyaku ingin tahu.</p>
<p>”Takut, Ma,” akunya pelan.  ”Irin ingin menangis.  Irin ingin ketemu mama.  Tapi mama nggak ada.  Lagipula kalau Irin menangis di sekolah, Irin malu sama teman-teman.”</p>
<p>Aku merasa sedikit bersalah tidak jadi menjemputnya tadi.</p>
<p>”Tapi Irin hebat.  Tidak menangis atau bersembunyi saat hujan datang,” pujiku tulus.  Irin tersipu.  ”Berarti sekarang Irin tidak takut lagi sama hujan, ya?”</p>
<p>”Irin masih takut.”</p>
<p>Aku menghela nafas.  Mungkin proses menghilangkan ketakutan itu tidak bisa secepat yang kuharapkan atau mungkin memang hanya sejauh ini yang bisa kulakukan untuknya, memberitahukan hal-hal yang perlu dia ketahui mengenai fenomena di sekitarnya, mengenai hidup, mengenai segala hal.  Selanjutnya, Irin sendirilah yang harus berperang dengan ketakutan-ketakutan itu.  Aku hanya perlu meyakinkan dirinya bahwa aku akan selalu ada saat dia membutuhkan tempat untuk bertanya.</p>
<p>Aku mulai mengajak Irin membaca dan mengobrol tentang bagaimana fenomena-fenomena alam yang dia takutkan selama ini terjadi.  Bagaimarna hujan dan petir terjadi.  Aku tunjukkan padanya bagaimana hujan yang disertai badai sekalipun mampu diatasi oleh tekhnologi manusia.  Aku juga memperlihatkan padanya kondisi-kondisi wilayah-wilayah yang membutuhkan hujan.  Irin sangat tersentuh ketika melihat kekeringan yang melanda masyarakat  Dia terpesona ketika aku bercerita tentang siklus air, fenomena pelangi dan peranan hutan hujan.</p>
<p>Irin memang masih memilih bersembunyi di kamarnya bila hujan turun.  Tapi sekarang dia tidak perlu lagi ditemani untuk menyibukkan diri dan mengalihkan perhatiannyapada hujan.  Kemudian dia mulai tidak menutup tirai dan menutup telinga ketika hujan makin deras atau guntur sambar menyambar di langit.  Suatu ketika pernah aku mendapatkan dia justru berdiri terpesona di jendela selama beberapa saat mengamati garis-gari yang  kilat yang muncul di langit setiap beberapa detik ketika hujan guntur sedang berlangsung.  Garis-garis kilatan terang-benderang itu menghias langit kelabu dengan pola-pola abstrak yang berpendar-pendar indah.</p>
<p>”Ma, kilat itu bagus ya?” gumamnya.</p>
<p>Aku tersenyum.</p>
<p>Puncak dari itu semua terjadi beberapa bulan setelah itu.  Irin muncul di ambang pintu sepulang sekolah dalam keadaan basah kuyup sementara hujan masih turun di luar.  Aku membelalak kaget sementara Irin tersenyum lebar.  Dia tampak agak kedinginan, tapi wajahnya bersinar segar.  Aku terpaksa menegurnya dan menceramahinya tentang flu dan sebagainya.  Irin hanya mengangguk-angguk senang mendengarnya dan mencetus tiba-tiba.</p>
<p>”Ma..”</p>
<p>”Ya?”</p>
<p>”Irin sekarang benar-benar tidak takut hujan lagi.”</p>
<p>Aku tersenyum lebar.  Akhirnya putriku benar-benar bisa mengatasi ketakutan itu sendiri.  Aku memeluknya dengan hangat.</p>
<p>”Kamu putri mama yang berani dan kuat,” bisikku.</p>
<p><strong>TAMAT</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritayosi.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritayosi.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritayosi.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritayosi.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritayosi.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritayosi.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritayosi.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritayosi.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritayosi.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritayosi.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritayosi.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritayosi.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritayosi.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritayosi.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritayosi.wordpress.com&amp;blog=10826468&amp;post=40&amp;subd=ceritayosi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritayosi.wordpress.com/2010/01/03/hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ceccd319d816b975f798a40b86db172?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ceritayosi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ceritayosi.files.wordpress.com/2010/01/hujan.jpg?w=205" medium="image">
			<media:title type="html">hujan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Welcome to Death_room</title>
		<link>http://ceritayosi.wordpress.com/2009/12/07/welcome-to-death_room/</link>
		<comments>http://ceritayosi.wordpress.com/2009/12/07/welcome-to-death_room/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 05:27:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ceritayosi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritayosi.wordpress.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[“Millia!  Aku melihatnya!  Dia datang!” Suara Julie terdengar ketakutan. “Siapa?” Millia memperkeras cengkeramannya pada ponselnya tanpa sadar. “4li3n!” Millia membeku sesaat. “Kita mati, Millia!” Jullie terdengar ingin menangis. “Julie!” “Millia..aku..-“ Terputus. Millia tersentak. “Julie!” Julie, apa yang terjadi denganmu? ******************************** Awalnya Millia hanya merasa bosan dengan pekerjaannya ketika memutuskan bergabung dengan Lady_Room, chat room via [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritayosi.wordpress.com&amp;blog=10826468&amp;post=36&amp;subd=ceritayosi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Millia!  Aku melihatnya!  Dia datang!”</p>
<p>Suara Julie terdengar ketakutan.</p>
<p>“Siapa?”</p>
<p>Millia memperkeras cengkeramannya pada ponselnya tanpa sadar.</p>
<p>“4li3n!”</p>
<p>Millia membeku sesaat.</p>
<p>“Kita mati, Millia!”</p>
<p>Jullie terdengar ingin menangis.</p>
<p>“Julie!”</p>
<p>“Millia..aku..-“</p>
<p>Terputus.</p>
<p>Millia tersentak.</p>
<p>“Julie!”</p>
<p><em>Julie, apa yang terjadi denganmu?</em></p>
<p><em> </em></p>
<p style="text-align:center;">********************************</p>
<p>Awalnya Millia hanya merasa bosan dengan pekerjaannya ketika memutuskan bergabung dengan Lady_Room, chat room via ponsel yang beranggotakan para user perempuan yang membahas masalah-masalah seputar dunia perempuan itu.  Dia berkenalan dengan Julie yang kemudian memperkenalkan dia dengan user tetap Lady_Room lainnya.  <span id="more-36"></span>Dengan cepat Millia bersosialisasi dengan mereka.  Mereka bertukar cerita,  bertukar nomor telepon dan sering mengobrol sampai jauh malam. Semuanya terasa mengasyikan hingga suatu malam seorang user baru muncul mengejutkan  mereka.</p>
<p><strong>&lt;&gt; &gt;&gt;4li3n has entered the room</strong></p>
<p>&lt;&gt; &gt;&gt;4li3n : Welcome to death_room</p>
<p>Millia tertawa sendiri melihatnya.  Seperti komentar temannya yang lain, dia menganggap ada user baru yang aneh berulah lagi.</p>
<p><em> </em></p>
<p>&lt;&gt; &gt;&gt;4li3n : jam berdentang 12 kali, pintu death_room telah terbuka</p>
<p>&lt;&gt; &gt;&gt;4li3n : berlanjut kembali, kematian kalian tidak akan tertunda</p>
<p>Membaca pesan itu, Millia mulai berpikir user baru itu kelewatan.  Saat itu jam memang sudah lewat tengah malam.  <em>Dia pasti main-main, </em>pikirnya<em>. </em>Sejenak Millia tidak tahu harus menjawab apa.  Jarinya berhenti di udara membaca balasan pesan dari salah satu teman chatnya di forum itu.  <em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>&lt;&gt; &gt;&gt;milkymilly : mari bicara yang lain saja</p>
<p>&lt;&gt; &gt;&gt;4li3n : kalian mati</p>
<p>&lt;&gt; &gt;&gt;lady_kirei : hei, sudahlah</p>
<p>&lt;&gt; &gt;&gt;4li3n : satu persatu menuju death_room</p>
<p>&lt;&gt; &gt;&gt;lucky_love : hentikan!</p>
<p>&lt;&gt; &gt;&gt;4li3n : MATI</p>
<p>&lt;&gt; &gt;&gt;restifebi : HENTIKAN!!!</p>
<p>Millia tahu, teman-temannya juga mulai segelisah dirinya.</p>
<p><em> </em></p>
<p>&lt;&gt; &gt;&gt;milkymilly : kau siapa?</p>
<p>&lt;&gt; &gt;&gt;kanaya : siapa kau??</p>
<p>&lt;&gt; &gt;&gt;4li3n : alien, penjaga Death_room</p>
<p>&lt;&gt; &gt;&gt;milkymilly :  CUKUP!!  KUMOHON !!</p>
<p>Setelah itu, user itu tidak muncul lagi dalam chat mereka.</p>
<p>Beberapa hari kemudian Millia sudah melupakan kemunculan 4li3en dan percakapan yang menggelisahkan di Ladi_room itu.  Tapi suatu hari Julie, salah seorang temannya di Lady_room untuk pertama kalinya menghubungi ponselnya dan dengan nada ketakutan mengabarkan kematian Lucky, salah satu user Lady_room lainnya.  Julie bilang itu ulah 4li3en.  Millia hanya tertawa menanggapi walaupun hatinya entah kenapa berdesir aneh dan mencoba menenangkan temannya.</p>
<p>Namun keesokan harinya Resti memberitahukan kecelakaan yang menimpa Kirei, user lainnya.  Malamnya pembicaraan Lady_room berubah ke pembahasan mengenai user 4li3n.  Beberapa hari kemudian dua user lain berturut-turut menghilang dari Lady_room.  Julie mengaku tidak bisa lagi menghubungi mereka dan semakin yakin ini berhubungan dengan keberadaan 4li3n.  Dia ketakutan.  Millia juga mulai merasa ragu untuk tidak mempercayai berita itu.  Ketika mereka semua bingung, tiba-tiba sebuah pesan muncul, membuat mereka terbelalak ngeri.</p>
<p><strong>&lt;&gt; &gt;&gt;4li3n has entered the room</strong></p>
<p>&lt;&gt; &gt;&gt;4li3n : satu-persatu menuju death_room!</p>
<p>Millia menjatuhkan ponselnya tanpa sadar.</p>
<p>************************</p>
<p><em>Apakah Julie baik-baik saja?</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Millie mencoba menghubungi temannya sekali lagi.  Dia makin gugup ketika menerima nada tidak aktif di ujung sana.  Pikiran-pikiran mengerikan itu muncul dalam pikirannya.</p>
<p><em>4li3n telah mencapai Julie!</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Millia merinding.</p>
<p><em>Tidak!  Aku cuma paranoid!</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Kau mungkin berikutnya!</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Diam!!</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Millia melempar ponselnya.  Semuanya tidak mungkin.  User yang bisa menghabisi user lain, itu pasti hanya permainan.  Siapapun dia Millia memutuskan dia hanya sekedar mengganggunya.  Itu tidak sungguh-sungguh!  Dia benci Lady_room.  Dia tidak mau mengunjunginya lagi.  Dia tidak mau mendengar apa-apa lagi tentang 4li3n dan dia tidak mau ambil pusing tentang Julie, tentang Lucky, tentang Kirei, atau tentang user lainnya.</p>
<p><em>Persetan dengan Lady_room!</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Tapi malam berikutnya, Millia menjerit mendapatkan pesan itu di <em>messanger</em>nya.</p>
<p>&lt;&gt; &gt;&gt;4li3n : kau berikutnya</p>
<p>&lt;&gt; &gt;&gt;4li3n : besok kematianmu</p>
<p>&lt;&gt; &gt;&gt;4li3n : satu persatu menuju death_room</p>
<p>Millia terduduk lemas.</p>
<p><em>Ini pasti main-main!</em></p>
<p>Millia tersadar ketika merasakan seseorang tengah mengamatinya dari jendela.  Tanpa sadar dia menoleh ke sana dan diapun menjerit ngeri.  Sepasang mata semerah darah di tengah kubangan jelaga itu menatapnya dari jendela.  Wajah kosongnya yang seputih kapas dan jari-jari sekurus tengkorak menempel di kaca.  Urat-urat, kalau memang bisa disebut urat, itu tampak biru berdenyut-denyut di kulit keriputnya.  Sosok itu diam tak bergerak.  Millia menjerit makin keras dan menutup wajahnya.</p>
<p>“Millia ada apa?”</p>
<p>“Di jendela!&#8230;Pergi! Pergi!” Suara Millia tenggelam dalam telapak tangannya.</p>
<p>“Millia, sayang, tidak ada apa-apa di jendela!”</p>
<p>“Pergi!”</p>
<p>“Millia!  Mama tidak lihat apa-apa!”</p>
<p>Millia perlahan membuka tangannya.  Sosok itu telah hilang dari jendela.  Millia mengerjap menyadari ibunya memandangnya dengan khawatir.  Millia menggigit bibir.</p>
<p>“Maaf, mungkin Milly capek, Ma,” katanya pelan.  Ibunya menghela nafas.</p>
<p>“Istirahatlah, Milly,” kata ibunya lembut sambil menutup tirai jendela itu.  “Jangan terlalu asyik dengan ponselmu.”</p>
<p>Millia mengiyakan dan mengucapkan selamat malam.  Dipandangnya punggung ibunya yang berlalu pergi.  Entah kenapa perasaan tidak enak merayapi hatinya.</p>
<p><em>Ma, jangan tutup pintunya!</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Suara pintu yang tertutup menyadarkan Millia.  Millia tertegun.  Tiba-tiba saja dia merasakan hawa dingin itu.   Millia memandang ke arah AC kamarnya.</p>
<p><em>Apakah aku terlalu rendah memasang suhunya?</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Millia mendekati mejanya dan meraih remote AC.  Dia mengamatinya sesaat dan menghela nafas.</p>
<p><em>Ya, ini terlalu rendah.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Millia mengatur tombol suhu.  Entah kenapa dia merasa tengkuknya merinding.</p>
<p><em>Pesan itu hanya main-main! </em><em>Sebaiknya aku tidur.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Seperti zombie Millia bergerak menuju tempat tidurnya.</p>
<p>**************************</p>
<p>Millia tersentak bangun, memandang dan menyadari dia telah mencengkram erat-erat selimutnya.  Tengkuknya masih terasa dingin.  Mimpi buruk itu lagi.  Millia melihat teman-temannya terhisap satu-persatu ke dalam lubang gelap itu.  Mereka menggapai dan menjerit minta tolong.  Millia mendekat untuk meraih mereka lalu tiba-tiba sosok itu muncul, melayang ke arahnya sambil menyeringai.  Wajahnya sepucat kapas dengan mata semerah darah ditengah kubangan jelaga.  Rambutnya berkibar-kibar ketika dia mendekat dengan cepat dan berusaha mencekiknya!</p>
<p><em>4li3n!</em></p>
<p>Millia memandang jam di dinding kamarnya.  Pukul satu.  Dia bisa merasakan suasana yang begitu senyap di sekelilingnya.  Dulu Millia tidak mempermasalahkan itu, tapi sekarang dia sungguh benci kesunyian.  Millia beranjak melintasi kamar, menghindarkan pandangannya dari cermin besar yang ada di atas meja riasnya.  Cermin selalu menyimpan banyak misteri di sisi lainnya.  Mungkin saja sosok itu akan muncul lagi mengganggunya melalui bayang-bayang cermin kamarnya.  Millia meraih gelas di meja dan menghabiskan isinya.  Sejenak dia termangu meyakinkan dirinya.</p>
<p><em>Tidak, dia tidak akan muncul di kamarku!</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Millia kembali menyusup masuk ke balik selimutnya.  Sesaat matanya memandang langit-langit.  Millia meyakinkan dirinya untuk tidur lagi atau besok dia kerepotan sendiri dengan pekerjaannya.  Millia menghela nafas dan memiringkan tubuhnya mencoba posisi yang lebih nyaman.  Dan ketika matanya menangkap pemandangan di hadapannya, diapun membelalak ngeri.  Wajah itu, wajah yang dilihatnya di jendela  tadi!</p>
<p>Perempuan itu tampak buram berbaur dengan aura halo tipis dari pakaian putihnya yang seputih wajahnya.  Wajahnya yang kosong menatap ke arah Millia dengan mata semerah darah di tengah kubangan jelaga.  Bibirnya begitu pucat mengatup tanpa ekspresi.  Rambut panjangnya terurai hitam kelabu.  Dia duduk diam di kursi meja riasnya.  Millia nyaris tidak bisa bernafas.  Dia menyesal telah membiarkan kursinya dalam posisi “<em>seolah- seseorang- sedang- duduk- di -situ</em>”</p>
<p><em>Aku pasti mulai berhalusinasi!  Dia tidak mungkin di dalam kamarku!</em></p>
<p>Millia perlahan menarik selimutnya menutupi seluruh wajahnya.  Gemetar dia mencoba berdoa semampunya.  Beberapa menit berlalu.  Millia mencoba mengintip dan lega bukan main mendapatkan tidak ada siapa-siapa di atas kursi meja riasnya.</p>
<p><em>Aku memang berhalusinasi!</em></p>
<p>Millia memutuskan untuk tidur.  Tapi mimpi itu kembali mengganggunya.  Jeritan-jeritan itu kembali memenuhi kepalanya.</p>
<p>**********************</p>
<p>Millia bangun kesiangan keesokan harinya seperti orang linglung.  Sejenak bayangan sosok itu hilang dari pikirannya ketika dia terburu-buru meninggalkan rumah menuju tempat kerjanya.  Dia nyaris jatuh tertersungkur, tersandung di halaman ketika bergegas keluar dari rumahnya.</p>
<p>“Milly, hati-hati langkahmu!” tegur ibunya.  Millia tersentak.</p>
<p><em>Tersandung, pertanda tidak baik!</em></p>
<p>Entah kenapa perasaan tidak enak yang amat sangat muncul dalam hatinya.</p>
<p>Millia tidak pernah berpikir dia akan membenci ritual <em>berangkat-ke-kantor-dengan bus</em>-nya pagi ini.  Kemarin dan hari-hari sebelumnya dia tidak pernah merasa keberatan harus duduk berdesakkan atau terguncang-guncang selama kurang lebih setengah jam menuju kantornya.  Tapi pagi ini, situasi itu benar-benar bukan hal yang diinginkannya.  Duduk diam membuatnya memikirkan mimpinya semalam, sosok itu semalam, dan akhirnya membuatnya memikirkan 4li3n dan ancaman itu.</p>
<p><em>Aku tidak akan mati hari ini!</em></p>
<p><em>Itu hanya ancaman iseng!</em></p>
<p><em>Kematian lucky dan kecelakaan lainnya hanya kebetulan!</em></p>
<p>Millia mencoba berulang kali meyakinkan dirinya.  Dia terus tenggelam dalam lamunannya tanpa menyadari jari-jari kurus panjang yang perlahan menyentuh bahunya.  Millia menoleh tersadar.  Seraut wajah sepucat kapas memandang kosong ke arahnya.  Matanya merah di tengah lingkaran gelap dengan urat-urat biru berkedut-kedut.  Rambutnya yang hitam panjang tidak beraturan.  Millia membelalak.</p>
<p><em>4li3n!</em></p>
<p>“Giliranmu!’</p>
<p>Millia tersentak dan berseru kaget.</p>
<p>“Giliranmu bayar, mbak!”</p>
<p>Millia mengerjap.  Bayangan itu memudar, berubah menjadi wajah cekung , kosong, kurang tidur, berambut gimbal.  Kondektur bis itu memandangnya dengan heran sekaligus sebal.  Beberapa penumpang di bis itu tertawa kecil dan tersenyum.  Millia tersadar.  Kondektur itu menyodorkan tangannya.  Millia mengambil uang dari dalam tasnya dengan muka bersemu merah.</p>
<p>“Makanya pagi-pagi jangan ngelamun, mbak,” gerutu kondektur itu seraya berlalu.  Millia menghela nafas.</p>
<p><em>Aku tidak bisa begini terus!</em></p>
<p>*****************************</p>
<p>Suasana kantor tampak ramai seperti biasa ketika dia tiba.  Dia segera meletakkan tasnya dan mulai membuka komputernya, menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan.</p>
<p><em>Aku harus konsentrasi!</em></p>
<p>“Millia!”</p>
<p>Millia mengangkat wajahnya mendapatkan petugas resepsionis mendekatinya sambil menyodorkan sebuah amplop polos padanya.</p>
<p>“Ada yang menitipkan ini untukmu,” kata temannya.</p>
<p>Millia menerimanya dengan heran.</p>
<p>“Dari siapa?”</p>
<p>“Tidak tahu.  Katanya dia juga dititipi seseorang.”</p>
<p>Millia tertegun sesaat.</p>
<p>“Terima kasih,” katanya kemudian.  Temannya berlalu.</p>
<p>Millia membuka amplop itu dan mengeluarkan sebuah kartu putih dari dalamnya.  Millia mencoba membalik kartu itu dan tersentak.  Tulisan itu berwarna merah.  Mungkin ditulis dengan cat merah, atau bahkan….<em>darah!</em></p>
<p><em>Giliranmu!  Satu persatu menuju Death_room!</em></p>
<p>Millia membekap mulutnya, ingin menjerit tapi segera tersadar dia sedang berada di mana.  Suaranya seolah tercekik di kerongkongannya. Dia bergegas menghambur ke toilet kantor.</p>
<p><em>Ini tidak sungguh-sungguh terjadi!  Aku tidak akan mati hari ini!</em></p>
<p>Millia terengah-engah memandang bayangannya di cermin toilet.  Tangannya mencengkeram ujung wastafel dengan erat.   Kakinya terasa lemas.</p>
<p><em>Tidak mungkin dia menggangguku pagi-pagi begini!</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Suara kran air yang tiba-tiba terbuka membuatnya tersentak.  Millia mengangkat wajahnya dan berbalik ngeri menyadari tidak ada seorangpun dalam ruang toilet yang sepi ini.</p>
<p>“Siapa itu?!”</p>
<p>Suara kran terdengar makin keras menghantam dasar porselen bak-bak kecil itu.  Millia mendapatkan suaranya tenggelam di antara suara percikan deras kran-kran toilet itu.  Millia menggigil ngeri.   Tiga toilet berjejer menghadap tembok di samping deretan wastafel tempat Millia berdiri.  Millia mendekat perlahan.  Entah kenapa lorong di depan toilet itu tampak mencekam.  Tiba-tiba saja dia mengeluhkan penerangan kamar mandi yang redup.  Kombinasi dari warna lantai dan dinding semakin menambah suram suasana.</p>
<p>“Siapa?”</p>
<p>Millia mendapatkan suaranya gemetar.  Menguatkan hati, dia mencoba melangkah menuju deretan pintu toilet yang tertutup itu.  Pelan dia berjingkat dan membuka salah satu pintunya dengan tiba-tiba.  Suara deras kran air di dalamnya terdengar makin keras.</p>
<p><em>Kosong! </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dia membuka pintu lainnya.</p>
<p><em>Kosong! </em></p>
<p><em>Pintu yang lain! </em></p>
<p><em>Kosong! </em></p>
<p>Millia bersandar di dinding di ujung lorong dengan ketakutan.</p>
<p><em>Siapa kau?</em></p>
<p>“Mbak sedang apa??”</p>
<p>Millia menjerit kaget dan menoleh.</p>
<p>“Mbak?”</p>
<p>Millia tersadar ketika melihat seorang petugas kebersihan masuk ke dalam.  Dia buru-buru mendekatinya dengan ketakutan.</p>
<p>“Itu, kenapa krannya tiba-tiba terbuka sendiri?”</p>
<p>Petugas kebersihan itu mengerut heran.</p>
<p>“Mbak kenapa?  Kantor baru buka.  Ini masih pagi.  Keran-keran itu memang dibuka secara otomatis kalau pagi untuk keperluan bersih-bersih.”</p>
<p>Millia merasa seperti orang tolol ketika meninggalkan toilet itu.</p>
<p>“Millia, kau baik-baik saja?”</p>
<p>Millia tidak mempedulikan Diana, temannya, yang menyapanya ketika dia lewat.</p>
<p><em>Aku baik-baik saja!  Tidak,  Aku gila!</em></p>
<p>**************************</p>
<p>Bagian verifikasi kartu kredit sungguh bukan divisi favorit.  Tanggungjawabnya setiap hari hanya memeriksa kelengkapan dan mengoreksi kesalahan-kesalahan aplikasi yang masuk, memasukkannya dalam database customer lalu menyimpan berkas-berkas itu dalam lemari arsip.  Kemarin dia masih menganggapnya sebagai pekerjaan yang membosankan.  Tapi pagi ini Millia memutuskan untuk berkonsentrasi pada pekerjaannya ketika melihat setumpuk aplikasi baru di atas mejanya.  Dia tidak mau tenggelam dalam pikiran paranoidnya lagi.  Dia sudah membuang jauh-jauh surat sialan itu dari meja dan dari pandanganya dan mulai meraih berkas aplikasi pertamanya hari ini.</p>
<p>“Banyak yang masuk hari ini, ya, Milly?”</p>
<p>Millia menoleh.  Seno teman satu divisinya mendekat.  Millia mengiyakan sambil kembali bekerja.</p>
<p>“Kubantu membawakan ke ruang arsip?” tawar pemuda itu lagi.</p>
<p>“Tidak usah.  Kubawa sendiri saja.”</p>
<p>“Baiklah.”</p>
<p>Millia tahu Seno masih memandangnya beberapa saat sebelum pemuda itu akhirnya berlalu menuju mejanya.  Suara lembut ponselnya membuat Millia menghentikan gerakannya sesaat.  Dia memandang tasnya dengan curiga.  Pikirannya sekuat tenaga memblokir gambaran 4li3n, Lady_room’s user dan ancaman-ancaman itu.  Dengan berdebar dia meraih ponselnya.  Dia menghela nafas lega melihat nama Jo, pacarnya, berkedip-kedip di layar ponselnya.</p>
<p><em>Pulang kantor kujemput, ya?  Tiba-tiba aku ingin makan malam sama kamu.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Millia merasa kehangatan dan ketenangan yang tiba-tiba menjalari hatinya.  Seulas senyum tersungging di bibirnya.  Senyum pertamanya hari ini.  Jarinya bergerak cepat membalas sms itu.</p>
<p><em>Jo, aku sayang kamu.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Jam menunjukkan waktu makan siang ketika Millia beranjak membawa tumpukan arsip-arsip hasil verifikasi itu ke gudang pengarsipan.  Ruangan itu terletak di sudut ruang kerjanya, tidak terlalu besar dengan ventilasi yang minim.  Rak-rak besi menjulang tinggi, tempat berkas-berkas aplikasi itudisimpan.  Dua buah meja kerja tidak terpakai dijejalkan di sudut ruangan itu.  Ketika dia menata menyimpan berkasnya, sebagian besar teman kantornya sudah beranjak keluar.  Millia menyelipkan berkas terakhir dan menghela nafas.  meletakkan berkas itu di salah satu rak terjauh.  Dia menghela nafas.  Sekarang dia bisa makan siang dengan tenang.  Millia mengangkat wajahnya dan tersentak.</p>
<p>Millia tidak tahu harus bagaimana. Suaranya seolah tersangkut di tenggorokannya.  Wanita itu duduk di atas meja tidak terpakai di sudut ruangan.  Sudut yang gelap membuat kepucatannya tampak makin bersinar.  Sosoknya yang buram bercampur dengan sinar halo samar di sekelilingnya.  Wajahnya menunduk, rambutnya terurai menutupi sebagian wajahnya.  Kedua tangannya bertumpu pada sisi meja.  Sebentuk gambaran kaki berayun pelan seirama dengan punggungnya.</p>
<p><em>Maju. Mundur. Maju. Mundur.</em></p>
<p>Perlahan dia mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Millia.  Mata semerah darah di tengah kubangan jelaga itu  tepat menatapnya.  Wajah kosongnya sepucat mayat.  Bibirnya yang beku dan biru itu tiba-tiba bergerak dan menyeringai.  Millia terbelalak ngeri.  Tangan kurus kering itu terulur ke arahnya.  Walaupun jarak itu cukup jauh di antara mereka, Millia mencoba untuk lari.  Tapi kakinya seolah tertanam pada lantai.  Dia merasa sosok itu tiba-tiba melompat ke arahnya.  Akhirnya suaranya menemukan jalannya untuk menjerit.  Tiba-tiba saja semua menjadi gelap.</p>
<p>*********************</p>
<p>“Millia,” suara lembut itu terdengar makin jelas di telinganya.  Millia merasakan seseorang menggenggam lembut tangannya.</p>
<p><em>Siapa?</em></p>
<p>Millia perlahan membuka mata.  Dia mendapatkan Seno dan Diana memandangnya dengan khawatir.  Diana menggenggam tangganya.</p>
<p>“Apa yang terjadi denganmu?  Seno menemukan kamu pingsan di gudang arsip,” kata Diana prihatin.</p>
<p>Millia tidak menyahut.  Dia memandang sekeliling dan mendapatkann dirinya berada di ruangan yang serba putih.</p>
<p>“Ini dimana?”</p>
<p>“Di rumah sakit dekat kantor.  Bos langsung menyuruh kami membawamu kesini.  Kami khawatir karena kamu tiba-tiba pingsan.” Jelas Diana.</p>
<p>“Kamu kenapa, Millia?” tanya Seno tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.  “Kamu kelihatan aneh sejak tadi pagi.”</p>
<p>Millia tidak menjawab.  Bagaimana mungkin dia menjelaskan pada teman-temannya kalau sesosok wanita berambut panjang yang menerornya belakangan ini telah muncul pula di ruang kerjanya?  Bagaimana dia harus menceritakan 4li3n dan ancaman-ancaman itu?  Millia tahu mereka tidak akan percaya, bahkan mungkin menganggapnya kekanak-kanakan.</p>
<p>Millia menghela nafas.</p>
<p>“Aku tidak apa-apa.  Mungkin darah rendahku kumat,” kata Millia pelan.</p>
<p>Kedua temannya masih di situ beberapa saat  kemudian.  Keduanya  pamit berlalu ketika jam makan siang hampir berakhir.  Seno masih sempat memandangnya sebelum pergi.</p>
<p>“Benar kau baik-baik saja?” tanya pemuda itu.</p>
<p>“Ya.”</p>
<p>*********************</p>
<p>Malam sudah mulai turun.  Millia membolak-balik majalah di pangkuannya dengan malas.  Dokter memintanya menginap semalam di rumah sakit untuk memastikan kondisi tubuhnya.  Millia tahu itu hanya akal-akalan pihak rumah sakit agar dia membayar biaya rawat inap semalam.  Tapi Millia sedang malas berdebat.  Dia hanya mengiyakan.  Ibunya sudah menjenguknya tadi sore.  Millia meyakinkan kalau malam ini Jo akan menemaninya sehingga ibunya tidak perlu ikut menginap.  Jo mengirim sms hampir setiap setengah jam.</p>
<p><em>Aku di jalan sekarang.  Aku bawa nasi goreng seafood pesananmu.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Millia tersenyum memandang sms terakhir Jo di ponselnya.</p>
<p><em>Jo, cepatlah kemari.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Millia tidak mengerti kenapa tiba-tiba dia sangat ingin bertemu dengan pemuda itu.  Millia menghentikan gerakannya ketika merasakan seseorang memperhatikannya.  Seperti ada yang memperkecil suhu AC, ruangan itu tiba-tiba terasa dingin mencekam.  Millia merasakan perasaan tidak enak yang menjadi.  Pelan dia menoleh dan melihatnya.  Sosok itu kini duduk membisu di daun jendela yang terbuka, berlatarkan langit yang mulai gelap.  Tubuhnya mengayun pelan.</p>
<p><em>Maju. Mundur. Maju. Mundur. </em></p>
<p>Millia tercekat ngeri.</p>
<p>“Mau apa kau?”</p>
<p>Akhirnya dia berhasil mengeluarkan suarnya.  Sosok itu tidak menyahut.  Tubuhnya masih berayun pelan.</p>
<p><em>Maju.  Mundur.  Maju.  Mundur.</em></p>
<p>“Pergi kau,”</p>
<p>Millia bisa merasakan suaranya gemetar.</p>
<p>“Pergi kau!”</p>
<p>Sosok itu mengangkat wajahnya dan menyeringai.</p>
<p>“PERGI!  PERGI!!”</p>
<p>Millia menjerit histeris.  Pintu kamar terbuka.  Dua orang suster masuk dengan terburu-buru.</p>
<p>“Kau tidak bisa membunuhku!!”</p>
<p>“Mbak, ada apa?”</p>
<p>Kedua suster itu berusaha menenangkan Millia.  Tapi Millia terus meronta</p>
<p>“Kau tidak bisa membunuhku!!”</p>
<p>Sosok itu berdiri dan mulai mengulurkan tangannya.  Millia membelalak.</p>
<p>“Pergi kau!”</p>
<p>“Mbak!”</p>
<p>“PERGI!!”</p>
<p>Sekuat tenaga Millia menyentakkan pegangan kedua suster dan menghambur keluar dari kamarnya.</p>
<p>“MBAK!!”</p>
<p>Millia berlari sekencang-kencangnya meninggalkan ruangannya, menrabas apapun yang berada di depannya.</p>
<p><em>Aku tidak boleh membiarkan dia menangkapku! </em></p>
<p><em>Aku tidak bisa membiarkan dia menarikku ke dalam ruangnya</em>!</p>
<p><em>Harus lari!  Lari sejauh-jauhnya!!</em></p>
<p>“Mbak!!  AWAS!!”</p>
<p>Millia hanya bisa mendengar suara dencit ban yang mengerikan itu diikuti oleh suara benturan yang sangat keras.  Tubuhnya tiba-tiba terasa panas.  Suara berderak dari dalam tubuhnya terdengar mengerikan.</p>
<p>Millia tersentak.</p>
<p><em>Apakah aku lolos darinya?</em></p>
<p>Millia merasakan suasana sesaat menjadi sunyi di sekelilingnya.  Hal pertama yang dilihatnya kemudian adalah sosok itu.  Dia duduk berayun-ayun di sebuah dahan pohon di dekatnya.  Millia tertegun.  Wanita berambut panjang itu ternyata tidak semengerikan yang dia kira.  Sepasang mata itu menatapnya.  Merah di tengah kubangan jelaga, tapi bersinar sedih.  Perlahan dia menyeringai.  Bukan seringai, melainkan senyum yang pahit.  Millia merasakan keberanian muncul di hatinya.</p>
<p><em>Kenapa kau menakutiku?</em></p>
<p><em>Aku tidak menakutimu.</em></p>
<p>Millia tersentak mendengar jawaban itu dalam pikirannya.  Apakah sosok itu mencoba berkomunikasi dengannya.</p>
<p><em>Kau 4li3n?</em></p>
<p><em>Bukan.</em></p>
<p><em>Lalu kenapa kau muncul?</em></p>
<p><em>Aku harus memberitahumu.</em></p>
<p><em>Memberitahu apa?</em></p>
<p>Millia tercengang melihat gambaran-gambaran itu.  Seolah proses transfer video terjadi dalam pikirannya.  Tiba-tiba saja Millia melihat gambaran-gambaran itu dengan jelas.</p>
<p><em>Perempuan itu mengetik user 4li3n melalui ponselnya yang lain. </em><em>Perempuan itu menuliskan kata-kata misterius itu sambil tertawa-tawa.  Perempuan itu menghubungi teman-temannya satu-satu dan menceritakan rencananya.</em></p>
<p><em>“Aku akan bilang kematian yang menimpa Lucky karena 4li3n. </em><em>Lalu kecelakaan menimpamu.  Kemudian Resti dan Kana menghilang.  Lalu aku pura-pura diserang orang.  Lalu akan kukirim dia pesan. Dia pasti ketakutan!” </em></p>
<p><em>Perempuan itu tertawa.</em></p>
<p><em>“Julie, apa itu tidak keterlaluan?  Lagipula memanfaatkan kematian Lucky  untuk menakuti orang lain kedengaran kejam.”</em></p>
<p><em>“Kamu paranoid, Kirei.  Aku harus balas dendam pada Millia sialan itu.  Aku tidak bisa terima Jo memutuskan aku karena dia!”</em></p>
<p><em>“Kamu yakin Millia orangnya?”</em></p>
<p><em>“Sangat yakin!” </em></p>
<p>Millia tertegun.</p>
<p><em>Ini menggelikan!  Aku harus buat perhitungan!</em></p>
<p>Sosok itu menggeleng pelan membuat Millia tertegun<em>.</em></p>
<p><em>Kenapa?</em></p>
<p>Sosok itu masih terus berayun perlahan ketika menunjuk ke satu titik.  Millia menoleh dan menjerit ngeri melihat kerumunan itu mengelilingi sebuah mobil.  Mobil polisi dan ambulan meraung-raung memekakkan telinga.  Dua petugas kesehatan keluar dari kerumunan itu membawa sebuah tandu.  Sesosok tubuh terbungkus kantong terbujur kaku di atasnya.  Millia makin histeris ketika melihat <em>dirinya</em> terbaring kaku dengan tulang rusuk dan kepala nyaris hancur terlindas mobil itu.</p>
<p><em>Tidak!!!</em></p>
<p><em>Kenapa kau beritahu aku?  Siapa kau?</em></p>
<p><em>Aku…Lucky.  Kematianku tidak ada hubungannya dengan 4li3n. </em><em>Aku tidak bisa biarkan Julie memanfaatkan kematianku untuk menakutimu.</em></p>
<p><em>Tapi kau telah MEMBUNUHKU!!</em></p>
<p>***********************</p>
<p><strong>Kamar Julie,   Pukul 00.56</strong></p>
<p>&lt;&gt; &gt;&gt;restifebi : julie, apa kita tidak keterlaluan mempermainkannya?</p>
<p>&lt;&gt; &gt;&gt;julie_chan : sudahlah.</p>
<p>&lt;&gt; &gt;&gt;restifebi: tapi perasaanku tidak enak.</p>
<p>Diam.</p>
<p>&lt;&gt; &gt;&gt;julie_chan : baiklah</p>
<p>&lt;&gt; &gt;&gt;juli_chan : aku akan berterus terang padanya nanti.</p>
<p><strong>&lt;&gt; &gt;&gt;4li3n has entered the room</strong></p>
<p>Jari Julie mengambang di udara ketika membaca status itu di layar ponselnya.</p>
<p><em>Tidak mungkin.  Hanya aku yang tahu password untuk user itu!</em></p>
<p>Kengerian tiba-tiba merayapi hatinya.</p>
<p>&lt;&gt; &gt;&gt;4li3n : Welcome to death_room</p>
<p>&lt;&gt; &gt;&gt;4li3n : jam berdentang 12 kali, pintu death_room telah terbuka</p>
<p>&lt;&gt; &gt;&gt;4li3n : berlanjut kembali, kematian kalian tidak akan tertunda</p>
<p style="text-align:center;"><strong>THE END</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritayosi.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritayosi.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritayosi.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritayosi.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritayosi.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritayosi.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritayosi.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritayosi.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritayosi.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritayosi.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritayosi.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritayosi.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritayosi.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritayosi.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritayosi.wordpress.com&amp;blog=10826468&amp;post=36&amp;subd=ceritayosi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritayosi.wordpress.com/2009/12/07/welcome-to-death_room/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ceccd319d816b975f798a40b86db172?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ceritayosi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anomali</title>
		<link>http://ceritayosi.wordpress.com/2009/12/06/anomali/</link>
		<comments>http://ceritayosi.wordpress.com/2009/12/06/anomali/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 04:18:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ceritayosi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[boyslove]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritayosi.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[“Anomali,” katamu suatu sore, saat kita kembali menghabiskan waktu di café favorit kita. Aku menoleh. “Menurutmu apa itu?” Aku berpikir sesaat. “Chaos, ketidakteraturan. Sesuatu yang menyimpang dari hukum atau aturan yang seharusnya,” jawabku terheran-heran dengan pertanyaan yang kau ajukan. Kau tersenyum seperti biasa. “Ya,” katamu. “Anomali itu sebuah penyimpangan. Penyimpangan yang sengaja diciptakan oleh Tuhan.” [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritayosi.wordpress.com&amp;blog=10826468&amp;post=19&amp;subd=ceritayosi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ceritayosi.files.wordpress.com/2009/12/holding-hands.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-21" title="holding-hands" src="http://ceritayosi.files.wordpress.com/2009/12/holding-hands.jpg?w=300&#038;h=187" alt="" width="300" height="187" /></a></p>
<p>“Anomali,” katamu suatu sore, saat kita kembali menghabiskan waktu di café favorit kita.</p>
<p>Aku menoleh.</p>
<p>“Menurutmu apa itu?”</p>
<p>Aku berpikir sesaat.</p>
<p>“Chaos, ketidakteraturan. Sesuatu yang menyimpang dari hukum atau aturan yang seharusnya,” jawabku terheran-heran dengan pertanyaan yang kau ajukan. Kau tersenyum seperti biasa.</p>
<p><span id="more-19"></span>“Ya,” katamu. “Anomali itu sebuah penyimpangan. Penyimpangan yang sengaja diciptakan oleh Tuhan.”</p>
<p>Aku memandangmu. Dirimu kini menatapku dengan matamu yang teduh dan tulus itu. Mata yang selalu berhasil menenangkan hatiku dan memenuhi duniaku. Mata teman sejatiku, jiwaku.</p>
<p>“Anomali air,” Kau mencoba memberi contoh. “Kau tahu air menguap di suhu tinggi dan membeku di suhu rendah. Tapi air justru menguap pada suhu 4 derajat. Tuhan sengaja membuat begitu dan tidak ada seorang manusiapun yang protes.”</p>
<p>Aku menggumam setuju.</p>
<p>“Kira-kira kenapa Dia membuat anomali, ya?” katamu.</p>
<p>“Bukan urusanku,” jawabku. “Mungkin Dia hanya iseng.”</p>
<p>Kau termangu sesaat lalu menyesap perlahan cokelat hangatmu dan memandang ke jalan, mengamati orang-orang. Aku memilih melanjutkan bacaan koranku hari ini. Kau tertarik dengan orang-orang, aku tertarik dengan berita. Tapi kita sedang menghabiskan waktu bersama seperti biasa.</p>
<p>“Kamu pernah berpikir kalau Tuhan mungkin punya selera humor yang bagus?” tanyamu lagi seraya memandangku.</p>
<p>Aku mengerutkan dahi.</p>
<p>“Dia jenuh menciptakan hal-hal apa adanya. Selera humor-Nya mendorong Dia bereksperimen dengan membuat anomali-anomali di alam ini,” katamu lagi.</p>
<p>“Dia kreatif,” balasku. Kau tertawa.</p>
<p>“Kalau sudah begini, aku jadi tidak bisa menyalahkan-Nya,” katamu membuatku heran.</p>
<p>&#8220;Kenapa kau ingin menyalahkan-Nya?&#8221; tanyaku tidak mengerti.</p>
<p>Kau memandang ke jalan, tidak menjawab. Hening. Sepasang muda-mudi melintas dengan langkah perlahan di seberang kita. Tangan saling bertaut, wajah penuh cinta.</p>
<p>“Sungguh, aku tidak akan menyalahkan-Nya kalau kita mungkin dianggap salah satu anomali-Nya,” katamu lagi tanpa mengalihkan perhatianmu dari muda-mudi itu. Aku mengikuti arah pandangmu dan terdiam sesaat. Kemudian kau menoleh padaku dan tersenyum.</p>
<p>“Aku menyukai selera humor-Nya,” katamu.</p>
<p>Kali ini aku tersenyum lalu menggenggam jemarimu.</p>
<p>“Bagiku kita adalah sebuah anugerah, bukan sebuah anomali,” kataku mantap.</p>
<p>Kau terdiam. Aku terdiam. Sore semakin tenggelam sementara kita, dua pria di ambang 30, masih menghabiskan waktu bersama. Kau tertarik dengan orang-orang, aku membaca berita. Tapi dalam hati kita sama-sama berkata, Aku mencintaimu.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritayosi.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritayosi.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritayosi.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritayosi.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritayosi.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritayosi.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritayosi.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritayosi.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritayosi.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritayosi.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritayosi.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritayosi.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritayosi.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritayosi.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritayosi.wordpress.com&amp;blog=10826468&amp;post=19&amp;subd=ceritayosi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritayosi.wordpress.com/2009/12/06/anomali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ceccd319d816b975f798a40b86db172?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ceritayosi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ceritayosi.files.wordpress.com/2009/12/holding-hands.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">holding-hands</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penantian (Prince of Tennis fanfic)</title>
		<link>http://ceritayosi.wordpress.com/2009/12/06/penantian-prince-of-tennis-fanfic/</link>
		<comments>http://ceritayosi.wordpress.com/2009/12/06/penantian-prince-of-tennis-fanfic/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 04:16:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ceritayosi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[fanfic POT]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritayosi.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Ada sebuah legenda yang mengatakan jauh di ujung utara Jepang terdapat suatu daerah bernama Osorezan, dimana di sekitarnya mengalir sungai Sanzu yang dipercaya sebagai perbatasan antara dunia manusia dengan dunia arwah. Para arwah yang ingin mencapai akherat terlebih dahulu harus menyeberangi sungai itu melalui sebuah jembatan. Mereka yang tidak mampu menyeberang adalah para arwah yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritayosi.wordpress.com&amp;blog=10826468&amp;post=17&amp;subd=ceritayosi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ceritayosi.files.wordpress.com/2009/12/1501.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-28" title="150" src="http://ceritayosi.files.wordpress.com/2009/12/1501.jpg?w=150&#038;h=150" alt="" width="150" height="150" /></a></p>
<p><em>Ada sebuah legenda yang mengatakan jauh di ujung utara Jepang terdapat suatu daerah bernama Osorezan, dimana di sekitarnya mengalir sungai Sanzu yang dipercaya sebagai perbatasan antara dunia manusia dengan dunia arwah. Para arwah yang ingin mencapai akherat terlebih dahulu harus menyeberangi sungai itu melalui sebuah jembatan. Mereka yang tidak mampu menyeberang adalah para arwah yang terperangkap sebagai arwah penasaran di dunia manusia. Mereka yang mampu menyeberang dengan mudah adalah para arwah yang berbuat banyak kebajikan dalam hidupnya. Namun tidak semua arwah yang baik bersedia segera menyeberangi jembatan itu. Beberapa dari mereka memilih untuk berhenti di depan jembatan dan menunggu.</em></p>
<p style="text-align:center;">***********************</p>
<p>“Fuji-<em>san</em>.”</p>
<p>Fuji Syusuke memandang dua penjaga arwah yang kini mendekatinya itu dengan tertarik. Keduanya pendek dan identik. Wajah mereka rata dan mereka sama-sama mengenakan sesuatu yang tampak seperti pakaian tradisional Jepang dengan selendang-selendang panjang yang halus berkilauan. Walaupun dia nyaris tidak bisa menemukan bentuk mulut pada wajah kedua arwah penjaga itu, namun jelas sekali dia mendengar suara mereka bergaung dalam pikirannya. Fuji menganggapnya menarik.</p>
<p>“Kenapa anda tidak melanjutkan perjalanan?” tanya salah seorang dari mereka.</p>
<p><span id="more-17"></span>“Kehidupan anda di dunia sudah berakhir. Anda orang baik dan penyayang. Keluarga anda bahagia. Kehidupan anda sempurna dan anda dihormati. Sekarang sudah saatnya anda menuju akherat. Silahkan melewati jembatan ini.”</p>
<p>Fuji tersenyum.  Salah satu roh penjaga itu menggamit lengannya.</p>
<p>“Mari saya pandu anda,” tawarnya.</p>
<p>Fuji menolak dengan halus.</p>
<p>“Terima kasih.  Tapi saya akan tetap di sini.”</p>
<p>“Kenapa?”</p>
<p>“Saya menunggu seseorang.”</p>
<p>“Apakah anda berdua sudah berjanji untuk bertemu di jembatan ini?”</p>
<p>Fuji tersenyum lagi.</p>
<p>“Apa kami harus berjanji dulu untuk saling bertemu?” Fuji balik bertanya.<br />
Kedua penjaga itu saling pandang dan menghela nafas.</p>
<p>“Tidak juga,” kata salah satu dari penjaga itu. “Dalam kegelapan ini, orang itu akan bisa melihat dan menemukan anda menunggu di sini asalkan dia juga memiliki perasaan yang sama dengan anda dan sedang mencari anda.”</p>
<p>Fuji tertegun.</p>
<p>Apakah kau juga akan mencariku? Apakah kau juga akan merasakan hal yang sama denganku? Kurasa ini adalah kesempatan terakhikur untuk memastikan semuanya.</p>
<p>“Kalau begitu saya akan menunggu.”</p>
<p>Maka Fuji Syusuke memutuskan untuk berhenti dan menunggu di depan jembatan tersebut. Dia memperhatikan kedua roh penjaga itu dengan tertarik. Selama ini dia selalu berpikir para penjaga akhirat itu adalah makhluk-makhluk yang menyeramkan. Ternyata mereka hanya dua sosok roh mirip anak kecil berkimono dengan bermuka rata yang ramah, jauh dari kesan menyeramkan. Atau mungkin karena dia sendiri telah menjadi roh? Omong-omong bagaimana wujudnya sebagai roh? Fuji tidak menemukan media apapun untuk berkaca. Dan yang lebih parah lagi, dia mulai bosan menunggu.</p>
<p>“Ada apa, Fuji-<em>san</em>?” tanya salah seorang penjaga.</p>
<p>Fuji tersenyum manis.</p>
<p>“Saya bosan,” katanya.</p>
<p>“Lalu?” tanya penjaga itu dengan nada heran.</p>
<p>Fuji tersenyum lagi.</p>
<p>“Dulu saya selalu memiliki orang-orang yang menghibur saya ketika saya bosan,” katanya. “Kadang-kadang kami membahas hal-hal menarik yang tidak penting atau bermain-main. Saya rasa sayasering melakukan hal itu dengan saudara-saudara atau teman-teman saya. Orang tua saya sebetulnya cukup menyenangkan untuk diajak bicara. Tapi ibu terlalu polos untuk diajak bercanda sedangkan ayah jarang di rumah karena pekerjaannya,” jelas Fuji tanpa di minta.</p>
<p>“Fuji-san,&#8230;-“ Salah seorang penjaga mencoba untuk memotong cerita Fuji tapi gagal.  Dia masih tetap berbicara dengan riang.</p>
<p>“Saya paling suka bermain dan mengobrol dengan kakak saya. Dia perempuan yang hebat. Saya banyak belajar darinya. Mungkin kalian sudah pernah bertemu dengannya,” Fuji terdiam sejenak dan berpikir. “Oh, dan Yuuta adalah adik yang paling hebat di dunia. Kalian bisa membuktikannya nanti saat dia tiba di jembatan ini.”</p>
<p>Fuji terdiam sejenak dan mendadak merasa sedih.</p>
<p>“Fuji-san, anda tdak apa-apa?”</p>
<p>Fuji menghela nafas.</p>
<p>“Sebetulnya saya ingin melalui jembatan ini bersama Yuuta.  Tapi saatnya belum tiba.”</p>
<p>Kedua penjaga itu saling pandang.</p>
<p>“Jadi adik anda bukan orang yang anda tunggu?”</p>
<p>Fuji menggeleng lalu tersenyum.</p>
<p>“Kecuali kalau saya diperkenankan menunggu dua orang sekaligus.”</p>
<p>“Anda tidak masuk akal, Fuji-<em>san</em>.”</p>
<p>Fuji tersenyum makin lebar.</p>
<p>Obrolan mereka terhenti ketika serombongan roh muncul dari kegelapan. Dari kejauhan roh-roh itu berwujud macam-macam, ada yang tua renta, anak-anak, remaja maupun dewasa. Fuji mendang mereka dengan terpesona karena semakin mendekati jembatan itu, sosok-sosok roh itu perlahan berubah menjadi sosok-sosok muda yang indah. Fuji menggumam takjub. Jadi beginikah wujud para roh yang akan melintasi jembatan Sanzu? Para penjaga itu kini sibuk menyambut dan mengantar roh-roh berwajah gembira itu melewati jembatan.</p>
<p>“Kenapa mereka muncul beramai-ramai?” tanya Fuji ingin tahu setelah rombongan itu berlalu.</p>
<p>“Oh, mereka adalah rombongan peziarah yang tewas akibat kebakaran di sebuah kuil.”</p>
<p>“Itu mengerikan.”</p>
<p>“Tapi mereka bahagia.  Anda lihat?  Mereka menyeberang dengan tenang.”</p>
<p>“Saya mengerti,” gumam Fuji mengangguk-angguk.  “Lalu kenapa mereka semua berubah menjadi muda dan sehat?”</p>
<p>“Semua orang yang melewati jembatan ini berubah menjadi sosok yang terbaik dalam fase kehidupan manusia mereka,” jelas salah satu penjaga.</p>
<p>“Apa saya juga begitu?” tanya Fuji ingin tahu.</p>
<p>“Ya, anda berada pada sosok terbaik anda sekarang, Fuji-san. Anda,,,” Roh penjaga itu berhenti sesaat. Fuji memiringkan kepalanya menunggu lanjutan kalimat itu dengan ingin tahu. “Itu&#8230;eh..anda&#8230;kelihatan sangat cantik dan bersinar,” Penjaga itu berdehem sesjenak. “..seperti malaikat,” sambung penjaga itu pelan. Temannya mengangguk setuju. Fuji tertawa kecil, merasa puas dengan nada malu-malu dari penjaga-penjaga itu.</p>
<p>“Lalu apa itu, cahaya-cahaya pucat suram yang melayang-layang di sekeliling jembatan?” tanya Fuji lagi penasaran.</p>
<p>“Itu adalah arwah-arwah penasaran yang terperangkap antara dunia manusia dan dunia kematian. Mereka tidak bisa melanjutkan perjalanannya karena alasan-alasan tertentu.”</p>
<p>Fuji tersenyum lagi.  Dia benar-benar menyukai para penjaga yang menurutnya imut ini.</p>
<p>“Sepertinya kalian banyak tahu,” katanya riang. “Saya jadi ingin tahu sudah berapa lama kalian bertugas di sini, menjaga dan mengamati orang yang melewati jembatan ini,” Kedua roh penjaga itu saling pandang (setidaknya begitu yang dirasa Fuji).</p>
<p>“Apa kalian digaji dengan baik?  Bagaimana dengan jatah libur dan bonus lemburnya?”</p>
<p>“Fuji-san,” potong salah satu dari penjaga itu. “Kami penjaga jembatan dunia-akherat, bukan penjaga perbatasan negara di dunia manusia!”</p>
<p>“Kalian cocok untuk posisi itu.”</p>
<p>Penjaga yang lain berdehem lagi.</p>
<p>“Fuji-san, ada banyak roh yang tidak mau segera melewati jembatan ini. Tapi mungkin baru anda yang pertama mengajak kami mengobrol dan menganggap kami sebagai sepasang pengawal perbatasan antar negara,” kata yang lain berusaha menyabarkan diri.</p>
<p>Fuji tertawa pelan, merasa senang dengan reaksi mereka. Walaupun mereka berwajah rata, tapi Fuji bisa membayangkan wajah itu mengerut kesal. Fuji gembira ternyata kegemarannya tidak menghilang setelah kematian fana itu. Dia masih mendapatkan dirinya tersenyum senang melihat reaksi mereka yang terganggu dengan ucapannya. Itu yang membuatnya tidak pernah bisa berhenti menggoda Yuuta, teman-temannya dan terutama dia. Sampai di sini Fuji semakin melebarkan senyumnya.</p>
<p>Fuji tidak pernah berpikir untuk menyukai tennis. Dia hanya berpikir tennis adalah permainan yang menyenangkan. Maka ketika dia memenangkan pertandingan tennis anak-anak pertamanya, dia sama sekali tidak berpikir untuk serius melanjutkannya. Yuuta begitu tergila-gila dengan tennis. Ketika Fuji mengetahuinya, dia berpikir bermain-main dengan adiknya pasti akan sangat menyenangkan. Jadi dia memutuskan untuk terus bermain tennis demi Yuuta. Ketika dia memasuki Seigaku Junior High School, wali kelasnya menyarankan dia untuk bergabung dengan klub tennis Seigaku ketika melihat daftar prestasi kejuaraan tennis yang dimilikinya. Fuji hanya menyetujuinya tanpa pernah menyangka keputusan itu akan merubah pandangannya selama ini mengenai hubungan manusia.</p>
<p>“Anda melamun,  Fuji-<em>san</em>,”</p>
<p>Suara itu membawa kembali Fuji dari lamunannya.  Fuji tersenyum dan meminta maaf dengan halus.</p>
<p>“Kenangan itu pasti sangat indah, ya?” tanya salah satu penjaga itu.</p>
<p>“Ya,” jawab Fuji.  “Bahkan terlalu indah.”</p>
<p>Terutama kenangan akan dirinya.</p>
<p>Awalnya Fuji tidak pernah berharap apapun ketika bergabung dengan klub tenis itu. Dia hanya ingin menunggu hingga tahun berikutnya, saat adiknya memasuki klub yang sama. Namun dia berubah pikiran ketika untuk pertama kalinya matanya bertemu dengan sepasang mata cokelat yang tajam di balik kacamata elegan itu. Sejak awal pertmuan mereka, Fuji tahu ada yang istimewa dengan teman seangkatannya itu. Dia siswa yang pandai dan rajin, sangat bertanggung jawab, penuh dedikasi sekaligus kaku dan pendiam. Kemampuan tenisnya jauh melampaui para senior mereka, membuat Fuji merasa tertantang untuk bergaul akrab dengannya. Saat itu masih musim semi, di antara helaian kelopak sakura yang berguguran di halaman ekolah, Fuji menyapanya untuk pertama kali.</p>
<p>“Tezuka…”</p>
<p>Fuji hanya berpikir Tezuka seharusnya memiliki sahabat. Kaku dan sendiri bukan kondisi yang baik untuk remaja seperti mereka. Tezuka seharusnya menyadari itu. Fuji mencoba menyapanya setiap hari dan mengajaknya berbicara tentang hal-hal ringan bila ada kesempatan. Tezuka tidak terlalu banyak menanggapi. Tapi Fuji tidak peduli. Tantangan itu semakin menarik untuk dilakukan. Tahun berikutnya mereka menjadi teman sekelas dan Fuji menganggap itu sebagai berkah. Waktu untuk bersama semakin banyak dan mereka menjadi teman dekat ketika Tezuka mulai terbiasa dengan kehadiran Fuji di sisinya. Mereka selalu bersama, saling melengkapi dan memahami, seperi benda dan bayangan. Perasaan yang tumbuh itu makin kuat. Sebelum mereka saling menyadari, perasaan itu telah berkembang menjadi sesuatu yang terlarang.</p>
<p>Saat itu hari terakhir ujian sekolah ketika Fuji mengajaknya berjalan bersama sepulang sekolah, menyusuri sudut-sudut sekolah yang mulai sunyi, berusaha merekam kembali kenangan-kenangan yang mungkin terlewat. Mereka lalu terlibat dalam sebuah pembicaraan melankolis mengenai kelulusan dan perpisahan. Fuji tidak mengerti apakah mereka terlalu terbawa percakapan mereka, atau karena pengaruh hormon remaja yang membuatnya tidak bisa menahan diri, tiba-tiba dia sudah mendapatkan dirinya mengucapkan itu.</p>
<p><em>Tezuka, aku mencintaimu.</em></p>
<p>Fuji hanya ingat sejenak mata mereka saling memandang. Tidak ada percakapan setelah pengakuan itu. Dia tahu hatinya bergemuruh keras dan waktu seolah berhenti. Dia hanya tidak bisa berpikir mereka harus berpisah setelah kelulusan itu setelah dia mendengar renacana Tezuka untuk melanjutkan pendidikan tenisnya di Jerman. Fuji menyentuh wajah kaku itu. Dia tidak bergerak ketika dirinya mendekat. Tiba-tiba saja mulut mereka sudah bertemu. Fuji merasa melayang hingga logika kembali menghempaskannya kepada kenyataan. Tezuka menarik diri.</p>
<p>“Kita tidak bisa melakukan ini, Fuji.”</p>
<p>Fuji terdiam sejenak lalu tersenyum.</p>
<p>“Aku mengerti.”</p>
<p>“Mungkin..-“  Tezuka berpikir sesaat.  “Kita harus menunggu.”</p>
<p>Fuji tertawa pahit. Wajah sahabatnya masih tidak berubah, namun dia bisa melihat ada yang berbeda pada sepasang mata itu. Kilatan ketidakpastian berkelebat di dalamnya. Fuji sama sekali tidak menyukai kekakuan yang timbul di antara mereka sekarang.</p>
<p>”Untuk apa?”</p>
<p>”Waktu akan memperjelas perasaan ini.”</p>
<p>Fuji tertawa lagi, kali ini dengan nada lebih ringan.</p>
<p>“Jangan pernah berharap dari cinta remaja.  Begitu maksudmu?”</p>
<p>Tezuka tidak menyahut. Senyum Fuji menghilang saat melihat wajah sahabatnya berubah bingung. Mereka kembali terdiam. Tezuka menunduk dan menghela nafas berat. Entah kenapa itu membuat perasaan tidak nyaman dalam hatinya Fuji makin menjadi.</p>
<p>“Apakah karena kita sama-sama laki-laki?” tanya Fuji pelan.</p>
<p>”Kita masih terlalu muda.”</p>
<p>Fuji menghela nafas.</p>
<p>”Kau tahu, aku tidak keberatan mengakui mungkin aku gay sejak kecil.”</p>
<p>”Pikiranmu sangat terbuka.”</p>
<p>”Tezuka, aku mencintaimu,” kata Fuji cepat-cepat.</p>
<p>“Fuji, kamu hal terbaik yang pernah kumiliki.”</p>
<p>“Apa itu berarti kamu mencintaiku juga?”</p>
<p>Tezuka tidak menyahut.  Fuji menghela nafas.</p>
<p>”Aku mengerti, Tezuka.”</p>
<p>Setidaknya kau tidak menolak ciuman itu. Aku senang kau adalah orang yang memberikan ciuman pertama itu. Bila waktu bisa membuat semuanya menjadi lebih jelas, maka aku tidak akan keberatan untuk menunggu.</p>
<p>“Anda menemukan cinta di sana?”</p>
<p>Fuji tersadar. Dia menoleh. Sepasang mata birunya memandang sepasang penjaga itu sesaat. Lalu mata biru itu kembali tertutup dan sebuah senyum kembali menghias wajah Fuji.</p>
<p>“Saya menemukan banyak cinta dalam persahabatan saya. Ikatan perasaan itu sangat kuat, bahkan hingga berpuluh-puluh tahun berikutnya. Saya terus behubungan dengan mereka, saling bertukar kabar, melakukan reuni, saling membantu dan melakukan hal-hal menyenangkan bersama di antara waktu yang semakin sulit kami tentukan. Saya beruntung mengenal mereka.”</p>
<p>“Anda bertemu dengan pasangan hidup anda?”</p>
<p>“Saya bertemu dengan istri saya setelah bekerja. Dia seorang penulis terkenal. Kami bertemu di pameran foto saya yang pertama. Dia wanita Perancis yang cantik dan tenang dengan jari-jari yang indah. Kami menikah dan menjalani kehidupan yang sempurna hingga hari tua menjelang.” Fuji mengenang sesaat. “Mungkin seharusnya saya berterima kasih atas apa yang telah dia berikan pada saya. Kenangan bersamanya sangat manis. Dia istri dan ibu yang baik. Saya selalu berusaha membuatnya bahagia. Tapi itu semua tidak pernah cukup untuk membalas segala kebaikannya.”</p>
<p>“Apa anda mencintainya?”</p>
<p>“Saya..-“</p>
<p>Fuji tertegun ketika menyadari dia tidak bisa langsung menjawab pertanyaan itu. Mudah baginya untuk berkata betapa dia mencintai istrinya setengah mati ketika masih hidup. Namun sekarang dia mendapatkan lidahnya seolah membeku untuk mengeluarkan kalimat itu.</p>
<p>Apakah aku benar-benar mencintainya?</p>
<p>Sesuai rencananya, Tezuka berangkat ke Jerman untuk melanjutkan kariernya sebagai pemain tenis muda dunia. Targetnya adalah Wimbloden, dan Jepang terlalu kecil untuk mimpinya. Fuji memilih melanjutkan sekolahnya di Jepang. Dia mendaftarkan dirinya pada klub fotografi, hobinya yang lain karena alasan sentimentil. Dia tidak ingin teringat kembali dengan seluruh kenangannya bersama tim tenis reguler, terutama tentang sosok kepten Tezuka Kunimitsu yang begitu karismatik di lapangan. Yuuta sudah tidak membutuhkan dirinya untuk bermain tenis. Diapun kini mengejar mimpi.<br />
Fuji sudah merasa cukup dengan tenis.  Dia memilih untuk mengikuti gerakan Tezuka melalui jalan yang berbeda.</p>
<p>Mereka masih tetap berhubungan. Mereka berkirim surat, saling menelepon dan bertemu setiap ada kesempatan. Ironis, semakin dewasa mereka justru makin terbiasa mengendalikan perasaan itu. Bersikap normal menjadi begitu mudah. Mereka tidak pernah membicarakan hal itu lagi. Obrolan mereka lugas dan umum, seperti obrolan dua sahabat lama. Namun ada kalanya Tezuka membiarkan Fuji menunjukkan perhatian yang lebih dari seorang sahabat. Di lain pihak, Fuji mendapatkan sepasang mata cokelat itu masih bersinar sama walaupun sahabatnya tidak pernah bereaksi lebih daripada seorang sahabat..</p>
<p>Kadang Fuji merasa tertekan dengan perasaan rindu yang muncul di antara malam-malam sunyinya. Ada saat di mana dia ingin sekali kembali memastikan semuanya ketika dia melihat kehangatan dan pengertian dalam mata Tezuka. Dia tahu Tezuka tidak pernah berubah. Mereka hanya tidak pernah membahasnya lagi. Itulah yang bisa dia lakukan karena dia begitu memahaminya. Mereka masih tetap bertemu, bertukar kabar, atau bermain tenis bersama (saat Tezuka kembali ke Jepang). Mereka selalu menjadi yang pertama mengucapkan selamat pada yang lain. Fuji terbang ke Inggris ketika mendengar Tezuka mengalami cedera di sana. Sebaliknya, Tezuka menyempatkan diri kembali ke Jepang ketika mengetahui kecelakaan serius menimpa Fuji. Fuji berpikir mungkin Tezuka benar. Waktu yang berjalan membuat perasaan itu makin jelas tanpa perlu mereka bicarakan. Fuji mulai membangun harapan hingga sebuah kenyataan menghancurkan perasaannya. Tezuka bertungan.</p>
<p>Calon istrinya adalah seorang saudara jauh. Dia cantik dan pandai, sangat sesuai bersanding dengannya. Dia bahkan bersikap baik dan sopan di hadapan Fuji. Saat itulah pertama kalinya Fuji membiarkan dirinya tenggelam habis-habisan dalam pengaruh alkohol dan mengutuk Tezuka. Dia tahu kehangatan itu tidak ada dalam mata Tezuka ketika dia memandang calon istrinya. Dia tahu Tezuka hanya menjalankan tanggung jawabnya sebagai satu-satunya anak di keluarganya. Dia mengerti Tezuka hanya mencoba menjadi seorang calon suami yang baik. Fuji ingin menembak kepalanya malam itu kalau saja dia temukan senjata di sampingnya. Dia membutuhkan beberapa minggu untuk merenung sebelum akhirnya memutuskan untuk menghubungi Tezuka.</p>
<p>“Tezuka, selamat atas pertunanganmu.”  Fuji berjuang keras agar suaranya terdengar normal.  Berat.</p>
<p>”Terima kasih”<br />
Ada kesunyian yang mengiris di antara mereka dan Fuji sama sekali tidak menyukainya.</p>
<p>”Tezuka, kau masih ingat kenangan-kenangan di sekolah dulu?”</p>
<p>”Ya.”</p>
<p>”Itu adalah kenangan terindah yang kumiliki.”</p>
<p>”Aku juga.”</p>
<p>Mereka kembali saling diam.  Fuji tidak tahu kenapa tiba-tiba dia merasa muak dan ingin berteriak.</p>
<p><em>Tezuka bodoh! Tidak bisakah kau beri komentar yang lebih simpatik? Tahukah kamu aku baru saja hancur berkeping-keping karena keputusanmu?</em></p>
<p>“Tezuka, aku masih mencintaimu.” Fuji terdiam sejenak menunggu reaksi di sana. Dia kembali melanjutkan ketika tidak ada jawaban dari sana. “Kau merasa terganggu dengan itu?”</p>
<p>”Fuji, kurasa kita sudah jelas dengan..-”</p>
<p>”Jawab saja pertanyaannya,” tukas Fuji. Dia menggigit bibir merasakan kesabaran yang sudah di ambang batas. Dia sudah mengantisipasi pembicaraan ini dan menyiapkan diri. Tapi di luar dugaan, luapan emosi ini terlalu besar. ”Kumohon&#8230; Tezuka,” keluhnya.</p>
<p>”Aku tidak terganggu.”</p>
<p>”Apa itu berarti kau juga mencintaiku?”</p>
<p>”Fuji, kau adalah yang terbaik yang pernah kupunya.”</p>
<p>”Ya atau tidak?”</p>
<p>”Fuji, maafkan aku..-”</p>
<p>Fuji memutuskan pembicaraan itu. Dia membenci penyangkalan. Sejak melihat Yuuta kecil menangis, Fuji tidak pernah menangis. Tapi kini dia menangis seperti perempuan meratapi serpihan hatinya yang tidak mungkin menyatu kembali.</p>
<p>Kenapa begitu susah kau mengakuinya? Kejujuran di matamu itu tidak pernah bisa membohongi aku. Apakah reputasi dan nama baik lebih penting dari pada mengakui perasaan itu? Apakah kaupun menganggap itu sebagai suatu yang memalukan dan rendah?</p>
<p>Fuji mengerti posisi Tezuka. Keluarganya sangat terhormat dan konservatif. Dia tidak mungkin mengecewakan mereka. Menyesali keputusan Tezuka habis-habisan tidak akan menghasilkan apapun. Dia hanya perlu, sekali lagi, mengikuti langkah itu. Mereka hanya bisa memakai kembali topeng kesempurnaan itu demi menutupi semuanya. Maka Fuji memutuskan untuk keluar dari Jepang dan berhenti mengejar bayangan Tezuka.</p>
<p>”Saya bersyukur bertemu dengan wanita sehebat istri saya. Saya bahagia bersamanya,” kata Fuji halus, mencoba untuk menjawab pertanyaan roh penjaga itu.</p>
<p>”Anda tidak bahagia, Fuji-san.”<br />
Fuji mengerjap mendengar komentar itu.</p>
<p>”Kenapa?”</p>
<p>”Karena kalau anda benar-benar bahagia, mudah bagi anda untuk menjawab pertanyaan saya tadi.”</p>
<p>”Saya bahagia. Kalau tidak, saya tidak akan menyelesaikan kisah hidup saya dengan sempurna. Saya tidak akan meninggalkan dunia dengan dikelilingi oleh anak-anak saya, cucu saya dan teman-teman saya yang baik. Saya tidak akan hidup selama itu.”</p>
<p>“Tapi jauh dalam hati anda, bukan kehidupan itu yang anda inginkan. Dan sekarang anda ingin memastikan hal itu. Itu sebabnya anda berhenti di sini. Anda ingin mencari kebahagiaan sejati anda untuk terakhir kalinya.”</p>
<p>Fuji termangu mendengar penjelasan itu.</p>
<p>”Fuji-san, orang yang anda tunggu bukan istri anda, kan?”</p>
<p>Fuji terdiam sesaat lalu menghela nafas berat.</p>
<p>“Bukan.”</p>
<p>“Siapa dia?”</p>
<p>“Seseorang kepada siapa saya sebetulnya ingin mempersembahkan hidup saya.”</p>
<p>“Kenapa anda tidak bisa bersama dengan orang itu di kehidupan sebelumnya?”</p>
<p>Fuji tersenyum pahit.</p>
<p>“Terlalu banyak hal yang harus dipertimbangkan. Terlalu banyak konsekuensi yang harus ditanggung. Dia satu-satunya harapan keluarganya. Dia tidak mungkin menghancurkan semua harapan itu. Saya menghormati keputusannya. Saya pikir akan mudah melupakannya. Tapi ternyata tidak. Saya pernah berharap sebuah keajaiban terjadi, atau mungkin sedikit keberanian muncul di antara kami untuk mendobrak dinding itu. Tapi itu tidak terjadi. Saya mendapatkan diri saya dan dirinya berjuang keras mempertahankan agar semuanya tampak normal dan sempurna. Maka kemudian saya hanya bisa menunggu.”</p>
<p>“Menunggu?”</p>
<p>“Menunggu hingga kami sama-sama berada dalam dunia dimana segala perbedaan itu tidak lagi diperhitungkan. Kami sudah berjanji untuk bertemu dan melewati jembatan ini bersama-sama.”</p>
<p>“Anda yakin dia akan muncul?”</p>
<p>“Dia pasti akan muncul dan menemukan saya,” kata Fuji mantap.</p>
<p>“Fuji-san,” kata penjaga lainnya. “Apa anda pernah membayangkan kalau orang yang anda tunggu ternyata tidak akan menoleh pada anda?” Fuji tidak menyahut. “Anda tahu apa yang akan terjadi?”</p>
<p>Suasana mendadak terasa begitu hening. Fuji menggigil ketika memandang cahaya-cahaya pucat yang melayang-layang di antara kegelapan.<br />
<em><br />
Ne, Tezuka, apakah alam transisi ini memang begini dingin?</em></p>
<p>“Saya akan berakhir seperti mereka.”</p>
<p>Kedua penjaga itu menghela nafas.</p>
<p>“Baiklah, Fuji-san.  Silahkan menikmati penantian anda.”</p>
<p>“Terima kasih.”</p>
<p>Maka Fuji pun memutuskan untuk kembali menunggu, tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan. Dia mengerti karena memang itulah yang bisa dia lakukan sekarang. Penjaga itu kembali disibukkan oleh beberapa roh yang muncul dan melewati jembatan. Tidak ada yang menoleh dan berhenti untuk Fuji. Tidak ada yang dikenal oleh Fuji dan tidak ada yang terlihat seperti sosok yang dinantinya.</p>
<p><em>Tezuka, aku masih ingat dengan ciuman itu. Tahukah kamu kadang kau jujur. Aku bisa merasakannya. Dan pandangan matamu, aku tahu tidak ada yang kau sembunyikan di situ. Pandanganmu selalu lembut dan memuja. Aku merasa sangat beruntung mendapatkannya. Hal itu yang membuatku terus bertahan untuk memainkan peranku dalam kehidupan kita. Aku tidak pernah membutuhkan kata-kata karena aku selalu mengerti. Kita selalu mengerti. Dan ribuan pesan yang tanpa sadar telah kau kirimkan padaku membuatku mengerti aku harus menunggu. Maka aku akan terus menunggumu hingga waktu itu tiba, saat kita bisa memperjelas semua ini.<br />
</em><br />
********************</p>
<p>“Fuji.”</p>
<p>Suara itu masih tetap sama seperti yang dia ingat. Berat dan dalam. Fuji tersadar dan menoleh. Sosok roh itu muncul dari kegelapan dalam wujud rentanya. Fuji berbalik dan tersenyum lebar. Sosok itu perlahan mendekat dan berubah. Rambut tipis kelabu perlahan menjadi tebal dan gelap. Kulit rentanya perlahan menghalus dan tubuh rapuhnya pelan-pelan menegak. Dia sekarang berdiri tepat dihadapannya, tampak indah, seindah dalam ingatan Fuji. Senyum Fuji melebar.</p>
<p>“Tezuka, akhirnya kau benar-benar memandangku.”</p>
<p>Tezuka hanya menggumam pelan. Fuji menyentuh wajah itu dengan penuh kerinduan. Kapan terakhir kali dia menciumnya? Yang pasti, itu sudah lama sekali berlalu.</p>
<p>“Tezuka, aku mencintaimu,” katanya.  Senyum bahagia menghias wajahnya.</p>
<p>Tezuka memandangnya sesaat dengan ragu.</p>
<p>“Kau adalah yang terindah yang kumiliki, Fuji.”</p>
<p>Senyum Fuji memudar.  Sepasang mata birunya memandang tepat ke mata Tezuka.</p>
<p>“Tidakkah kau punya kata-kata yang lebih baik? Aku sudah capek mendengar kalimat itu darimu!” Fuji terdiam sesaat. “Bodoh kau, tidak bisakah kau berhenti menyangkalnya?” keluhnya dengan nada frustasi.</p>
<p>Tezuka tersenyum tipis.  Matanya kini melembut menatap Fuji.</p>
<p>“Aku juga mencintaimu, Fuji.  Maaf telah membuatmu menunggu selama ini untuk mendengarnya.”</p>
<p>Fuji tercengang sesaat mendengar kalimat itu.  Ini lebih dari yang dia harapkan.</p>
<p>Perlahan senyum bahagia mengembang di wajahnya.</p>
<p>“Kalau begitu aku tidak keberatan menunggu,” balasnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritayosi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritayosi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritayosi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritayosi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritayosi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritayosi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritayosi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritayosi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritayosi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritayosi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritayosi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritayosi.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritayosi.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritayosi.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritayosi.wordpress.com&amp;blog=10826468&amp;post=17&amp;subd=ceritayosi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritayosi.wordpress.com/2009/12/06/penantian-prince-of-tennis-fanfic/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ceccd319d816b975f798a40b86db172?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ceritayosi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ceritayosi.files.wordpress.com/2009/12/1501.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">150</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Malaikat Kecil</title>
		<link>http://ceritayosi.wordpress.com/2009/12/06/malaikat-kecil/</link>
		<comments>http://ceritayosi.wordpress.com/2009/12/06/malaikat-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 04:09:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ceritayosi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritayosi.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Tersebutlah seorang anak perempuan yang telah merebut hati banyak orang.  Orang-orang menyebutnya &#8220;malaikat kecil&#8221;.  Wajahnya cantik dan lucu, tingkahnya menggemaskan, suara jernihnya melenakan, tangisnya menyesakkan (siapapun mereka tidak akan tega lama-lama mendengarkan tangisa malaikat kecil ini) dan kecerdasannya mengagumkan.  Umurnya belum genap tiga tahun tapi dia sudah mampu menghapal kalimat-kalimat dalam bahasa asing. Dia hafal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritayosi.wordpress.com&amp;blog=10826468&amp;post=14&amp;subd=ceritayosi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ceritayosi.files.wordpress.com/2009/12/little-angel.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-31" title="little angel" src="http://ceritayosi.files.wordpress.com/2009/12/little-angel.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Tersebutlah seorang anak perempuan yang telah merebut hati banyak orang.  Orang-orang menyebutnya &#8220;malaikat kecil&#8221;.  Wajahnya cantik dan lucu, tingkahnya menggemaskan, suara jernihnya melenakan, tangisnya menyesakkan (siapapun mereka tidak akan tega lama-lama mendengarkan tangisa malaikat kecil ini) dan kecerdasannya mengagumkan.  Umurnya belum genap tiga tahun tapi dia sudah mampu menghapal kalimat-kalimat dalam bahasa asing.</p>
<p>Dia hafal sejumlah lagu dalam bahasa asing.  Dia bahkan mampu berceloteh untuk sekedar menegur kedua orang tuanya atau menggoda saudara-saudara dan orang-orang di sekitarnya.  Semua orang tersenyum padanya, menyapanya, mencubit pipinya dan berkata lemah-lembut di hadapannya.</p>
<p>Orang tuanya menyayangi sang malaikat kecil.  Mereka bangga padanya.  Mereka merasa sangat diberkahi dengan kehadiran malaikat kecil yang berhasil membuat siapa saja jatuh cinta padanya.  <span id="more-14"></span>Mereka melakukan hal yang terbaik untuk menyenangkan malaikat kecil mereka.  Mereka menuruti semua keinginanya, membanjiri malaikat kecil dengan berbagai  kebutuhannya dan berusaha sekuat tenaga melimpahi kasih sayang yang tidak terkira.  Mereka tidak tega mendengarnya menangis.  Mereka tidak bisa membiarkannya marah.  Malaikat kecil adalah segalanya.</p>
<p>Malaikat kecil mulai menyadari segala perhatian yang ditujukkan padanya.  Dia mendapatkan semua orang mengaguminya, menyayanginya dan menyukainya.  Dia mendapatkan orang tuanya dan orang-orang yang ada di sekelilingnya selalu menuruti keinginannya.  Dia tahu mereka tidak akan pernah bisa bertahan mendengar tangisannya.  Malaikat kecilpun mulai mengandalkan tangisannya untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.</p>
<p>Bertambah besar, malaikat kecil mulai merasa tangisnya tidak mungkin lagi untuknya mendapatkan semua keinginanya.  Orang tuanya mulai berkata bahwa sudah saatnya dia tidak menangis lagi.  Hari itu malaikat kecil marah mendapatkan pengasuhnya tidak menanggapi celotehnya.  Malaikat kecil membanting mainannya.  Semua orang di sekelilingnya terkejut dan buru-buru menghibur dan menanggapinya.  Malaikat kecil mengerti selain menangis, sekarangd ia bisa mendapatkan keinginannya dengan membanting sesuatu..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritayosi.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritayosi.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritayosi.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritayosi.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritayosi.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritayosi.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritayosi.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritayosi.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritayosi.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritayosi.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritayosi.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritayosi.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritayosi.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritayosi.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritayosi.wordpress.com&amp;blog=10826468&amp;post=14&amp;subd=ceritayosi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritayosi.wordpress.com/2009/12/06/malaikat-kecil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ceccd319d816b975f798a40b86db172?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ceritayosi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ceritayosi.files.wordpress.com/2009/12/little-angel.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">little angel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Inspirasi</title>
		<link>http://ceritayosi.wordpress.com/2009/12/06/inspirasi/</link>
		<comments>http://ceritayosi.wordpress.com/2009/12/06/inspirasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 04:04:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ceritayosi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[boyslove]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritayosi.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Setiap pagi saya selalu memperhatikannya dari sudut jendela kamar saya sambil menikmati secangkir kopi hangat bahkan sebelum saya melakukan aktivitas apapun. Tidak ada alasan khusus kenapa saya lakukan ini setiap hari belakangan ini. Bangun tidur, membuat secangkir kopi, memandang jam, melangkah menuju jendela kamar saya dan menunggunya datang. Semuanya berasal dari hari itu. Saat saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritayosi.wordpress.com&amp;blog=10826468&amp;post=11&amp;subd=ceritayosi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ceritayosi.files.wordpress.com/2009/12/looking-for-someone.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-33" title="looking for someone" src="http://ceritayosi.files.wordpress.com/2009/12/looking-for-someone.jpg?w=300&#038;h=231" alt="" width="300" height="231" /></a></p>
<p>Setiap pagi saya selalu memperhatikannya dari sudut jendela kamar saya sambil menikmati secangkir kopi hangat bahkan sebelum saya melakukan aktivitas apapun. Tidak ada alasan khusus kenapa saya lakukan ini setiap hari belakangan ini. Bangun tidur, membuat secangkir kopi, memandang jam, melangkah menuju jendela kamar saya dan menunggunya datang.</p>
<p>Semuanya berasal dari hari itu. Saat saya terbangun terhuyung-huyung pagi itu karena jam tidur yang kurang semalam. Saya mendekati cermin dan menghela nafas mendapatkan lingkaran hitam itu menghiasi mata saya yang lembek kemerahan. Saya menyalahkan diri saya. Saya membutuhkan kejernihan pikiran saya. Apa yang terjadi dengan diri saya sehingga saya harus menderita seperti ini?<span id="more-11"></span><br />
Adik saya bilang itu adalah gejala &lt;em&gt;writer’s block&lt;/em&gt;, saat dimana kepala tiba-tiba menjadi kosong dan buntu, saat inspirasi tiba-tiba menghilang dan enggan hadir di dalamnya. Saya terhenyak. Kenapa saya harus mengalaminya? Kata mereka saya jenius. Saya selalu mendapatkan ide mengalir bagai air bah dalam pikiran saya. Terkadang saya harus berteriak berhenti karena kewalahan menuliskan arus-arus ide itu melalui tangan saya yang hanya terbatas dua. Maka ketika mendapatkan saluran itu mampat, saya hanya bisa mengeluh frustasi, <em>kok bisa?</em></p>
<p>Saya punya tenggat waktu yang harus segera dipenuhi. Saya punya orang-orang yang harus dihadapi. Saya harus menulis sesegera mungkin. Saya membutuhkan inspirasi. Tapi apa yang bisa saya tulis?</p>
<p><em>Tulis tentang orang-orang yang kaucintai, saran adik saya.</em></p>
<p><em>Para pembaca itu sudah tahu siapa dan bagaimana mereka</em>, jawab saya.</p>
<p><em>Tulis tentang hal-hal yang kausukai, benda-benda kesayanganmu atau yang ada di ruanganmu.</em></p>
<p><em>Aku sudah kehabisan kata menggambarkan mereka.</em></p>
<p><em>Tulis tentang negara ini, kebobrokan pemerintah, masalah-masalah sosial dan semacamnya.</em></p>
<p><em>Aku tidak mau ikut frustasi di dalamnya</em>, jawab saya.</p>
<p><em>Kalau begitu lihatlah keluar. Temukan apa yang bisa kau lihat di sana.</em></p>
<p>Maka saya melakukan saran itu. Tanpa menghiraukan kepala yang berdenyut-denyut saya meraih gelas kopi saya dan melangkah ke sudut jendela. Saya melihat keluar. Saya memperhatikan sekeliling. Saya terkejut melihat warna-warni pagi. Hiruk pikuk orang-orang itu, keindahan nuansa, keanekaragaman aktivitas dan ekspresi membuat saya tersadar akan latar belakang dan tema yang terbentang di hadapan saya. Saya merasa seperti seekor katak yang baru saja keluar dari tempurungnya. Saya takjub. Kenapa tidak saya lakukan ini dari dulu?</p>
<p>Tapi saya tetap tidak bisa menulis. Luapan latar belakang dan adegan itu membanjiri kepala saya membuat otak saya menjerit-jerit minta tolong, apa yang harus saya lakukan dengan mereka? Saya membutuhkan fokus. Saya membutuhkan lakon. Saya membutuhkan sebuah karakter yang mampu memusatkan konsentrasi saya padanya. Karakter yang bisa saya menarik seluruh imajinasi saya dan menempatkan segala latar belakang dan konflik itu dalam kehidupannya. Saat itulah saya melihatnya.</p>
<p>Pemuda itu berlari-lari dari sudut jalan dengan panik. Saya tidak tahu apa yang membuat saya tiba-tiba tertarik padanya. Saya hanya melihat dia begitu hidup dan bersinar. Dia berhenti di halte tepat ketika bus yang berhenti di situ bergerak maju. Dia meraih gagang pintu bus serta-merta melompat masuk dan meninggalkan saya yang sempat terpukau melihat keindahan ekspresi lega di wajahnya.</p>
<p>Apa yang membuatnya terburu-buru? Apa yang sedang dikejarnya? Apakah dia terlambat sampai di tempat tujuan? Apa yang kira-kira dia pikirkan?</p>
<p>Tiba-tiba saya merasa telah menemukan fokus itu. Pemuda itu seolah mengisi kekosongan sebuah ruangan penting dalam relung imajinasi saya. Seperti potongan puzzle yang hilang, dia mengisi dengan sempurna latar belakang pagi yang telah tersedia untuknya. Saya menemukan karakter yang saya butuhkan dan saya dapatkan kembali aliran itu. Saya berpikir mungkin memang bukan saatnya lagi saya bercerita tentang kehidupan saya. saya akan bercerita tentang dia.</p>
<p>Sejak itu berdiri setiap pagi di sudut jendela setiap pagi sambil menyesap kopi menjadi rutinitas baru saya. Karakter kesayangan saya itu selalu muncul dengan setia bersama segala ceritanya. Hari ini dia muncul dengan gembira, maka saya menulis sebuah kisah penuh energi yang bersemangat. Hari berikutnya dia muncul dengan kesedihan, maka sayapun menulis tentang patah hati yang menyakitkan. Lain waktu dia muncul dengan kebahagiaan dan sikap yang berbunga-bunga, maka saya menuliskan sebuah kisah romantis yang berbunga-bunga. Saat dia muncul dengan keseriusannya, maka saya menulis tentang sebuah impian dan kedewasaan.</p>
<p>Sudah sepantasnya saya berterima kasih dengan karakter kesayangan saya itu. Selama ini saya tidak pernah menyapa dan berkenalan dengannya. Lama kelamaan saya merasa seperti seorang pengintai dan pencuri atas irama kehidupan orang lain. Maka hari ini saya memutuskan untuk menyapanya. Saya ingin menampakkan diri sekaligus memperkenalkan diri. Saya tahu mungkin ini terlambat. Mungkin dia akan terkejut saat saya katakan dialah sumber inspirasi saya yang hilang. Mungkin dia akan tersanjung, tertawa geli atau bahkan tersinggung atas pelanggaran privasi yang telah saya lakukan. Tapi saya seorang gentlemen. Saya harus memunculkan diri dan mempertanggungjawabkan apa yang sudah saya ambil darinya. Maka saya putuskan untuk menunggunya.</p>
<p>Dia muncul dari sudut jalan dengan gaya kasualnya seperti biasa. Baru kali ini saya mendapatkan diri saya memperhatikannya dengan lebih intens. Saya baru menyadari wajahnya yang menarik. Tubuhnya kurus dengan gaya santai yang enak dilihat mata. Saya tersadar dia memiliki daya tarik yang tidak kecil. Mungkin itulah yang membuat pikiran saya terfokus padanya saat itu. Entah kenapa saya merasa wajah saya memanas. Mendadak saya merasa ragu. Apakah saya harus menyapanya? Apakah saya harus berkenalan dengannya? Bagaimana kalau dia menolak? Tapi saya benar-benar harus menampakkan diri. Maka saya tidak mau berpikir lagi. Saya berlari menuruni tangga kamar rumah saya menuju jalan.</p>
<p><em>Selamat pagi</em>, sapa saya.</p>
<p>Dia menoleh dan tersenyum. Saya tahu dia merasa asing dengan kehadiran saya. Saya juga tahu dia sedang mencoba bersikap ramah pada saya. Entah kenapa hal itu membuat saya merasa tersanjung.</p>
<p><em>Apa saya kenal anda?</em></p>
<p>Dia bertanya dan saya menggeleng.</p>
<p><em>Tapi saya sering melihat kamu dari jendela kamar saya setiap pagi. Saya Dika,</em> kata saya lagi.</p>
<p>Dia tertawa dengan nada santai yang terdengar indah di telinga saya.</p>
<p><em>Saya Christ. Wah, saya pasti merusak pemandangan pagi anda, ya?</em> tanyanya.</p>
<p>Tidak, tukas saya serta-merta. Kamu sumber inspirasi saya.</p>
<p>Dia mengerutkan dahi dengan heran. Namun sebuah bus sudah berhenti di dekat kami. Saya tahu itu bus yang ditunggunya.</p>
<p><em>Maksud anda?</em></p>
<p>Saya tersenyum.</p>
<p><em>Busmu sudah datang. Saya tinggal di seberang. Mampirlah kapan-kapan kalau mau</em>, tawar saya ramah.</p>
<p>Dia tercengang. Mulutnya terbuka seolah ingin mengucapkan sesuatu. Namun dia segera tersadar ketika melihat busnya mulai bergerak pergi. Saya tersenyum memandangnya. Akhirnya saya sudah menyapanya. Saya merasa kehangatan merayapi hati saya. Bunga-bunga itu seperti bersemi dan menebarkan aroma harusmnya yang abadi. Saya tahu apa yang akan saya tulis hari ini.</p>
<p>Saya akan menulis tentang cinta.</p>
<p>Tapi bukan tentang dia.</p>
<p>Kali ini kembali tentang saya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritayosi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritayosi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritayosi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritayosi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritayosi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritayosi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritayosi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritayosi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritayosi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritayosi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritayosi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritayosi.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritayosi.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritayosi.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritayosi.wordpress.com&amp;blog=10826468&amp;post=11&amp;subd=ceritayosi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritayosi.wordpress.com/2009/12/06/inspirasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2ceccd319d816b975f798a40b86db172?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ceritayosi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ceritayosi.files.wordpress.com/2009/12/looking-for-someone.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">looking for someone</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
